5 Faktor Umum Pemicu Bunuh Diri yang Berasal dari Kesehatan Mental
2017 / Desember / 19   11:06

5 Faktor Umum Pemicu Bunuh Diri yang Berasal dari Kesehatan Mental

Setelah kasus bunuh diri Chester Bennington, vokalis Linkin Park, dunia musik kembali dikejutkan dengan kasus bunuh diri Jonghyun, anggota boyband SHINee.

5 Faktor Umum Pemicu Bunuh Diri yang Berasal dari Kesehatan MentalIlustrasi. (Thinkstockphoto)

Setelah Juli lalu dunia musik dikejutkan dengan kabar meninggalnya Chester Bennington, "pentolan" band rock Linkin Park, karena bunuh diri, kali ini publik kembali dikejutkan dengan kasus serupa. Salah satu anggota grup vokal asal Korea, SHINee, ditemukan tak bernyawa pada Senin (18/12/2017) sore waktu Korea.

Jonghyun, penyanyi kelahiran 8 April 1990 ini diduga mengakhiri hidupnya dengan cara meracuni diri dengan menghirup karbon monoksida yang dihasilkan dari pembakaran briket batubara di wajan.

Walaupun belum ada pernyataan resmi dari agensi yang menaungi SHINee, SM Enternainment, namun pelaporan kakak Jonghyun kepada polisi Gangnam dapat menjadi informasi bagaimana Jonghyun mengakhiri hidupnya.

"Pada 18 Desember pukul 16:42, kakak Jonghyun melapor ke polisi bahwa adiknya hendak bunuh diri", ungkap polisi Gangnam. "Kami ke kediaman Jonghyun di Chungdam dan menemukan dia berusaha mengakhiri hidupnya dengan menyalakan briket batubara di wajan", tambah polisi tersebut.

Unggahan terakhir Jonghyun pada ...Unggahan terakhir Jonghyun pada akun Instagram miliknya berupa tangkapan gambar layar lirik lagi "beside you" milik grup Dear Cloud. "Aku berpikir saat meringkuk sendirian di kamar yang gelap. Saat kamu mungkin menyesal telah melepas semua orang. Menghela napas dan luka yang tak pernah sembuh itu sudah berhenti," demikian arti lagu itu seperti dilansir Koreaboo. "Saya hanya berdoa engkau tidak terluka. Saya berharap engkau bahagia." "Please, jangan mencoba sendirian di kegelapan. Jangan menyiksa diri. Jangan menyiksa dirimu. Please," bunyi lagu itu. (Instagram/Jonghyun.948)

Kematian Jonghyun menambah panjang daftar musisi yang meninggal dunia akibat bunuh diri. 

Bunuh diri telah menjadi sebuah fenomena menyedihkan yang terjadi di seluruh dunia. Data World Health Organization (WHO) menunjukkan, sekitar 800.000 orang tewas akibat bunuh diri setiap tahunnya. Jumlah ini belum termasuk kasus-kasus percobaan bunuh diri.

Ada beragam faktor yang bisa memicu  seseorang untuk bunuh diri, seperti masalah ekonomi, konflik dengan keluarga, ditolak dalam pergaulan, masalah percintaan, pernah mengalami pelecehan seksual, menjadi korban perundungan (bullying), hingga motif terorisme.

Di luar hal-hal tersebut, hasrat ingin bunuh diri juga kerap kali berhubungan dengan kondisi kesehatan mental seseorang. Dikutip dari Alodokter, berikut ini beberapa kondisi kesehatan mental yang bisa memicu seseorang untuk melakukan bunuh diri:

Gangguan bipolar

Orang yang memiliki gangguan bipolar memiliki risiko 20 kali lebih tinggi untuk melakukan percobaan bunuh diri dibandingkan dengan orang yang tidak mengidap bipolar. Penderita gangguan bipolar kerap mengalami perubahan suasana hati yang sangat drastis dalam kurun waktu yang sempit.

Mereka bisa merasa sangat gembira dan bersemangat, kemudian mendadak berubah menjadi sedih, kehilangan semangat dan bahkan depresi.

(Baca juga: Kenali Perubahan "Mood" Karena Bipolar)

Depresi berat

Ciri-ciri umum pada orang yang mengalami depresi berat adalah adanya perasaan putus asa, suasana hati yang buruk, merasa lelah, atau kehilangan minat dan motivasi. Ciri-ciri semacam ini dapat memberi dampak buruk bagi kehidupan orang tersebut secara menyeluruh. Pada akhirnya memicu mereka untuk lebih mungkin mencoba untuk bunuh diri. 

(Baca juga: Pemicu Utama Bunuh Diri adalah Depresi, Kenali Gejalanya!)

Gangguan kepribadian

Gangguan kepribadian merupakan suatu kondisi yang menyebabkan penderitanya memiliki pola pikir dan perilaku yang tidak sehat dan berbeda dari rata-rata orang biasanya. Kondisi ini bisa membuat penderitanya sulit untuk merasakan, memahami, atau berinteraksi dengan orang lain. Gangguan kepribadian disebabkan oleh kombinasi dari situasi-situasi atau latar belakang kehidupan yang tidak menyenangkan dengan gen yang membentuk emosi seseorang yang diwariskan dari orang tuanya.

(Baca juga: Kenali Ciri Orang yang Memiliki Kepribadian Ganda)

Skizofrenia

Skizofrenia adalah gangguan serius yang mempengaruhi bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bertindak. Individu dengan kondisi ini sering mengalami kesulitan membedakan realitas dari delusi mereka. Akibatnya, mereka seringkali menjadi penyendiri dan mengalami kesulitan bergaul dengan orang lain serta sulit berurusan dengan situasi sosial. Diperkirakan, 1 dari 20 orang dengan skizofrenia akan mencoba untuk bunuh diri.

(Baca juga: 5 Subtipe Skizofrenia yang Harus Anda Kenali)

Anoreksia nervosa

Menjauhi makanan sebisa mungkin dan selalu berbohong bahwa mereka tidak lapar atau sudah makan. Itulah tanda-tanda pengidap anoreksia.

Kalangan ini merasa dirinya gemuk sehingga membuat mereka terus-menerus menurunkan berat badan. Diperkirakan 20 persen pengidap anoreksia akan melakukan percobaan bunuh diri setidaknya sekali selama hidupnya.

JonghyunJonghyun (Instagram/Jonghyun.948)

Kesadaran akan kesehatan mental

Data Riset Kesehatan Dasar menyebutkan, pada tahun 2013 terdapat 56.000 penderita yang dipasung karena stigma negatif, kurangnya informasi, dan buruknya fasilitas penanganan terhadap orang yang menderita gangguan kejiwaan.

Data Riset Kesehatan Dasar juga mencatat bahwa pada tahun 2007 terdapat sekitar 1 juta orang yang mengalami gangguan jiwa berat dan 19 juta orang yang mengalami gangguan jiwa ringan hingga sedang, dengan jumlah yang terus meningkat secara signifikan.

“Angka-angka tersebut sebenarnya hanyalah puncak gunung es yang menyimpan potensi bahaya laten lain yang lebih besar. Intinya, isu kesehatan mental apabila terus menerus terpinggirkan akan berpengaruh buruk bagi negara”, terang peneliti bidang Psikologi Klinis dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Putra Wiramuda dalam diskusi mengenai kesadaran masyarakat akan kesehatan mental di Indonesia, pada Senin (24/7).

Menurut Putra, WHO secara tegas menyatakan bahwa pembangunan kesehatan fisik dan mental harus dilakukan secara berimbang dan menjadi kewajiban yang harus ditanggung bersama oleh pemerintah dan masyarakat.

“Dengan demikian terdapat kesenjangan antara cita-cita kesehatan yang diinginkan WHO dengan apa yang terjadi di negara yang sedang berkembang, khususnya Indonesia. Berdasarkan kenyataan tersebut sudah sepatutnya masyarakat untuk lebih aware akan pentingnya kesehatan mental,” papar Putra.

Lebih lanjut, Putra memiliki beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kesadaran kesehatan mental:

  • mengurangi stigma negatif terhadap orang yang mengalami gangguan kesehatan mental serta memberikan perhatian dan penanganan yang layak
  • lebih peka terhadap orang disekitar kita yang terlihat memiliki beberapa gejala yang mengarah pada gangguan mental
  • sediakan waktu untuk mendengarkan dan mengajak orang tersebut untuk berkonsultasi ke psikolog sebagai langkah awal penanganan
  • kesadaran bahwa kondisi gangguan mental sama pentingnya dengan kondisi gangguan fisik perlu ditingkatkan
  • penyediaan fasilitas dan kualitas penanganan bagi penderita gangguan kesehatan mental
Digital editor National Geographic Indonesia. Penggila fotografi, terutama fotografi hitam-putih. Galeri pribadi: www.bhismaadinaya.com

KOMENTAR