Ternyata Kurang Tidur Miliki Efek yang Sama dengan Konsumsi Alkohol
2017 / November / 9   14:30

Ternyata Kurang Tidur Miliki Efek yang Sama dengan Konsumsi Alkohol

Kurang tidur ternyata tak hanya bisa menurunkan konsentrasi saat bekerja, tetapi ini juga dapat berpengaruh pada melemahnya komunikasi antar neuron pada otak.

Ternyata Kurang Tidur Miliki Efek yang Sama dengan Konsumsi Alkohol ((WeAre/Shutterstock))

Kurang tidur tak hanya bisa menurunkan konsentrasi saat bekerja, tetapi ini juga berpengaruh pada melemahnya komunikasi antar neuron di otak

Melemahnya jaringan sinyal otak bisa menyebabkan adanya penyimpangan dalam memori serta masalah berkonsentrasi.  Par ilmuan menyatakan dan dalam beberapa hal  kurang tidur bisa memliki efek yang sama dengan mabuk.

"Kami menemukan bahwa kurangnya tubuh untuk tidur juga merampas kemampuan neuron untuk berfungsi dengan baik," kata pemimpin peneliti Itzhak Fried, dari University of California di Los Angeles (UCLA). "Ini menyebabkan ternjadinya penyimpangan kognitif dalam bagaimana kita memandang dan bereaksi terhadap dunia di sekitar kita."

Fried dan rekan-rekannya mencoba mempelajari 12 pasien yang bersiap untuk menjalani operasi epilepsi, yang berarti otak mereka telah dilengkapi dengan elektroda untuk mencoba dan mendeteksi lokasi kejang sebelum operasi dilakukan.

Setiap relawan diminta untuk mengkategorikan serangkaian gambar secepat mungkin, sementara para peneliti akan mengukur penembakan neuron di dalam otak. Secara keseluruhan, terdapat hampir 1.500 aktivitas sel otak tercatat pada  12 peserta tersebut.

Baca juga: Tidurlah Menghadap Kiri untuk Kesehatan yang Lebih Baik

Peneliti memberikan perhatian khusus diberikan pada neuron di lobus temporal, di mana persepsi visual dan memori visual dikelola.

Studi tersebut menemukan bahwa saat pasien semakin lelah, aktivitas penembakan neuron melambat dan kehilangan kekuatan.

"Kami terpesona saat mengamati betapa kurang tidurnya aktivitas sel otak yang terbasmi," kata Yuval Nir, salah seorang peneiti dari Tel Aviv University  di Israel. "Tidak seperti reaksi pada umumnya, neuron ini merespons dengan perlahan dan melepaskan tembakan yang lebih lemah. kemudian transmisi sel-sel tersebut berlangsung lebih lama dari biasanya."

pengamatan tersebut menyiratkan bahwa kurang tidur dapat mengganggu kemampuan neuron dalam  menerjemahkan apa yang dilihatnya untuk menjadi pemikiran yang koheren. Hal ini sama dengan ketika seorang sopir yang lelah membutuhkan waktu untuk bereaksi terhadap pejalan kaki yang melangkah ke jalan.

Disamping melemahnya respon neuron di otak, peneliti juga melihat adanya gelombang yang terlihat seperti tidur yang mengganggu bagian otak. Ada area tertentu yang telihat hampir seperti tertidur dan menyebabkan terjadina penyimpangan pada konsentrasi mental, sementara bagian otak lainnya terus berjalan seperti biasa.

Peneliti mengatakan bahwa patokan pada 12 sampel itu saja masih terlalu sedikit. Para peneliti berusaha untuk lebih berhati-hati dalam melakukan ekstrapolasi hasil penelitian tersebut di populasi yang lebih luas hingga mereka  memiliki lebih banyak data untuk dilihat.

Baca juga: Jumlah Jam Tidur Berpengaruh Pada Kuantitas dan Kualitas Sperma

Namun, adanya hubungan antara kelelahan dan kecelakaan lalu lintas bukanlah hal yang baru: diperkirakan ratusan kematian dan ribuan luka yang terjadi setiap tahun di AS saja disebabkan oleh pengendara yang tertidur di jalan dan tidak dapat bereaksi cukup cepat.

Studi baru ini juga memberi  gambaran rinci tentang bagaimana kekurangan tidur dapat mempengaruhi otak - setidaknya berdasarkan sampel 12 orang dengan epilepsi itu- , dalam tugas khusus ini.

Dan siapa pun yang pernah bagadang pasti akan tahu tentang bagaimana hal itu dapat membuat sulit untuk berkonsentrasi, dan menyebabkan adanya sejenis kabut di otak. Rupanya itu karena kinerja neuron telah menurun.

Para peneliti mengatakan bahwa dalam beberapa hal, kurangnya tidur sama halnya dengan mabuk saat mengemudi. Hal ini terjadi Karena pengambilan keputusan yang dapat terganggu .

"Kelelahan yang parah dapat memberi pengaruh yang sama pada otak seperti orang yang minum alcohol terlalu banyak," jelas Fried. "Namun, tidak ada standar hukum atau medis untuk mengidentifikasi pengemudi yang berlomba di jalan dengan cara yang sama seperti kami menargetkan pengemudi mabuk."

(Citra Anastasia. Sumber: ScienceAlert)

KOMENTAR