Pelajaran Berharga yang Bisa Kita Petik dari Kerajaan Sriwijaya
2017 / November / 8   14:00

Pelajaran Berharga yang Bisa Kita Petik dari Kerajaan Sriwijaya

Masyarakat di era Kerajaan Sriwijaya dikenal memiliki toleransi beragama yang tinggi, namun kerajaan tersebut akhirnya runtuh karena korupsi.

Pelajaran Berharga yang Bisa Kita Petik dari Kerajaan SriwijayaPenjelasan sistem pajak di Kerajaan Sriwijaya (Natalia Mandiriani)

Tiongkok disebut memiliki Jalur Sutra yang mendorong sektor perdagangannya di masa lalu. Dari jalur itu, Menurut Agus Widiatmoko, arkeolog yang mendalami Kerajaan Sriwijaya, saudagar Tiongkok membawa sutra untuk dijual dan mereka membeli rempah-rempah.

Dari perdagangan rempah-rempah, membawa dampak bagi keanekaragaman kepercayaan di Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan yang berlokasi di Pulau Sumatra ini, terkenal sebagai pusat pengajaran agama Budha. Tapi, tidak menutup kemungkinan terhadap masuknya agama Hindu, Islam dan Katolik dari Eropa.

Secara sistem keagamaan, Kerajaan Sriwijaya disebut memiliki tingkat toleransi yang tinggi dengan adanya perbedaan. Justru, korupsi yang meruntuhkan kerajaan yang berdiri selama 600 tahun ini.

Baca juga: Kilas Balik Maritim Nusantara

Sistem pajak pun telah berjalan pada masa itu. “Penguasa Sriwijaya meminta 20.000 dinar sebelum memberikan izin kepada kapal dagang Arab atau Persia untuk melanjutkan pelayaran ke Tiongkok”, tulis Buzurg Bin Shahriyar Al-Ramhurmuzi dalam Jurnal Pelayarannya: Aja’ib Al-Hind. Buzurg adalah seorang muslim yang membukukan kisah pelayaran dari para saudagar muslim.

Sistem politik dari Kerajaan Sriwijaya yaitu mendatangkan dan membagi-bagikan kembali rezeki. Oleh karenanya, memungkinkan Sriwijaya untuk bertahan selama lebih dari lima abad menurut pernyataan Herman Kulke, seorang ahli sejarah untuk Asia Tenggara dan Selatan yang berasal dari Jerman.

Replika biksu yang sedang ...Replika biksu yang sedang belajar di Kerajaan Sriwijaya. (Natalia Mandiriani)

Bambang Budi Utomo, seorang arkeolog, mengamati adanya korupsi menyebabkan sistem membagi-bagikan rezeki itu rusak. O. W. Wolters dalam bukunya The Fall of Sriwijaya menyebut soal korupsi itu sebagai tanda-tanda pembusukan di dalam kedatuan. Kedatuan adalah sebutan sistem monarki pemimpin dengan sebutan datu.

Baca juga: Natuna adalah Pelabuhan Transit pada Era Sriwijaya

Peninggalan ilmu, artefak, dan kekayaan rempah dari masa lalu dapat dilihat di pameran "Kedatuan Sriwijaya, The Great Maritime Empire" bertempat di Museum Nasional. Pameran yang berlangsung sejak 4 November hingga 28 November 2017  ini memamerkan peradaban seribu tahun yang lalu.

Kejayaan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim dapat dicontoh oleh Indonesia demikian pula kehidupan toleransi antar agama. Tapi, Indonesia perlu turut berkaca pula dari sebuah kerajaan besar yang runtuh karena korupsi.

(Melina Ikwan)

KOMENTAR