Myopia Boom, Meningkatnya Populasi Anak Pengidap Rabun Jauh

Myopia Boom, Meningkatnya Populasi Anak Pengidap Rabun Jauh

Salah satu faktor utama yang membuat The Myopia Boom semakin melesat naik adalah gaya hidup anak.

Myopia Boom, Meningkatnya Populasi Anak Pengidap Rabun JauhIlustrasi (Thinkstock)

Dari penelitian Doni Widyandana tentang penyakit mata pada anak, ada dua gangguan terbesar yang dialami anak, yaitu gangguan refraksi di mana anak harus mengguankan kacamata dan kelainan lensa mata atau katarak.

Untuk dua kelainan mata ini, penyebabnya bermacam-macam. Mulai dari faktor keturunan, kejadian baru, dan juga infeksi.

Doni yang baru saja mendapat penghargaan Orbis Medal untuk penelitiannya di The European Society of Catarat and Refractive Surgeons (ESCRS), Lisbon, Portugal itu menyebutkan bahwa jika orang tua memiliki riwayat kecacatan pada mata, hal itu dapat menurun ke anaknya.

Namun, tidak menutup kemungkinan jika mata orang tua normal, anaknya mengalami kondisi kelainan pada mata.

(Baca juga: Tahun 2050, Setengah Populasi Dunia Diprediksi Menderita Rabun jauh)

"Infeksi biasanya terjadi pada kelainan lensa, katarak. Kebanyakan karena virus rubella TORCH (Toxoplasa, Rubella, Cytomegalovarius, and Herpes implex Virus) atau virus kucing, itu tetap banyak," kata Doni.

Dia mengungkapkan, semua persoalan kelainan pada mata dicegah sejak ibu mengandung.

"Perlu dicatat, 80 persen penyakit itu dapat dicegah. Jadi, angka (kasus kelainan pada anak dengan angka tertinggi yakni refraksi dan katarak, red) itu dapat ditekan 80 persen dengan pencegahan," tegas Doni.

Riset menunjukkan adanya Myopia Boom, meningkatkan populasi anak yang mengalami rabun jauh.

Salah satu faktor utama yang makin membuat The Myopia Boom melesat naik adalah gaya hidup anak. Dalam satu dekade belakangan, anak-anak cenderung menghabiskan waktu dengan menatap layar monitor terlalu lama.

"Kalau seperti itu, mereka cenderung melihat dekat terlalu sering, apalagi sambil tiduran. Atau berjam-jam melihat televisi. Faktor radiasi dan kebiasaan melihat dekat itu yang merusak mata," jelas Doni.

Hal semacam ini, sebenarnya ada batasannya. Dia mengungkapkan, melihat dekat boleh, tapi maksimal hanya satu jam. Jika memang harus melanjutkan pekerjaan, seharusnya ada waktu untuk mata beristirahat.

"Misalnya satu jam melihat dekat, suruhlah anak bermain di luar, agar bisa melihat jauh. Itu batasannya enam meter ke atas dan ke depan. Paling tidak selama 15 menit," papar dia.

Hal tersebut juga berlaku untuk anak sekolah. Jika dalam satu mata pelajaran berdurasi 50 menit, setidaknya ada waktu 10 menit untuk mata beristirahat melihat jauh. "Yang sehat seperti itu," sambungnya.

(Baca juga: Main di Luar Ruangan Bisa Cegah Rabun pada Anak)

The Myopia Boom menjadi permasalahan serius. Negara-negara seperti di China, Taiwan, dan Jepang, hampir 95% anak-anak menggunakan kacamata minus. Hal itu terutama karena kebiasaan melihat dekat.

"Dari penelitian ini, harapan kita masyarakat lebih pandai dan lebih sadar, khususnya kesehatan mata anak harus diperhatikan," tegasnya.

Orangtua tanggap

Salah satu hal yang sebaiknya dilakukan orang tua, adalah mengamati aktivitas anaknya. Jika anak sudah mulai memicingkan mata untuk melihat kejauhan, atau harus mendekat untuk melihat sebuah obyek, hal itu patut untuk dicurigai.

"Biasanya anak yang terbiasa melihat dekat akan nyaman dengan membaca, karena dia rabun jauh, aktivitas paling nyaman yang dipilih adalah melihat dekat seperti membaca. Orang tua harus curiga, sehingga perlu dilakukan screening," jelas Doni.

"Kalau bisa sekolah juga memrogramkan setidaknya setahun sekali kerjasama dengan petugas kesehatan untuk mengecek mata anak," sambungnya.

Dia mnegungkapkan, kerusakan mata pada anak, jika tidak ditanggapi dengan serius maka akan timbul hal yang lebih buruk. Masalah itu adalah Amblyopia atau mata malas. Ini merupakan kondisi kelainan pada salah satu mata anak.

"Mata satunya masih bagus, dia pakai satu mata yang bagus tadi terus, yang satunya lagi tidak dipakai. Jadi mata malas. Walaupun dikasih kacamata, itu tidak akan bisa normal lagi," ujarnya.

Kondisi mata malas, adalah seseorang tetap dapat melihat namun tidak dapat melihat tiga dimensi (jarak dan kedalaman, red). Penglihatan seseorang hanya dua dimensi, pengaruh dari stereoscopy-nya berkurang.

"Kita harus sadar pada anak-anak, masa depan masih panjang, mereka generasi penerus bangsa. Kalau dibiarkan, generasi mendatang ambruk. karena mata menginput 80 persen informasi ke seseorang," tutupnya.

Artikel ini pernah tayang di Kompas.com dengan judul Myopia Boom, Kenapa Banyak Anak Zaman Sekarang Berkacamata?

(Gloria Setyvani Putri/Kompas.com)

KOMENTAR