Mengapa Kita Sangat Bergantung Kepada Handphone?

Mengapa Kita Sangat Bergantung Kepada Handphone?

Sekitar 60 persen pengguna ponsel mengalami nomophobia, yakni rasa takut berpisah dengan telepon seluler yang dimiliki. Apa penyebabnya?

Mengapa Kita Sangat Bergantung Kepada Handphone?Jejak molekuler pada smartphone bisa mengungkap gaya hidup penggunanya (DragonImages/Thinkstock)

Banyak orang merasa cemas jika berjauhan dengan telepon genggamnya. Sekitar 60 persen pengguna ponsel mengalami nomophobia, yang merupakan kombinasi dari kata "no", "mobile" dan, "phobia". Jika digabungkan, nomophobia berarti ketakutan berpisah dengan telepon seluler (ponsel) yang dimiliki.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya mungkin berasal dari bagaimana kita bergantung kepada orang lain sejak lahir.

(Baca juga: Apakah Anda Termasuk Nomophobia?)

Puluhan tahun yang lalu, John Bowlby menyatakan, manusia lahir dengan dorongan untuk mempertahankan hubungan dekat atau keterikatan pada orang lain. Keterikatan dengan pengasuh utama (orangtua atau mereka yang merawat kita) membuat kita bisa beradaptasi dan bertahan hidup di masa kecil. Manusia berfungsi dengan lebih baik ketika orang lain memberikan kita rasa kedekatan dan keamanan.

Apabila tidak memiliki sosok yang bisa diandalkan, manusia cenderung mencari substitusinya yang bisa memenuhi target keterikatan (misal: mainan, hewan, dan barang lainnya). Atau, dalam kasus ini: ponsel. Absennya rasa keterikatan dan ketergantungan dari manusia di dunia nyata membuat kita menjadikan ponsel sebagai pengganti.

Mengapa bergantung pada ponsel?

Terlepas dari kenyataan bahwa hampir semua orang di dunia ini menggunakan ponsel, ada dua alasan mengapa kita sangat melekat dengan gadget ini.

Pertama, ponsel memungkinkan kita untuk melakukan kontak dengan orang lain melalui pesan singkat dan media sosial. Di sini, ponsel memiliki fungsi "memfasilitasi hubungan". Ia menyediakan saluran untuk berhubungan dengan figur ketergantungan seperti teman dan keluarga.

Kedua, ponsel bisa menyimpan foto, link situs dan informasi pribadi lainnya. Bahkan, bisa menggambarkan kepribadian melaui ringtone dan wallpaper yang dipilih sesuai keinginan kita. Cara ponsel dapat dipersonalisasi ini meningkatkan nilainya sebagai objek keterikatan dan berperan sebagai "pengganti manusia".

Penelitian

Veronika Konok dan timnya menginvestigasi beberapa aspek dari ketergantungan ponsel. Lebih spesifik, ingin melihat apakah kita bergantung kepada ponsel karena fungsi "memfasilitasi hubungan" atau "pengganti manusia" tadi. Mereka mengumpulkan 142 partisipan berusia 19 hingga 25 tahun -- yang merupakan bagian dari generasi yang tumbuh dengan peningkatan penggunaan ponsel.

(Baca juga: Gadget: Sebagai Kebutuhan atau Lifestyle?)

Penelitian tersebut menunjukkan fakta bahwa anak-anak muda memang sudah sangat bergantung pada ponsel mereka. Para partisipan dilaporkan sering menjaga ponselnya agar tetap dekat dengan mereka dan merasa sedih apabila berjauhan. Jenis ketergantungan ini menunjukkan bahwa ponsel bertindak sebagai "pengganti manusia".

Sementara, bagi partisipan yang memiliki rasa cemas akan perpisahan, bergantung pada ponsel karena fungsi "memfasilitasi hubungan". Mereka menjaga ponselnya tetap dekat, agar selalu bisa berhubungan dengan orang lain. Terutama untuk media sosial.

(Gita Laras Widyaningrum/psychologytoday.com)

KOMENTAR