Lubang Ozon di Antartika Mencapai Ukuran Terkecilnya Sejak 1988
2017 / November / 7   11:20

Lubang Ozon di Antartika Mencapai Ukuran Terkecilnya Sejak 1988

Meski lubang ozon di atas Antartika mengecil dalam dua tahun terakhir, namun hal tersebut bukanlah tanda pemulihan yang permanen. Apa yang sebenarnya terjadi?

Lubang Ozon di Antartika Mencapai Ukuran Terkecilnya Sejak 1988Pengukuran dari satelit tahun ini menunjukkan lubang di lapisan ozon Bumi yang membentang di atas Antartika mencapai ukuran terkecilnya sejak 1988. (NASA, NOAA)

Pengukuran dari satelit tahun ini menunjukkan lubang di lapisan ozon Bumi yang membentang di atas Antartika mencapai ukuran terkecilnya sejak 1988. Fakta tersebut diumumkan oleh para ilmuwan dari NASA dan NOAA pada Kamis, 2 November 2017.

Menurut NASA, lubang ozon tersebut mencapai puncaknya pada 11 September lalu, yang mencakup wilayah seluas 7,6 juta mil persegi atau setara sekitar dua setengah kali ukuran Amerika Serikat. Luas itu kemudian menurun sepanjang sisa September dan Oktober. NOAA dan NASA berkolaborasi untuk memantau pertumbuhan dan pemulihan lubang ozon setiap tahunnya.

Baca juga: Lapisan Ozon Menipis Timbulkan Kanker Kulit Pada Ikan

"Lubang ozon Antartika sangat lemah tahun ini," kata Paul A. Newman, Kepala Ilmuwan di Earth Sciences di Goddard Space Flight Center NASA di Greenbelt, Maryland. Ia menambahkan, bahwa hal ini sudah semestinya terjadi mengingat kondisi cuaca di stratosfer Antartika.

Lubang ozon yang lebih kecil pada tahun 2017 sangat dipengaruhi oleh pusaran Antartika yang tidak stabil dan hangat. Kondisi ini membantu meminimalkan pembentukan awan stratosfer polar di stratosfer bawah. Para peneliti mengatakan, pembentukan dan keberadaan awan ini merupakan pemicu reaksi katalisasi klorin dan bromin yang dapat menghancurkan ozon. 

Baca juga: Kerusakan Ozon Turunkan Produktivitas Pekerja

Tahun 2016, suhu stratosfer yang lebih hangat juga menghambat pertumbuhan lubang ozon. Tahun lalu, lubang ozon mencapai titik maksimumnya pada angka 8,9 juta mil persegi, 2 juta mil persegi lebih kecil dibanding tahun 2015.

Meskipin kondisi cuaca stratosfer yang lebih hangat dari rata-rata telah mengurangi penipisan ozon selama dua tahun terakhir, namun area lubang ozon saat ini masih cukup besar. Sebab, kadar zat perusak ozon seperti klorin dan bromin tetap cukup tinggi untuk menyebabkan kehilangan ozon yang signifikan. 

Para ilmuwan mengatakan, tingkat lubang ozon yang lebih kecil pada tahun 2016 dan 2017 disebabkan oleh variabilitas alami dan bukanlah tanda pemulihan pesat yang sebenarnya. 

Baca juga: Laut yang Menghangat Membuat Nemo Makin Sulit Ditemukan

Pertama kali terdeteksi pada tahun 1985, lubang ozon Antartika terbentuk pada musim dingin di belahan bumi bagian selatan, ketika pantulan sinar matahari mengkatalisis reaksi yang melibatkan bentuk aktif kimia klorin dan bromin buatan manusiaReaksi ini menghancurkan molekul-molekul ozon.

Tiga puluh tahun yang lalu, masyarakat internasional menandatangani Protokol Montreal tentang Zat yang Merusak Lapisan Ozon dan mulai mengatur senyawa perusak ozon. Lubang ozon di atas Antartika diharapkan berkurang secara bertahap karena chlorofluorocarbons (CFC)- senyawa sintetis yang mengandung klorin yang sering digunakan sebagai refrigeran - terus menurun.

Para ilmuwan mengharapkan lubang ozon Antartika pulih kembali seperti kondisi pada 1980 sekitar tahun 2070.

Baca juga: Gletser di Pegunungan Alpen Meleleh, Jasad Pasangan yang Hilang Selama 75 Tahun Ditemukan

Ozon adalah molekul yang terdiri dari tiga atom oksigen yang terjadi secara alami dalam jumlah kecil. Di stratosfer, kira-kira 7 sampai 25 mil di atas permukaan Bumi. 

Lapisan ozon bertindak seperti tabir surya, melindungi planet ini dari radiasi ultraviolet yang berpotensi membahayakan yang dapat menyebabkan kanker kulit dan katarak, menekan sistem kekebalan tubuh dan juga merusak tanaman.

Lebih dekat ke tanah, ozon juga bisa diciptakan oleh reaksi fotokimia antara matahari dan polusi dari emisi kendaraan dan sumber lainnya, yang menyebabkan kabut berbahaya.

(Lutfi Fauziah. Sumber: www.sciencedaily.com)

KOMENTAR