Lebih Cinta Anjing Peliharaan Ketimbang Teman Manusia? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Lebih Cinta Anjing Peliharaan Ketimbang Teman Manusia? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Ada penjelasan ilmiah di balik kecenderungan seseorang yang lebih memilih anjing ketimbang teman manusia.

Lebih Cinta Anjing Peliharaan Ketimbang Teman Manusia? Ini Penjelasan IlmiahnyaAnjing membuat lebih banyak mimik wajah saat seseorang memperhatikannya. Perilaku itu merupakan cara anjing untuk lebih komunikatif terhadap pemiliknya. (Chalabala/Thinkstock)

Sebagian pemilik anjing sangat menyayangi hewan peliharaan mereka dan memperlakukannya selayaknya anak sendiri. Bahkan terkadang, mereka lebih memilih anjing peliharaan ketimbang teman dan sanak saudara. 

Menurut riset terbaru, ada penjelasan ilmiah di balik kecenderungan seseorang yang lebih memilih anjing ketimbang teman manusia. 

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Society & Animals menemukan bahwa orang lebih berempati terhadap anjing daripada sesama manusia. 

Baca juga: Mengapa Kucing dan Anjing Suka Dielus di Bagian Kepala?

Dalam sebuah eksperimen, 240 pelajar disuguhi kliping koran palsu dari laporan polisi tentang serangan terhadap seseorang dan pada seekor anjing. 

Dalam laporan palsu tersebut, korban diserang dengan pemukul baseball oleh pelaku tak dikenal. Setelah diserang, korban ditinggalkan dalam keadaan tidak sadar dengan salah satu kaki patah dan beberapa luka.

Peserta masing-masing diberi laporan yang sama dengan korban bayi berusia satu tahun, seorang dewasa berusia 30 tahun, anak anjing, atau seekor anjing berusia enam tahun. Kemudian mereka diberi beberapa pertanyaan yang mengungkap tentang bagaimana perasaan mereka untuk mengukur tingkat empati.

Baca juga: Peta Genetika Ungkap Nenek Moyang Anjing Modern

Tim tersebut berhipotesis bahwa kerentanan para korban—yang ditentukan oleh usia, dan bukan spesies—akan menjadi faktor terpenting dalam tingkat kesedihan dan kekhawatiran peserta.

Sebenarnya, tingkat empati untuk anak anjing, anjing tua, dan bayi manusia berada pada tingkat yang sama, sementara orang dewasa berada di urutan terakhir. Anjing dewasa hanya menerima skor empati yang lebih rendah bila dibandingkan dengan korban jiwa bayi manusia.

"Subjek tidak melihat anjing mereka sebagai hewan, melainkan sebagai 'bayi berbulu', atau anggota keluarga di samping anak-anak manusia," simpul para peneliti. Hal ini menunjukkan bagaimana orang-orang menganggap bahwa hewan peliharaan sebagai bagian dari keluarga. 

Baca juga: Anjing Bisa Lakukan Tipu Muslihat pada Manusia

Bulan lalu, studi yang diterbitkan di jurnal Scientific Reports menemukan sebuah alasan mengapa kita begitu "lengket" dengan anjing peliharaan. Menurut tim peneliti, anjing menunjukan lebih banyak mimik wajah saat seseorang memberi perhatian pada mereka. 

Para peneliti menggunakan kamera video untuk merekam mimik wajah 24 anjing baik saat manusia menghadap ke arah hewan tersebut, atau mengalihkan pandangan, dan dengan atau tanpa camilan. 

Awalnya, para peneliti mengira bahwa ekspresi wajah muncul murni tanpa disadari, tetapi studi menemukan bahwa anjing mengangkat alis mereka dan bahkan membesarkan mata mereka ketika mencari perhatian dari seseorang. 

Baca juga: Berbahayakah Jilatan Pada Wajah Penyayang Anjing?

Kehadiran camilan tak memiliki dampak apa pun terhadap ekspresi yang dibuat anjing. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak membuat ekspresi menawan untuk mendapatkan camilan tambahan. 

Sebaliknya, para peneliti menyimpulkan bahwa perilaku tersebut bisa menjadi cara berkomunikasi antara pemilik dan hewan peliharaannya. 

"Penelitian ini mengungkapkan bahwa ekspresi wajah anjing hanya responsif terhadap manusia, dan tidak terhadap anjing lain," ujar Bridget Waller, profesor psikologi evolusioner di University Portsmouth, dan penulis utama studi kepada The Guardian

Baca juga: Apakah Anjing Memahami Arti Kematian?

"Itu menunjukkan kepada kita tentang bagaimana domestifikasi telah membentuk anjing dan mengubah mereka agar lebih komunikatif dengan manusia dalam artian tertentu," pungkasnya.

(Lutfi Fauziah. Sumber: businessinsider.com, sciencealert.com)

KOMENTAR