Lautan Ubur-Ubur yang Terdampar Ditemukan di Tepi Pantai
2017 / November / 2   22:34

Lautan Ubur-Ubur yang Terdampar Ditemukan di Tepi Pantai

Makhluk biru cerah ini sedang mengalami peningkatan populasi, membuat mereka bersama-sama "berjemur" di bebatuan tepi pantai.

Lautan Ubur-Ubur yang Terdampar Ditemukan di Tepi PantaiSekumpulan ubur-ubur dalam jumlah yang besar terdampar di bebatuan pantai. (National Geographic)

Gurita bukanlah satu-satunya makhluk laut yang secara aneh merangkak naik ke darat. Tak ingin “kalah” dari gurita, ubur-ubur juga dapat “berjemur” di bawah sinar matahari, sebelum tubuh mereka menguap.

Di New South Wales, Brett Wallensky bersama rekannya Claudia sedang berpose untuk dipotret dengan berlatar belakang birunya air laut. StoryTrender melaporkan, ketika mereka berdua sedang berjalan di sepanjang bebatuan di Barlings Beach, tampak beberapa ubur-ubur terbawa ombak ke bebatuan. Meskipun para ubur-ubur tersebut berwarna cerah dan seperti balon, Wallensky menyebutnya sebagai “mimpi buruk”.

Ubur-ubur itu memiliki racun yang mematikan. Bahkan, ubur-ubur mati yang terdampar di darat pun masih bisa menyengat.

Hewan ini tidak hidup di sekitar Amerika Serikat. Namun, spesies tersebut cukup mudah ditemukan di Australia. Musim panas silam, pengunjung pantai di suatu daerah di Australia melaporkan bahwa mereka diserang ubur-ubur. Hal yang menyebabkan kawanan binatang tersebut terdampar pun masih belum diketahui.

Ubur-ubur ini adalah siphonophores, yang berarti bahwa alih-alih menjadi satu makhluk tunggal, mereka adalah organisme kolonial yang terdiri dari "kebun binatang" individu yang masing-masing memiliki fungsinya sendiri.

Jumlah ubur-ubur sedang meningkat. Richard Brotz dari The University of British Columbia mengatakan kepada Mother Jones bahwa hal tersebut mungkin disebabkan oleh perubahan iklim, meskipun sulit untuk dijelaskan. Emisi memanaskan air dan menjadikannya habitat utama bagi makhluk-makhluk ini. Namun, "ada banyak suara dalam sinyal," kata Brotz.

(Citra Anastasia. Sumber: Elaina Zachos/National Geographic)

KOMENTAR