Kisah Unik Dibalik Foto Puffin yang Mengagumkan pada National Geographic Nature Photographer 2017
2017 / November / 9   19:01

Kisah Unik Dibalik Foto Puffin yang Mengagumkan pada National Geographic Nature Photographer 2017

Temukan kisah di balik foto National Geographic Nature Photographer 2017.

Kisah Unik Dibalik Foto Puffin yang Mengagumkan pada National Geographic Nature Photographer 2017Puffin Atlantik bisa menampung sejumlah besar ikan kecil di paruhnya yang luas. (Sunil Gopalan, National Geographic Your Shot)

"Saya lebih banyak memotret burung," ujar fotografer National Geographic Your Shot dan insinyur komputer, Sunil Gopalan. "Saya telah memotret dua spesies puffin lainnya (bertanduk dan berjambul) di Alaska, dan satu-satunya yang tersisa dalam daftar saya adalah puffin Atlantik."

Gopalan mengatakan, spesies puffin yan khas ini dapat ditemukan di kedua sisi Samudera Atlantik. Namun, ia ingin menemukan lokasi terpencil untuk memotretnya. Semakin sedikit orang, semakin lebih baik. Setelah melakukan penelitian, akhirnya ia menetap di pulau kecil Fair Isle di lepas pantai Shetland, Skotlandia utara.

Situs Shetland menyebut dirinya terkenal dengan "burung, pakaian rajut, dan bangkai kapal bersejarahnya." Fair Isle hanya bisa dicapai dengan kapal feri selama empat jam, atau sebuah pesawat kecil bermesin kembar.

Perjalanan Gopalan membawanya dari Amerika Serikat ke Midwestern, Glasgow, hingga Sumburgh, di mana dia naik pesawat kecil ke surga puffin-nya. Ketika cuaca normal memanjakannya untuk berdiam di pulau, satu pagi yang hujan justru memberi dia kesempatan untuk menangkap sesuatu yang sedikit berbeda. Kala itu, Gopalan ingin sarapan pagi, dan seekor puffin yang basah kuyup muncul dengan membawa makanannya.

Ikan-ikan menggantung dari ...Ikan-ikan menggantung dari paruh puffin Atlantik, yang akan diberikan kepada anak-anaknya. (Sunil Gopalan, National Geographic Your Shot)

Inilah saat yang tepat, pikirnya. Dia memotret momen demi momen. Hasilnya: potret menakjubkan yang menampilkan burung liar dengan limpahan ikan kecil di paruhnya, layaknya induk yang membawa hasil tangkapan untuk anak-anaknya yang kelaparan. Gopalan kemudian mengirimkan bidikan terbaiknya secara online dengan harapan menyandang 2017 National Geographic Nature Photographer of the Year.

Puffin Atlantik menghabiskan sebagian besar hidup mereka di laut, dan kembali ke darat hanya untuk mengembangbiakkan koloni selama musim semi dan musim panas. Paru puffin Atlantik tampak berwarna abu-abu kusam selama musim dingin, tetapi berubah menjadi oranye terang saat musim semi kembali. Perubahan ini dijuluki "burung beo laut".

Artikel terkait: 13 Potret Indah Tampilkan Momen Para Burung yang Menakjubkan

Ketika Gopalan mengunjungi Fair Isle pada bulan Juli, para induk puffin telah meletakkan telur mereka (biasanya satu per sarang) di atas tebing Atlantik yang berbatu-batu. Selama masa ini, para pasangan puffin bergantian memberi makan ikan kecil pada anak-anak mereka, dari tangkapan paruh mereka yang luas.

Dengan kaki layaknya kemudi, Puffin Atlantik yang gesit menerobos ke dalam air hingga kedalaman 200 kaki. Mereka biasanya berburu ikan kecil seperti herring atau belut pasir, dan kembali terbang ke sarang dengan kecepatan 400 kepakan per menitnya yang mencengangkan, yang bahkan dapat mencapai kecepatan hingga 55 mil per jam.

Puffin Atlantik dapat ditemukan ...Puffin Atlantik dapat ditemukan di kedua sisi Samudra Atlantik, seperti yang ada di Skotlandia utara. (Sunil Gopalan, National Geographic Your Shot)

Tantangan untuk memotret burung yang gesit seperti puffin Atlantik justru menjadikannya subjek favorit Gopalan. Hal itu juga mendorongnya untuk melakukan perjalanan sesering mungkin, mencoba menangkap spesies baru dari seluruh dunia.

Dia kemudian mengirimkan gambar favoritnya di Your Shot. Gopalan berkata, "National Geographic adalah standar emas bagi pecinta alam. Saya ingat pernah membaca salinan majalah lama dan membayangkan bagaimana rasanya pergi bertugas."

Gopalan mengatakan bahwa Your Shot adalah cara terbaik untuk terlibat dalam komunitas fotografi, dan dia dapat mempertahankan perusahaannya melalui interaksi dengan fotografer lain pada platform tersebut. "Itulah jenis inspirasi yang dibutuhkan setiap orang agar tetap melakukan yang lebih baik, dan kompetisi Nature Photographer adalah yang terbaik dari yang diharapkan," ujarnya.

(Citra Anastasia. Sumber: Austa Somvichian-Clausen/National Geographic)

KOMENTAR