Apa yang Menyebabkan Kawanan Paus Kerap Terdampar?
2017 / November / 21   20:31

Apa yang Menyebabkan Kawanan Paus Kerap Terdampar?

Mengapa hewan-hewan ini, yang amat menguasai seluk-beluk kehidupan di perairan, justru bergerak memasuki lingkungan daratan yang tidak ramah?

Apa yang Menyebabkan Kawanan Paus Kerap Terdampar?Informasi terbaru dari Whale Stranding Indonesia menyebutkan, seekor paus akhirnya tewas. (WWF-Indonesia)

Baru-baru ini, 10 ekor paus sperma terdampar di perairan kawasan Ujong Batee, Kabupaten Aceh Besar. Enam dari 10 paus itu berhasil diselamatkan, tetapi empat sisanya mati.

Sementara itu, awal tahun ini, 600 paus pilot terdampar di Selandia Baru. Sekitar 400 di antaranya mati sebelum para relawan bisa mengembalikan mereka ke laut.

Terdamparnya kawanan paus seperti ini telah terjadi sejak dimulainya catatan manusia, dan hingga sekarang masih terjadi secara reguler.

Pada penghujung 2015, misalnya, 337 paus sei mati di fjord di Cile. Pada Februari 2016, 29 paus sperma ditemukan terdampar di pantai di Jerman, Belanda, Inggris bagian timur, dan Prancis bagian utara, sebuah rekor untuk spesies ini di Laut Utara.

(Baca juga: 10 Paus Sperma Terdampar di Pantai Ujung Kareung, Aceh)

Mengapa hewan-hewan ini, yang amat menguasai seluk-beluk kehidupan di perairan, justru bergerak memasuki lingkungan daratan yang tidak ramah—sehingga berujung kematian?

Terdampar beramai-ramai terjadi pada hampir semua spesies paus di samudra. Paus pilot sirip panjang dan sirip pendek cenderung menjadi korban yang paling sering. Spesies lain misalnya paus pembunuh palsu, paus kepala melon, paus berparuh Cuvier dan paus sperma.

Mereka biasa hidup di kedalaman 1.000 meter lebih dan merupakan makhluk sosial. Mereka membentuk kelompok yang bisa terdiri dari ratusan ekor.

Spesies paus yang paling sering terdampar adalah mereka yang hidup di laut dalam, dan di lokasi yang sama, sehingga alam lebih berperan sebagai penyebab dibandingkan manusia. Paus kerap terdampar di area yang sangat dangkal, dengan lantai laut yang melandai perlahan dan sering kali berpasir.

Dengan situasi seperti itu, tidak heran jika hewan-hewan ini, yang terbiasa berenang di laut dalam, bisa kesulitan dan bahkan kembali terdampar bila mereka berhasil mengambang lagi.

(Baca juga: Mengapa Ukuran Paus Bisa Begitu Besar?)

Kemampuan ekolokasi yang mereka gunakan untuk membantu navigasi juga tidak berfungsi baik di lingkungan yang demikian. Jadi cukup mungkin bila mayoritas paus terdampar akibat kesalahan navigasi, misalnya ketika mereka memburu mangsa hingga ke daerah asing dan berbahaya.

Di bagian selatan Laut Utara, kawanan paus pernah tercatat terdampar setidaknya sejak tahun 1577.

Selain itu, terdampar secara massal tidak hanya disebabkan oleh tersesat atau kesalahan menentukan kedalaman air. Bisa saja ada satu ekor atau lebih paus yang memang sakit, dan ketika mereka makin lemah, mencari perairan yang lebih dangkal sehingga lebih mudah bernafas ke permukaan.

Namun ketika tubuh mereka beristirahat pada permukaan keras untuk waktu yang lama, rongga dada mereka akan tertekan dan organ-organ dalam mereka pun rusak.

Efek sonar

Terkadang, kegiatan manusia dapat menyebabkan paus terdampar, khususnya kegiatan militer yang melibatkan penggunaan sonar. Hubungan ini pertama kali diungkapkan pada 1996 setelah latihan militer NATO di lepas pantai Yunani berlangsung bersamaan dengan terdamparnya 12 paus berparuh Cuvier. Sayangnya, hewan-hewan ini tidak sempat diperiksa dokter hewan.

Pada Mei 2000, kasus paus terdampar terjadi di Bahama bersamaan dengan aktivitas angkatan laut (AL) yang menggunakan sonar serupa. Ditemukan perdarahan pada sejumlah paus yang diperiksa, khususnya di telinga bagian dalam. Ini menandakan adanya trauma akustik.

(Baca juga: Migrasi Paus Bungkuk yang Menakjubkan dalam Tayangan Video)

Setelah kejadian serupa di Kepulauan Canary pada September 2002, dokter hewan juga mengidentifikasi gejala penyakit dekompresi yang artinya paus-paus itu tidak selalu mati karena terdampar, tapi mungkin saja terluka atau sudah mati lebih dulu di laut.

Banyak peneliti meyakini gelombang sonar mungkin memicu perilaku tertentu pada paus, yang mengganggu mereka dalam mengelola gas di dalam tubuh mereka. Akibatnya, kemampuan mereka menyelam dan timbul ke permukaan dengan aman pun terganggu.

Kebisingan dalam laut adalah masalah besar, yang muncul sebagai dampak kegiatan manusia memasukkan suara (dengan beragam intensitas dan frekuensi) ke dalam laut, yang berasal dari berbagai teknologi bahkan peledakan.

Gempa laut juga merupakan sumber kebisingan di bawah laut, yang juga bisa menyebabkan kerusakan fisik atau perilaku yang mengakibatkan paus terdampar, meski belum seorang pun yang membuat hubungan statistik di antara keduanya.

Ikatan sosial

Kasus terdamparnya paus di Aceh dan Selandia Baru, dengan keberhasilan menyelamatkan paus dalam jumlah signifikan, juga menimbulkan pertanyaan apakah beberapa hewan yang sehat hanya mengikuti yang sakit ke daerah berbahaya.

(Baca juga: Gunung Bawah Laut, Persinggahan Favorit Paus Bungkuk Saat Migrasi)

Bertahun-tahun lalu, saya ikut membantu lumba-lumba paruh pendek biasa yang terdampar hidup-hidup di Teifi Estuary, Inggris. Satu paus mati dengan cepat dan hasil otopsi menunjukkan, hewan itu memiliki infeksi parasit paru berat, yang diperkirakan mempersulit bernafas. Individu lainnya tetap berada di dekat temannya yang sekarat dan tampak sangat tertekan, terus saja bersiul.

Kami berhasil mengambangkan kembali lumba-lumba ini dan akhirnya ia pun berenang pergi. Bagi saya, kejadian itu menunjukkan kuatnya ikatan sosial yang terjadi di antara mereka. Ketika kita melihat sejumlah besar paus atau lumba-lumba seolah-olah melakukan bunuh diri massal, kemungkinannya adalah mereka saling merespon satu sama lain secara vokal, mencerminkan hubungan sosial mereka yang kuat.

The ConversationRiset menunjukkan, paus yang terdampar massal bahkan belum tentu saling terkait satu sama lain. Jadi mungkin kasus terdampar beramai-ramai adalah cerminan dari betapa kuatnya ikatan sosial di antara paus.

Peter Evans, Honorary Senior Lecturer, Bangor University

Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.

(Peter Evans, Honorary Senior Lecturer, Bangor University)

KOMENTAR