Noken Raja Ampat dan Wamena Tak Sama, Apa Bedanya?
2017 / Oktober / 26   12:00

Noken Raja Ampat dan Wamena Tak Sama, Apa Bedanya?

Noken, Tas asal Papua ini ternyata memiliki dua jenis yang berbeda, Wamena dan Raja Ampat. Masing-masing Noken memiliki ciri tersendiri.

Noken Raja Ampat dan Wamena Tak Sama, Apa Bedanya?Mamak-mamak yang tergabung dalam komunitas Mamak Noken belajar membuat beragam kerajinan dari bahan dedaunan, terutama noken di Kampung Sauwingrai, Raja Ampat, Papua Barat. (Muhammad Irzal Adiakurnia/ Kompas.com)

Bila kita berkunjung ke Bumi Cendrawasih, salah satu kerajinan khas yang bisa kita bawa sebagai buah tangan adalah noken. Tas buatan tangan khas Papua berbahan dasar materi tumbuhan. Walaupun sama-sama terbuat dari bahan dasar yang sama, namun ternyata noken memiliki beragam jenis.

Dua noken yang paling terkenal adalah noken Wamena dan noken Raja Ampat. Noken Wamena sendiri sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda pada tahun 2012.

"Noken di Papua ada lebih dari satu jenis. Noken di Wamena yang terbuat dari akar akan berbeda dengan Noken di Raja Ampat. Karena warisan leluhurnya pun berbeda," ujar Yening, ketua Komunitas Mama Noken Raja Ampat, dikutip dari KompasTravel, Selasa (17/10/2017).

Bahan

Yening, lebih lanjut menjelaskan bahwa noken Raja Ampat terbuat dari daun pandan pesisi atau yang biasa disebut daun tikar, ilalang rawa, dan bisa juga dari kulit kayu. Hal inilah yang secara mendasar membedakan noken Raja Ampat dengan noken Wamena yang menggunakan akar anggrek.

(Baca juga: Dianggap Punah, Anjing Liat Dataran Tinggi Papua Kembali Ditemukan)

Perempuan menggunakan noken ...Perempuan menggunakan noken (tas khas Papua) mambawa beban berat melewati bukit terjal di Distrik Kurima, Kabupaten Yahukimo, Papua, Kamis (3/5/2012). Tas khas Papua yang terbuat dari rajutan kulit kayu diusulkan untuk menjadi warisan budaya dunia ke UNESCO (Agus Susanto/ Kompas)

Budaya

Perbedaan bahan tersebut menunjukkan keduanya lahir dari budaya masyarakat yang berbeda. Di Raja Ampat, bahan noken berasal dari tumbuhan pesisir, yang memang lahir dari budaya pesisir. Sedangkan di Wamena, noken ada di tengah budaya masyarakat hutan gunung, yang banyak dipakai mengangkut hasil hutan.

Bentuk

Bahan yang berbeda membuat bentuk keduanya berbeda. Noken raja ampat berbentuk kotak, teksturnya kaku, dengan variasi warna alam dan beragam variasi bentuk tutup nokennya. Sedangkan di Wamena, noken bentuknya seperti kantung, dengan tekstur bahan yang jatuh seperti kain.

(Baca juga: Festival Danau Sentani Kembali Digelar)

Cara pakai

"Lihat cara pakainya juga beda, kalau noken wamena, budayanya dipakai di kepala lalu kantung jatuh di punggung. Sedangkan noken raja ampat, digantung di pundak, ataupun leher," kata Yuning, saat menjelaskan dalam stan pameran Festival Bahari Raja Ampat, Selasa (17/10/2017).

Proses pembuatan

Terakhir ialah proses pembuatannya, noken raja ampat melalui proses penganyaman. Sedangkan noken wamena menggunakan proses perajutan, karena serat bahannya berbentuk benang.
Meski ada perbedaan, keduanya tetap menjadi ciri khas masyarakat Papua. Anda bisa berburu keduanya di berbagai gerai oleh-oleh di Wamena, maupun di Waisai, Raja Ampat. Khusus di Raja Ampat, Anda bisa melihat dan ikut saat proses pembuatannya di Kampung Arborek, dan Kampung Suwandarek.

Artikel ini sudah pernah tayang di Kompas.com dengan judul Apa Beda Noken Raja Ampat dengan Noken Wamena?

(Muhammad Irzal Adikurnia/Kompas.com)

KOMENTAR