Benarkah Sering Makan Seblak Bisa Sebabkan Usus Buntu?
2017 / Oktober / 11   11:46

Benarkah Sering Makan Seblak Bisa Sebabkan Usus Buntu?

Kisah seorang ibu tentang anaknya yang mengalami usus buntu karena terlalu sering makan seblak viral di Internet. Benarkah seblak bisa sebabkan usus buntu?

Benarkah Sering Makan Seblak Bisa Sebabkan Usus Buntu?Seblak seafood, masakan khas kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Seblak adalah makanan gurih yang kadang pedas, dibuat dari kerupuk basah yang dimasak dengan campuran telur, sayuran, dan sumber protein lain seperti ayam, boga bahari (udang, ikan dan cumi-cumi), atau irisan sosis sapi. Bumbunya antara lain bawang putih, bawang merah, kecap manis, dan sambal. (Gunawan Kartapranata/Wikimedia Commons)

Seorang ibu bernama Desy Puspita Yulida mengunggah kisah usus buntu yang dialami putrinya, Salma, melalui akun Facebooknya, pada Minggu (8/10/2017)

Kisah Desy mencuri perhatian netizen dan menjadi viral. Pasalnya, usus buntu yang dialami Salma disebut-sebut lantaran karena kerupuk mentah yang direndam tetapi tetap kenyal.

Hingga Selasa (10/10/2017), posting-an Desy sudah mendapatkan reaksi dan komentar dari belasan ribu warganet.

Desy dengan huruf kapital memberikan judul unggahannya itu: Bahaya Makan Seblak dari Kerupuk Mentah yang Direndam tapi Tetap Kenyal.

Ceritanya, sepulang sekolah Salma mengalami sakit perut. Setelah beberapa saat, perutnya tidak bisa digerakkan sama sekali, seperti keram usus.

Desy lantas membawa Salma ke RS Immanuel Kopo Bandung. Saat diperiksa oleh dokter Instalasi Gawat Darurat, Salma muntah-muntah dan diare.

"Lalu diadakan pemeriksaan cek darah dan rontgen. Hasilnya asam lambung naik, leukosit sel darah putihnya 14.000 lebih," tulis Desy.

Keesokan harinya usai cek darah dan ronsen, dokter spesialis bedah anak menjelaskan bahwa terjadi pembengkakan pada usus dan terjadi usus buntu.

Desy mengatakan, dokter juga berpesan apabila setelah pulang dari rumah sakit Salma masih merasa sakit perut, maka harus puasa selama enam jam dan segera dioperasi.

"Kalau tidak, ususnya akan pecah. Kalau ususnya sudah pecah, akan mengganggu rahim dan efek ke depannya tidak bisa punya anak.Naudzubillah (tiga emoji sedih), penjelasan dokter sungguh sangat bikin dada sesak," lanjut Desy mengisahkan.

Kemudian, Desy juga bercerita bahwa dokter bertanya tentang kesukaan Salma makan seblak. Salma sendiri yang mengiyakan.

Si dokter, kata Desy, mengaku sudah mengoperasi usus buntu ratusan orang dalam setahun ini karena makan seblak. Desy pun kembali bertanya kepada dokter, mengapa anaknya bisa terkena usus buntu padahal tidak terlalu suka makan makanan pedas.

" Usus buntu yang ibu alami bukan karena cabainya. Tetapi karena kerupuk mentah kalau disimpan dalam air tapi tidak hancur, malah jadi kenyal. Kebayang enggak bu, akan bagaimana? Begitu pun dalam usus kita. Kerupuk itu tidak akan hancur," kata Desy.

Mengakhiri kisahnya, Desy berpesan kepada ibu-ibu yang memiliki anak gadis penyuka makanan seblak, agar tidak terjadi infeksi usus. Dia juga mengajak untuk menghindari usus buntu daripada mengobati.

Tanggapan ahli

Akan tetapi, soal kerupuk seblak kenyal yang menjadi pemicu usus buntu dalam kasus ini, ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Hardinsyah mengatakan tak masuk akal.

"Pertama, kok enggak masuk akal, dalam arti makanan itu masuk ke lambung kita itu dicerna dan dihancurkan. Kemudian masuk ke usus sudah partikel kecil, kecuali kalau dia batu atau biji jambu yang keras," kata Hardinsyah dihubungi Kompas.com, Selasa (10/10/2017).

Menurut Hardinsyah, kerupuk seblak yang berasal dari tapioka (aci) tentu sangat bisa diproses dalam lambung.

"Daging saja ada yang lebih kenyal, seperti kikil, bisa diproses. Karena ada enzim-enzim di dalam lambung kita. Ada enzim untuk mencerna protein, lemak, karbohidrat," katanya.

"Kalau mungkin ada endapan sebelumnya, harusnya dokter bisa menjelaskan," jelas Hardinsyah.

Dia memberi contoh, misalnya endapan itu berasal dari sambal yang cabainya tidak ditumbuk sampai halus sehingga ada biji cabai yang mengendap dan menginfeksi usus.

Selain itu, perlu diperhatikan pula kebiasaan si anak dalam mengonsumsi makanan dan minuman.

"Kita enggak tahu juga kan, mungkin ini puncaknya saja. Proses terjadi dulu-dulu, (tapi) belum terasa benar. Kita kan enggak tahu kebiasaan makan si anak. Harus didalami, entah ada bahan-bahan berbahaya yang termakan," ujar Hardinsyah.

Sementara itu, ketika ditanya bahan berbahaya seperti pewarna makanan pada kerupuk yang berpotensi mengganggu pencernaan, Hardinsyah menuturkan bahwa tentu saja pembuktiannya harus melalui uji laboratorium terlebih dahulu.

Artikel ini sudah pernah tayang sebelumnya di Kompas.com dengan judul Viral Kisah Usus Buntu Gara-gara Seblak, Apa Kata Ahli Gizi?

(Estu Suryowati/kompas.com/)

KOMENTAR