Tahun 2016 Menjadi Tahun Terpanas Sepanjang Delapan Ribu Abad
2017 / Agustus / 16   12:00

Tahun 2016 Menjadi Tahun Terpanas Sepanjang Delapan Ribu Abad

Tahun 2016 menjadi tahun terpanas sepanjang sejarah, setidaknya selama 800.000 tahun berjalan. Aktivitas manusia menjadi faktor besar pada pemanasan ini.

Tahun 2016 Menjadi Tahun Terpanas Sepanjang Delapan Ribu AbadDua laporan baru mengonfirmasi bahwa tahun 2016 merupakan tahun terpanas yang pernah tercatat. Aktivitas manusia menjadi penyebab besar pemanasan global yang melebihi umumnya. (National Geographic)

Sejak tahun 1998, aktivitas manusia telah memerangkap lebih dari dua miliar bom atom bernilai ekstra dalam sistem iklim planet kita. Aktivitas utama yang menyebabkan hal tersebut ialah meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca ke tingkat tertinggi dalam 800.000 tahun, pada tingkat tercepat yang pernah terjadi di Bumi sejak zaman Dinosaurus.

Tentunya, panas yang ekstra itu tidak akan dapat bertambah tanpa konsekuensi yang muncul. Dua laporan baru mengonfirmasi bahwa tahun 2016 merupakan tahun terpanas yang pernah tercatat. Aktivitas manusia menjadi penyebab besar pemanasan global yang melebihi umumnya.

Pada tanggal 10 Agustus, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat mengeluarkan laporan tahunan tentang Iklim Negara Bagian, yang diterbitkan bersamaan dengan American Meteorological Society. Laporan setebal 298 halaman tersebut disiapkan oleh tim ilmuwan yang dipimpin oleh NOAA’s National Centers for Environmental Information, yang menegaskan bahwa 2016 adalah tahun terpanas dalam 137 tahun pencatatan.

Laporan pengkajian ulang menyatakan bahwa dengan rata-rata tahunan konsentrasi CO2 global sebesar 402,9 bagian per juta, konsentrasi gas rumah kaca 2016 merupakan yang tertinggi. Hal ini menjadikan tahun 2016 sebagai tahun terpanas sepanjang delapan ribu abad, di mana tingkat CO2 melebihi 400 bagian per juta.

(Artikel terkait: Suhu di Negara-negara Ini Akan Membahayakan Manusia Pada Tahun 2100)

Laporan tersebut juga mengatakan bahwa pada tahun 2016, rata-rata global untuk suhu permukaan laut, tataran laut, dan suhu atmosfer yang lebih rendah mencapai rekor tertinggi, sedangkan laut es Antartika mencapai rekor terendah. Suhu permukaan juga mencapai kehangatan, yang sebagian besar dipicu oleh El Niño yang dahsyat pada awal 2016.

Sebuah rilis yang menyertai laporan tersebut mencatat bahwa indikator utama perubahan iklim ini terus mencerminkan kecenderungan yang konsisten dengan planet yang sedang memanas.

"Pengendalian" Iklim oleh Manusia

Sementara 2016—dan 2015 dan 2014, dua pemegang rekor sebelumnya untuk tahun terpanas—mungkin memiliki panas yang tidak biasa, perlu diselidiki seberapa besar kemungkinan cuaca ekstrem ini terjadi tanpa pengaruh manusia.

Satu studi baru, yang diterbitkan di Geophysical Review Letters pada tanggal 10 Agustus, menyimpulkan bahwa catatan panas baru-baru ini akan sangat tidak mungkin terjadi tanpa keterlibatan manusia yang gemar menambahkan panas buatan.

(Baca juga: Perubahan Iklim Membuat Makanan Jadi Kurang Bergizi)

Studi tersebut menemukan bahwa rekor beruntun 2014-2016 sebagai tahun terpanas memiliki kurang dari 1:3.000 kemungkinan yang terjadi tanpa pemanasan akibat manusia. Pengaruh manusia meningkatkan peluang pemanasan global, yang membuatnya menjadi 1:100 kemungkinan.

Secara khusus, pemanasan global 2016 yang berbeda dari tahun-tahun lainnya akan menjadi 1:1.000 peristiwa di dunia tanpa pemanasan yang disebabkan oleh manusia. Bagaimanapun, dengan keterlibatan manusia di dalamnya, kemungkinan suhu tahun 2016 meningkat hingga 27 persen.

(Citra Anastasia. Sumber: Michael Greshko/National Geographic)

KOMENTAR