Menengok “Kerajaan Perempuan” Terakhir di Tanah Himalaya
2017 / Agustus / 15   13:26

Menengok “Kerajaan Perempuan” Terakhir di Tanah Himalaya

Jauh di atas Himalaya, orang-orang terakhir dari bangsa Mosuo berjuang untuk menjaga tradisi kuno mereka agar tetap hidup.

Menengok “Kerajaan Perempuan” Terakhir di Tanah HimalayaSelama beberapa generasi, wanita seperti Asa Nuja, 69, telah menjadi salah satu kepala keluarga Mosuo, bertanggung jawab untuk menjaga nama keluarga dan propertinya. Anak-anak terikat pada ibu mereka, yang bisa mengganti pasangan sesuai keinginan mereka. Lelaki hanya dapat mengunjungi pasangan mereka, yaitu perempuan Mosuo, pada malam hari - sebuah tradisi yang dikenal sebagai "pernikahan berjalan". (Karolin Klüppel)

Di bawah bayang-bayang pegunungan Himalaya, di tepi Danau Luga yang luas dan subur, hiduplah orang-orang Mosuo. Struktur sosial mereka yang kompleks dianggap sebagai salah satu dari masyarakat semi-matriarkal terakhir di dunia.

Orang Mosuo mengikuti garis keturunan ibu dan menjalankan praktik “pernikahan berjalan”, yaitu pernikahan di mana salah satu pasangan akan berjalan ke rumah ‘pasangan’nya di malam hari, dan kembali ke rumah mereka sendiri di pagi hari.

Selain itu, perempuan dapat memilih dan “mengganti” pasangan sesuai keinginan mereka, sebuah struktur yang menguntungkan perempuan di atas ketergantungan terhadap laki-laki.

Namun, suku kuno dengan nilai "modern" yang mengejutkan ini justru sangat diminati. Banyak wisatawan yang mengunjungi mereka dan para antropolog pun tertarik untuk menelitinya. Sementara itu, pemerintah Cina menganggap mereka sebagai komoditas yang menguntungkan.

Naju Dorma, 73, dan Lacuo ...Naju Dorma, 73, dan Lacuo Dorma, 66, dari desa Luoshui, mengenakan pakaian tradisional Mosuo. (Karolin Klüppel)

Di tengah derasnya arus kepentingan tersebut, kecerdasan, kekuatan fisik, ketenangan, dan martabat yang tinggi menjadi senjata mereka melawan ancaman erosi budaya sejak Revolusi Komunis. Namun, dalam 20 tahun terakhir, stabilitas mereka lambat laun hancur.

Layaknya banyak komunitas bangsa pertama di dunia, kesempatan untuk menghasilkan uang dari pariwisata dapat dikatakan telah sukses. Namun, dengan menampilkan budaya mereka kepada pengunjung, secara tidak langsung telah menimbulkan erosi budaya tersebut.

“Ini adalah konflik bagi banyak keluarga,” fotografer Karolin Klüppel, yang menghabiskan waktu mendokumentasikan Mosuo, mengatakan kepada National Geographic. "Hidup lebih mudah bila Anda mendapatkan keuntungan dari pariwisata, tapi mereka juga merasa sangat sedih dengan perubahan tersebut,” tambahnya.

Mosuo muda telah lebih terintegrasi dengan orang Han Cina, dengan banyak menikahi orang luar sukunya dan berpindah ke kota-kota besar untuk mencari pekerjaan. Dengan sedikit bantuan praktis dari pemerintah, Musuo tua justru yang menjadi penjaga budaya mereka.

"Mereka adalah bagian dari budaya yang sangat mengesankan saya, karena mereka begitu kuat, begitu hadir, dan penuh harga diri," kata Klüppel.

Pema Lamu, 73, duduk di kamar ...Pema Lamu, 73, duduk di kamar tidurnya di desa Zhashi. Seperti Dabu pada umumnya, tubuhnya sudah renta sejak bertahun-tahun dihabiskan bekerja di ladang. Sementara pria membantu bekerja, perempuan bertanggung jawab atas pekerjaan pertanian. (Karolin Klüppel)

Di tengah perbincangan tentang eksploitasi, potret Klüppel yang menyentuh jiwa berusaha mencari kebenaran yang berbeda dan mendalam. Alih-alih menyederhanakan atau mendekonstruksi cara hidup mereka, rentetan fotonya justru mengungkapkan kekuatan abadi perempuan, layaknya pegunungan Himalaya yang tak tergoyahkan.

"Perempuan yang lebih tua berperan besar di desa, memberikan semua perintah kepada anggota keluarga," katanya. "Saya menghabiskan waktu bersama seorang wanita yang memiliki satu anak perempuan, dua putra dan dua cucu. Namun, dia yang bekerja paling keras,” jelas Klüppel.

Para ibu kepala rumah tangga yang ditemui Klüppel seringkali “sangat lucu, dan aktif", bertentangan dengan budaya Jerman yang pernah dia anut. "Saya melihat seorang wanita berusia 80 tahun membawa barang-barang yang tidak dapat saya bawa sendiri," katanya.

"Tubuh mereka benar-benar kuat. Saya menyadari bahwa kekuatan fisik sangat bergantung pada apa yang Anda lakukan dengan tubuh Anda, dan wanita ini memiliki kekuatan yang lebih besar daripada pria!” seru Klüppel.

Barang-barang rumah tangga ...Barang-barang rumah tangga tradisional dalam budaya Mosuo. (Karolin Klüppel)

Barang-barang rumah tangga ...Barang-barang rumah tangga tradisional dalam budaya Mosuo. (Karolin Klüppel)

Meskipun dominasi perempuan di ruang kerja jarang ditemukan di tempat lain di dunia, sistem "pernikahan berjalan" Mosuo bisa dibilang merupakan bagian budaya yang paling unik dan eksotis. Apakah hal ini merupakan bentuk kemajuan perjuangan hak-hak perempuan ataukah wujud kebencian terhadap laki-laki tertentu, semua itu tergantung pada bagaimana Anda melihatnya.

Tradisi menentukan bahwa suami perempuan Mosuo hanya mengunjungi mereka di malam hari, dan suami tersebut tidak banyak berinteraksi maupun mengasuh anak-anak mereka. Anak-anak Mosuo tinggal bersama keluarga ibu mereka seumur hidup. Oleh karena itu, perempuan lah yang menjadi kepala rumah tangga di sana.

"Dalam masyarakat Han Cina, status sangat bergantung pada pekerjaan Anda dan perempuan memilih pasangan mereka secara berbeda. Cinta adalah hal kedua atau ketiga dalam daftar kriteria," kata Klüppel.

"Bagi Mosuo, hanya cinta dan gairah yang mereka rasakan. Dan jika mereka tidak merasakannya lagi, mereka bisa mengakhiri hubungan tanpa menimbulkan drama besar. Meniadakan ketidaknyamanan perasaan lebih penting daripada tetap bersama,” tambahnya.

Sergei Dorma, 70, dari desa ...Sergei Dorma, 70, dari desa Shankua: "Ketika Tentara Merah datang setelah tahun 1959, mereka mencuri banyak barang dari kami. Kami tidak diizinkan untuk mempraktikkan agama Daba lagi. Mereka membakar biara dan buku doa kami. Dari tahun 1975, orang Tionghoa bahkan memaksa kami untuk melepaskan kebiasaan pernikahan kami; Mereka menyebutnya kampanye "One Husband, One Wife". Kami harus menikah dengan cara Cina dan mulai hidup bersama. Itu bertentangan dengan kebiasaan kami dalam pernikahan berjalan. " (Karolin Klüppel)

Selama tiga bulan, Klüppel menghabiskan waktunya bersama orang-orang Mosuo dan mengunjungi lebih dari 250 rumah. Dia mulai terbiasa dengan irama harian yang dialunkan orang-orang Mosuo dan sikap saling menghormati yang sangat diagungkan.

Ketika pemberdayaan perempuan menjadi topik perbincangan dunia, tampak ironis bahwa budaya di mana perempuan benar-benar berjaya itu justru mengalami degradasi secara berangsur-angsur.

Simak rangkaian potret hidup Mosuo yang unik dan karismatik pada halaman selanjutnya.

KOMENTAR