La Tomatina, Tradisi “Mandi” Tomat yang Kontroversial
2017 / Agustus / 23   11:02

La Tomatina, Tradisi “Mandi” Tomat yang Kontroversial

Tradisi “kotor” yang bermula ketika Perang Dunia II ini telah menuai kontroversi.

La Tomatina, Tradisi “Mandi” Tomat yang KontroversialSeorang pria meluncur di tengah lautan tomat saat merayakan La Tomatina di Buñol, Spanyol. (Biel Alino, Corbis/National Geographic)

Pada hari Rabu terakhir di bulan Agustus, kota kecil bernama Buñol, Spanyol, menjadi tuan rumah pertarungan makanan terbesar di dunia setiap tahunnya. Pertarungan ini disebut La Tomatina. La Tomatina merupakan suatu festival yang melibatkan “kekacauan” yang basah, berkeringat, dan penuh sesak.

Sejak tahun 2013, acara ini dikenai biaya tiket, sebuah kebijakan yang diberlakukan untuk menciptakan antusias khalayak, sekaligus memudahkan dalam mengelola peserta hingga 20.000 orang.

Pemerintah setempat menganjurkan para peserta untuk menaati beberapa peraturan, layaknya “kekacauan” yang terorganisir. Peserta harus menghancurkan tomat sebelum melemparkannya.

Baca juga: Rentetan Potret Antik Tampilkan Pesona Pengantin Wanita di Berbagai Penjuru Dunia

Mereka juga harus mengenakan pakaian usang, karena tidak akan ada yang bisa lolos dari kekotoran yang ditimbulkan oleh lebih dari seratus ton “bubur tomat” tersebut. Selain itu, mereka tidak bisa mulai saling melemparkan tomat hingga ledakan meriam resmi berbunyi.

Festival ini dimulai sekitar akhir Perang Dunia II dengan banyak legenda dan mitos di dalamnya. Namun, alasan La Tomatina bertahan sebagai tradisi tahunan—tidak termasuk pada periode ketika Perdana Menteri Spanyol tahun 1939-1975, Francisco Franco melarangnya—adalah bahwa acara ini sangat menyenangkan.

Namun, saat tomat terakhir turun dan alun-alun kota ternodai “bubur buah” yang merah, hal ini menimbulkan pertanyaan: Bukankah ini hanyalah suatu cara besar untuk menyia-nyiakan makanan?

Baca juga: Menengok “Kerajaan Perempuan” Terakhir di Tanah Himalaya

Festival ini telah dianggap oleh beberapa orang sebagai penghinaan besar bagi jutaan orang di seluruh dunia yang kekurangan makanan. Pada tahun 2016, misalnya, para kritikus menyerbu media sosial setelah Nigeria mengalami krisis tomat, di mana 80 persen tanaman tahunan hilang.

Meskipun kerumunan orang yang saling serbu di tengah lautan jus tomat itu tidak ada hubungannya dengan ngengat yang menghancurkan panen di Afrika Barat, La Tomatina tetap saja dianggap sebagai acara yang tidak bermanfaat.

Walapun sebagian besar tomat yang digunakan untuk La Tomatina sudah tidak berkondisi bagus dan bahkan busuk, tetapi bukankah kita memang tidak boleh menyia-nyiakan makanan semudah itu?

(Citra Anastasia. Sumber: Fiona Tapp/National Geographic)

KOMENTAR