Hati-hati, Kebiasaan ''Sehat'' Ini Ternyata Bisa Berbahaya
2017 / Agustus / 28   09:05

Hati-hati, Kebiasaan "Sehat" Ini Ternyata Bisa Berbahaya

Meski kebiasaan-kebiasaan berikut ini sekilas terlihat sehat, namun ternyata ada bahaya tak terduga di baliknya.

Hati-hati, Kebiasaan ''Sehat'' Ini Ternyata Bisa BerbahayaIlustrasi (popsugar)

Tidak semua yang dianggap “sehat” tidak berbahaya. Pekan lalu seorang binaragawan berusia 25 tahun dari Australia, Meegan Hefford, meninggal karena overdosis protein, setelah ia mengonsumsi suplemen pembentuk otot secera berlebih.

"Bagi sebagian besar orang, suplemen protein tidak berbahaya, dan sangat jarang terjadi overdosis," kata Dr. Mehmet Oz, yang menegaskan bahwa Hefford ternyata juga mengalami gangguan siklus urea, yang menurunkan kemampuan tubuh untuk memetabolisme protein.

Kelompok berisiko lainnya, menurut Oz, adalah “orang-orang dengan penyakit ginjal dan individu yang meningkatkan asupan protein dengan cepat.” Karena itu kelompok ini harus berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi suplemen protein.

Berikut adalah kebiasaan yang terlihat sehat, namun memiliki bahaya tak terduga:

-Minum terlalu banyak air

Pada tahun 2007, Jennifer Strange yang berusia 28 tahun meninggal karena keracunan air setelah berpartisipasi dalam sebuah kontes radio yang meminta para peserta meminum air sebanyak-banyaknya untuk memenangkan sebuah konsol video-game.

"Tubuh memiliki kapasitas yang besar untuk mengeluarkan air yang Anda minum, tapi ini bukan untuk asupan yang tidak terbatas," kata ahli hidrasi Dr. Stanley Goldfarb, seorang profesor kedokteran di University of Pennsylvania.

Kemampuan tubuh untuk menangani asupan cairan yang sangat banyak itu hanya sekitar satu jam sebelum tingkat natrium mulai menurun dan mengakibatkan cedera otak.

Goldfarb memperingatkan bahwa pelari marathon—yang kehilangan elektrolit dan sodium selama kompetisi—dapat beresiko jika mereka mengalami overhidrasi setelah mereka melewati garis finish.

- Berolahraga terlalu intensif

Dr David Greuner, salah satu pendiri NYC Surgical Associates, melihat ada peningkatan pasien yang dirawat karena rhabdomyolysis, yang menyebabkan kerusakan otot rangka, karena meningkatnya latihan olahraga terlalu ekstrim.

"Sekarang semua orang meningkatkan intensitas pada semua hal," katanya. Greuner sendiri mengaku pernah mengalami muntah-muntah setelah mengikuti latihan yang sulit.

Mereka yang benar-benar mengeluarkan tenagas terlalu keras kemungkinan akan menderita kondisi ini—bahkan dalam kasus ekstrim—dapat menyebabkan gagal ginjal dan jantung karena pelepasan potasium dalam darah.

Greuner menganjurkan agar orang secara bertahap membangun intensitas aktivitas olahraga dan mengonsumsi cukup kalori sebelum berolahraga untuk menghindari resiko tersebut.

- Mengonsumsi kunyit

Seorang wanita California berusia 30 tahun, Jade Erick, meninggal dunia setelah diberi obat kunyit melalui infus awal tahun ini. Meskipun ada data yang mendukung efek terapeutik kurkumin, komponen kimia utama dalam kunyit, tapi ada ragam hal yang bisa berakibat fatal, kata Dr. Tania Dempsey dari Armonk Integrative Medicine.

"Bagi individu tertentu, kurkumin dapat dirasakan oleh sistem kekebalan tubuh sebagai sesuatu yang asing, dan saat berusaha untuk melawan bisa mengakibatkan reaksi berbahaya di tubuh mereka, yang berpotensi menyebabkan anafilaksis," kata Dempsey.

Ia menambahkan, reaksi anafilaksis ini berpotensi terjadi dalam pengobatan, ramuan atau suplemen apapun.

"Penting bagi pasien untuk menyadari potensi reaktifitasnya dan bagi dokter untuk mengajukan pertanyaan yang tepat sebelum meresepkan atau merekomendasikan perawatan tertentu."

- Mengkonsumsi terlalu banyak biji rami

Rami sudah terkenal dengan kandungan antioksidannya, namun "memakan dalam jumlah banyak ... atau rami yang tidak diproses dengan baik bisa berbahaya," kata Dempsey.

“Ada senyawa yang ditemukan di biji rami yang bisa diubah oleh tubuh menjadi turunan sianida. Efek samping beresiko dari konsumsi sianida meliputi neuropati dan retardasi pertumbuhan pada anak-anak, dan keracunan sianida dapat menyebabkan kematian pada kasus yang parah.”

(Kahfi Dirga Cahya/Kompas.com)

KOMENTAR