Bermain Slackline di Saat Gerhana: Bagaimana Fotografer ini Dapat Memotretnya?
2017 / Agustus / 23   16:26

Bermain Slackline di Saat Gerhana: Bagaimana Fotografer ini Dapat Memotretnya?

Fotografer Keith Ladzinski menyeimbangkan aksi berisiko, tantangan teknis, dan berpacu dengan waktu untuk menangkap gambar luar biasa gerhana matahari total ini

Bermain Slackline di Saat Gerhana: Bagaimana Fotografer ini Dapat Memotretnya?Double exposure dari Alex Mason yang bermain slackline di ketinggian selama gerhana matahari total di Jackson Hole, Wyoming. (Keith Ladzinski via National Geographic)

Ketika atlet Red Bull, Alex Mason menyelesaikan sebuah prestasi yang sangat menantang, yakni meniti tali di atas celah 150 kaki di Jackson Hole, Wyoming, selama gerhana matahari total, Keith Ladzinski ada di sana untuk mengabadikannya.

Dalam semu yang sekejap, senja cukup gelap untuk melihat bintang-bintang, dikelilingi oleh sorak sorai gembira dari kerumunan besar yang menyaksikan gerhana dari puncak terdekat, "Mason terus berjalan, hampir membungkuk di atas benda ini dengan kakinya," kata Ladzinski.

Aksi Mason begitu luar biasa–begitu juga karya Ladzinski, sebuah foto double exposure. Mason beruntung dapat dipotret.

Saat mencari lokasi memotret, Ladzinski melihat seorang drop ski terkenal dengan sebutan Corbet's Couloir, dan menyadari bahwa pada saat gerhana total, matahari akan nyaris berada di atas kepalanya. Artinya, untuk menangkap gerhana dan atlet dalam satu frame, dia harus memotret lurus ke atas. "Pasti akan begitu banyak butt shot."

Malah, untuk membuat sebuah foto yang menunjukkan matahari maupun slackliner dalam posisi terbaik, dia harus "memindahkan" mataharinya. "Anda tidak bisa menggerakkan matahari kecuali jika Anda menggandakannya," katanya, "Dan dalam hal ini Anda bisa meletakkannya di manapun Anda inginkan."

Dalam kamera film tradisional, untuk double exposure, perlu menampakkan film yang sama ke dua kondisi cahaya yang berbeda–yaitu dua komposisi yang berbeda. Kamera digital melakukan hal yang sama dalam satu file digital. Ini adalah trik memotret yang rumit, tapi bukan satu-satunya faktor yang harus dihadapi Ladzinski.

Pada pukul 5.00 a.m. di hari gerhana itu akan terlihat, Mason, Ladzinski, dan kru menuju ke lokasi: memasang rigging dan flash di kedua sisi tebing, kemudian mereka duduk dan menunggu.

Pukul 11.36 a.m., gerhana total dimulai: bulan menghalangi matahari, mengirimkan bayangannya melintasi bumi dengan kecepatan hampir 2.000 mil per jam, menyelimuti jurang di mana Mason berjalan di atas slackline di ketinggian dan Ladzinski dengan panik mengambil gambar. Sebisa mungkin, ia mengatur gerhana berada di pojok atas frame, kemudian berputar, menyalakan flash untuk menangkap gambar Mason dan pemandangan di tempat yang gelap gulita pada exposure pertama.

"Anda harus berpikir dan bergerak dengan sangat cepat, Anda hanya punya waktu 100 detik," dia tertawa. "Itu seperti Anda mendengar musik Jeopardy!"

Meskipun berkonsentrasi untuk menangkap gambar yang menakjubkan ini, Ladzinski memiliki beberapa detik untuk mengagumi gerhana matahari total pertamanya.

"Saya hanya ingin melihat di mana posisi matahari berada, dan ini membuat saya tergeming, ini menghipnotis," kata Ladzinski. "Dan kemudian saya harus melepaskan diri dari situ dan mulai bekerja."

(Fadhil Ramadhan. Sumber: Rachel Brown/National Geographic)

KOMENTAR