Anak-anak di India Bertaruh Nyawa Melintasi Sungai Deras untuk Pergi ke Sekolah
2017 / Agustus / 11   16:00

Anak-anak di India Bertaruh Nyawa Melintasi Sungai Deras untuk Pergi ke Sekolah

Di musim hujan yang semakin berbahaya, anak-anak sekolah di India harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai dengan arus deras agar dapat tetap menimba ilmu.

Anak-anak di India Bertaruh Nyawa Melintasi Sungai Deras untuk Pergi ke SekolahSeorang anak kecil digendong oleh orang dewasa agar dapat menyeberangi sungai dan pergi ke sekolah. (National Geographic)

Anak-anak yang pergi ke sekolah di wilayah Himachal, di India utara menghadapi rintangan yang sulit– aliran sungai berarus deras di sisi gunung berbatu.

Video yang diambil di dekat sebuah desa bernama Chamba di negara bagian Himachal Pradesh menampilkan bagaimana musim hujan yang sangat deras telah berdampak pada anak-anak sekolah.

Setelah menggulung celana mereka, anak-anak perlahan menyeberangi sungai yang mengalir deras, melangkah secara perlahan di atas lereng berbatu yang terendam. Lebar dari satu sisi sungai ke sisi lainnya bisa mencapai 14 meter.

Menyeberangi sungai tersebut bisa memakan waktu selama 40 menit. Kadang anak-anak berhenti sejenak untuk menstabilkan keseimbangan diri mereka. Banyak yang kembali dan meraih tangan orang-orang di pinggir sungai yang belum menyeberang. Banyak anak yang lebih tua bahkan menggendong anak yang lebih kecil di punggung mereka.

Menurut laporan dari Times of India, desa ini terdiri dari sekitar 400 orang, dan para anak-anak, harus melintasi lebih dari 1,5 km untuk mencapai sekolah mereka.

Berbicara dengan Times, seorang penduduk desa mengingat ketakutan yang dihadapi anak-anak yang menyeberangi sungai, ia mengatakan, "Ada banyak rumput dan tumbuh-tumbuhan di jalan setapak yang licin di desa. Risiko ular dan banjir bandang selalu ada di sana."

Daerah lain di negara tersebut menghadapi kesulitan yang sama. Anak-anak yang diwawancarai oleh India TV News menjelaskan bahwa menyeberang sungai dalam perjalanan ke sekolah memberikan mereka kesulitan yang nyata dan signifikan.

Dalam sebuah wawancara, seorang anak gadis menjelaskan bahwa untuk melewati sungai, ia coba meminta orang dewasa untuk membantunya, tapi tak selalu tersedia. "Pakaian saya basah, saya harus melepaskan sepatu saya, dan buku saya juga basah," jelasnya.

Setiap tahunnya, daerah ini menghadapi musim hujan yang lebat, yang memasok sumber daya air sebagai kebutuhan pokok ke wilayah tersebut. Di sisi lain, hujan juga membuat arus sungai yang harus mereka lewati, menjadi deras.

Baca juga: Polusi Udara Parah, Pemerintah India Umumkan Status "Darurat Nasional"

Sebuah studi yang diterbitkan awal musim panas ini di jurnal Nature Climate Change menemukan bahwa,musim hujan di India telah meningkat dan menjadi lebih sering di 15 tahun terakhir, terutama di India utara dan tengah. Pemanasan suhu di daratan benua dikombinasikan dengan lambatnya pemanasan air laut telah secara efektif menciptakan resep sempurna untuk membuat musim hujan yang lebih dahsyat.

Berita tentang anak-anak yang terpaksa menyeberangi sungai berbahaya hanya untuk sampai ke sekolah tidak pernah terdengar di negara ini. Daerah pegunungan adalah rumah bagi tiga lembah sungai utama, dan sebagai DAS, ia menghidupi lebih dari 200 juta orang. Daerah ini memiliki begitu banyak sungai kuat yang diinvestasikan oleh Bank Dunia dalam membangun infrastruktur PLTA di wilayah ini pada tahun 2014.

Infrastruktur utama yang yang kurang di wilayah ini adalah jembatan dan jalan raya. Saat hujan deras, konsekuensinya menjadi lebih jelas.

Menurut The Indian Express, tiga orang meninggal di Hamachal pada tanggal 6 Agustus setelah hujan lebat memicu tanah longsor. Hujan dilaporkan merusak 170 jalan dan menyebabkan kerusakan pada 20 bangunan.

Pada awal Juni, pemerintah Himachal menyetujui proposal untuk membangun 273 jalan dan 14 jembatan di desa-desa. Menurut salah satu penduduk lokal, rencana pembangunan jembatan sudah ada sejak 10 tahun lalu, tapi baru dua pilar yang telah dibangun sejak saat itu.

Ketika Perdana Menteri India, Narendra Modi, melakukan pembicaraan dengan pemerintah Jepang untuk membangun kereta cepat di negara ini, beberapa penduduk lokal di  wilayah yang dilanda bencana marah karena desa-desa masih kekurangan infrastruktur pokok.

Gubernur provinsi Himachal Pradesh tidak dapat dihubungi pada saat artikel ini terbit.

(Fadhil Ramadhan. Sumber: Sarah Gibbens/National Geographic)

KOMENTAR