Seperti Apakah Titik Paling Berbahaya dalam Pendakian Gunung Denali?
2017 / Juli / 2   08:47

KISAH PENDAKIAN PEREMPUAN INDONESIA KE GUNUNG DENALI, ALASKA

Seperti Apakah Titik Paling Berbahaya dalam Pendakian Gunung Denali?

Sofyan Arief Fesa, Seven Summiteers Indonesia dan konsultan jasa pendakian Indonesia Expeditions, membagi pengalamannya dalam pendakian Denali, Alaska.

Seperti Apakah Titik Paling Berbahaya dalam Pendakian Gunung Denali?Pada 2011, pendaki Indonesia Seven Summit Mahitala Unpar melakukan perjalanan melalui Summit Ridge, yang digambarkan oleh Sofyan Arief Fesa, salah satu seven summiteer Indonesia "dengan sisi kanan yang sangat curam." Pendakian di jalur jalur terakhir menuju puncak ini dilakukan dengan menggunakan teknik running belay. (Hiroyuki Kuraoka)

Musim pendakian 2017 adalah musim yang cukup berat untuk melakukan pendakian menuju puncak Gunung Denali, termasuk yang harus dijalani oleh para perempuan pendaki yang tergabung dalam tim WISSEMU atau Women of Indonesia's Seven Summits Mahitala Unpar kali ini.

Terkait cuaca sepanjang di jalur pendakian, bahkan, Sanjay Pandit, seorang pendaki dari Nepal, harus kehilangan nyawanya pada 16 Juni silam saat melakukan pendakian di gunung ini melalui West Buttress Route di ketinggian 17.500 kaki atau sekitar 5.300 meter di atas permukaan laut.

Dalam summit attempt atau pendakian untuk mencapai puncak Gunung denali di Alaska ini, ada empat etape yang harus dijalani oleh pendaki:

1. Camp 17/Camp 5/High Camp di ketinggian sekitar 5.200 meter, menuju Denali Pass

Titik ini merupakan titik paling berbahaya selama digunung Denali. Para pendaki melakukan teknik traverse di medan yang memiliki kemiringan 60-75 derajat, menggunakan teknik Running Belay. Di jalur ini pengaman sepanjang jalur sudah terpasang. Pendaki melakukan pengamanan diri dengan memasangkan tali yang terhubung pada tubuhnya pada karabiner yang ada di jalur.

Jalur ini memiliki kondisi salju yang lebih tebal dibandingkan dengan etape lainnya. Jika pendaki tergelincir, kemungkinan besar akan sulit untuk menyelamatkan diri dengan menggunakan kapak es. Pendakian ditemput sekitar 1,5 hingga 2 jam dari kamp terakhir. Kenaikan elevasi adalah sekitar  300 meter.

2. Denali Pass - Archdeacons Tower

Setelah berjalan dari Denali Pass, pendaki akan bertemu dengan medan curam dan akan mengalami kenaikan sekitar 100 meter sampai ke pelataran ridge atau punggungan. Pendaki harus menempuh ridge yg luas dan melandai namun dengan jalur yang panjang untuk tiba ke sisi Archdeacons Tower. Dari Denali Pass, pendakian bisa memakan waktu 2 hingga 2.5 jam. Kenaikan elevasi pada etape ini mencapai lebih dari 300 meter.

3. Archdeacons Tower - Summit Ridge

Setelah pendaki melampaui sisi Archdeacons Tower, barulah Puncak Denali benar-benar terlihat dengan jelas. Medan perjalanan akan sedikit menurun menurun hingga melewati dataran Football Field, sebuah dataran seluas lapangan football. Setelah itu medan pendakian akan berubah sedikit curam menuju Summit Ridge. Pendakian pada etape ini bisa memakan waktu hingga satu jam.

4. Summit Ridge - Summit

Pada etape terakhir ini pendaki akan menyusuri ridge dengan sisi kanan yang sangat curam. Saat cuaca cerah, pendaki bisa melihat pemandangan berupa Kota Talkeetna dari jalur ini. Pendakian ditempuh dengan menggunakan teknik running belay. Ini adalah sistem pengamanan saat berjalan. Setiap pendaki terhubung dengan tali, dan setiap orang akan mengaitkan dan melepaskan tali saat melintasi pengaman yang sudah tersedia atau terpasang di jalur pendakian. Perjalanan yang dtempuh kali ini adalah sekitar 20 hinggga 40 menit dari Summit Ridge. 

Saat cuaca dalam keadaan cerah, pergerakan pendakian menuju Puncak Denali bisa memakan waktu sekitar enam jam. Istirahat untuk makan atau minum akan memakan waktu dua hingga tiga jam, sehingga total waktu perjalanan yang ditempuh adalah sekitar delapan hingga sembilan jam pendakian. Perjalanan turun akan memakan waktu tiga hingga lima jam, tergantung dari kondisi fisik dan ketrampilan pendakian dari masing-masing pendaki.

(Sofyan Arief Fesa)

KOMENTAR