Semut Api Mampu Ciptakan ''Menara'' dari Tubuhnya Sendiri
2017 / Juli / 14   17:36

Semut Api Mampu Ciptakan "Menara" dari Tubuhnya Sendiri

Dengan saling memanjat tubuh satu sama lain, semut api mampu menciptakan struktur berbentuk Menara Eiffel lebih dari 30 kali ukuran semut.

Semut Api Mampu Ciptakan ''Menara'' dari Tubuhnya SendiriSemut api mampu menciptakan struktur berbentuk Menara Eiffel lebih dari 30 kali ukuran tubuh mereka. (National Geographic)

Untuk mendapatkan wawasan mengenai cara memprogram kawanan robot mungil, para ilmuwan sedang mempelajari salah satu spesies semut api yang paling kohesif di alam.

Ketika serangga bekerja sama, kekuatan mereka perlu diperhitungkan. Makhluk-makhluk kecil itu mampu menggunakan tubuh mereka untuk menciptakan struktur menjulang dengan tinggi lebih dari 30 tumpukan semut.

Selain itu, mereka juga mampu menyusun diri menjadi sebuah rakit yang dapat mengapung di atas air, meskipun tangan manusia berusaha menenggelamkan mereka ke dalam air.

Peneliti di Georgia Institute of Technology telah bekerja bertahun-tahun untuk menganalisis bagaimana semut secara sosial dan fisik membentuk gumpalan yang rumit tanpa adanya pemimpin dan perencanaan sebelumnya.

(Baca juga: Semut Andalkan Memori Visual dan Posisi Matahari untuk Menavigasi)

Dalam sebuah penelitian yang baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal Royal Society Open Science, kamera berkecepatan tinggi menunjukkan koloni semut yang saling merapatkan diri untuk membentu suatu menara di sekitar tiang yang licin. Koordinasi tersebut menghasilkan struktur berbentuk lonceng, seperti menara Eiffel.

Para ilmuwan sebelumnya telah mengamati semut-semut yang menciptakan struktur menjulang ini dari tubuh mereka sendiri, dan video tersebut menyajikan tampilan baru pada fenomena ini.

Bagaimana mereka melakukannya?

Ternyata usaha untuk membuat menara ini tidaklah mudah. Menurut penelitian, seekor semut mampu menopang tiga semut lainnya, yang terhubung dengan bantalan lengket di kakinya.

Jika semut di bawah telah menanggung beban yang lebih berat dari yang seharusnya, semut-semut di atas akan berjatuhan layaknya hujan deras. Dengan saling berebut satu sama lain untuk naik ke atas, mereka bisa membangun basis yang kokoh, saling membangun dari bawah ke atas.

(Baca juga: Semut Sahara yang Berbulu)

Para ilmuwan percaya bahwa perilaku ini digunakan sebagai struktur sementara setelah terjadinya “banjir semut” tersebut. Penskalaan struktur yang tinggi memungkinkan mereka untuk berburu ruang kosong di mana mereka dapat membuat rumah baru.

Karena semut-semut itu terus tenggelam, mereka harus berulang kali memanjat satu sama lain hingga mencapai tempat berlindung, menjadikan menara tersebut lebih dinamis daripada statis.

"Sebaliknya, semut-semut itu beredar seperti air mancur,” ungkap salah satu penulis penelitian tersebut.

Semut tak bisa ditenggelamkan

 Pada tahun 2014, dinamika struktur statis menara tersebut ditemukan oleh kelompok penelitian yang sama, ketika mereka mempelajari bagaimana semut membentuk struktur rakit yang kuat.

Dengan mengaduk segumpal semut ke dalam cangkir, semut secara alami akan membentuk bola seperti adonan dengan saling meraih kaki satu sama lain yang lengket.

(Baca juga: Hubungan Unik antara Semut dan Tanaman Hoya.)

Membentuk pola yang tegak lurus, semut-semut tersebut mampu mendistribusikan berat badan mereka secara merata. Rangkaian itu menciptakan rakit yang mampu mengapung di air dan tak tergoyahkan ketika ditenggelamkan.

Meskipun tidak diketahui secara khusus bahwa semut merupakan makhluk yang cerdas, tetapi mereka mahir bekerja secara kolektif. Selain itu, mereka juga dapat berkomunikasi melalui sistem feromon—zat kimia yang dikeluarkan oleh seekor hewan yang memungkinkannya berkomunikasi dengan anggota lain yang sejenis—dan suara yang rumit yang tidak dapat didengar oleh manusia.

Peneliti berharap agar robot kecil dapat diprogram untuk membentuk rakit dan jembatan mereka sendiri. "Bayangkan jika robot dapat membangun penghalang atau menambal lubang saat terjadi tanggap bencana," tutur salah satu penulis penelitian tahun 2014 kepada Nature.

(Citra Anastasia. Sumber: Sarah Gibbens/National Geographic)

KOMENTAR