Menjelajahi Buton, Pulau Penghasil Aspal di Tenggara Sulawesi
2017 / Juli / 12   14:32

Menjelajahi Buton, Pulau Penghasil Aspal di Tenggara Sulawesi

Perjalanan ke Buton menghadiahkan banyak cerita, dari suku yang menggunakan aksara Hangeul, benteng-benteng kuno, hingga filosofi hidup masyarakatnya.

Menjelajahi Buton, Pulau Penghasil Aspal di Tenggara SulawesiAnak-anak bermain di depan Masjid Agung Buton, Sulawesi Tenggara. (Amalia Nanda Ihsana)

Senja Kuning WITA

Bandar Udara Betoambari, begitu yang tertulis di atas papan nama begitu turun dari pesawat. Entah jam berapa tepatnya saat itu, tapi langit sudah menguning dan mulai gelap. Bandara Betoambari terletak di Kota Baubau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Tidak banyak yang saya tahu tentang tempat ini saat menginjakkan kaki di sini. Hal pertama yang saya ketahui tentang Buton hanya berawal dari percakapan di telepon, kira-kira seperti ini:

Ibunda: “Halo, kamu dimana?”

Saya: “Makassar, Ma. Mau ke Buton.”

Ibunda: “Hah? Buton? Yang penghasil aspal itu?”

Saya: “Hah? Emang menghasilkan aspal?”

Ibunda: “Bukannya kamu sudah lulus SD ya?”

Saya: “……”

Di sana, kami disambut oleh sopir yang akan mengantar kami bepergian selama di Buton. Dua hal yang mungkin harus Anda pastikan sebelum ke sini adalah Anda mendapat driver yang tangguh sekaligus bisa menjadi pemandu yang kompeten.

Sebut saja namanya, Budi. Budi adalah pemuda asli Buton. Budi mengajak kami menjelajah Kota Baubau dan sekitarnya. Ia tidak hanya membawa kami untuk melihat dengan mata seperti apa Kota Baubau tapi juga membawa kami ke masa lalu, sejarah Kerajaan dan Kesultanan Buton, dan filosofi yang mereka anut, bahkan mengakar hingga ke generasi muda kelahiran Buton.

Menyatu, Tidak Dari Asal Satu, Tapi Tidak Berantara

 “Orang Buton itu banyak suku-sukunya,” kata Budi suatu kali. Ada semboyan masyarakat Buton yang sudah dikumandangkan sejak dulu, Poromu Yinda Saangu Pogaa Yinda Koolota. Begitu yang terselip di sambutan Bupati Buton di suatu acara budaya. Masih dalam sambutannya, semboyan ini berarti “menyatu tapi tidak dari asal yang satu, tetapi tidak berantara.” Kurang lebih, seperti makna Bhinneka Tunggal Ika.

“Puluhan, atau mungkin ratusan suku bangsa. Tapi sekarang yang paling besar ada empat. Empat besar ini bisa dilihat dari bahasa ibunya, yaitu Bahasa Wuna, Cia-Cia, Tolaki, dan Bahasa Wolio. Bahasa persatuannya sendiri untuk Buton, umumnya Bahasa Wolio,” jelas Budi.

Kami melewati salah satu perkampungan di Baubau yang banyak dihuni oleh masyarakat dari suku Cia-Cia. Mereka memiliki bahasa sendiri yang sangat mirip dengan aksara Hangeul di Korea. Katanya, bahasa Cia-Cia ini hanya dapat dapat ditulis dengan aksara tersebut.

Keunikan yang asal-usulnya masih belum banyak diulas ini membuat banyak peneliti bahasa dari Korea berdatangan dan membuat kerjasama. Aksara hangeul pun masuk ke perkampungan ini, diajarkan sejak dari Sekolah Dasar. Sedangkan siswa SMA dapat mengikuti pertukaran pelajar ke Korea. Papan nama jalan pun menggunakan dua aksara, huruf latin dan huruf hangeul. Sedangkan Bahasa Wolio sendiri masih banyak yang ditulis dengan aksara Arab.

Ketika ikut menonton tarian kolosal Bentena Butuni yang dihadiri sekitar 2.000 penari usia sekolah sekepulauan Buton, dapat terlihat bagaimana ragamnya masyarakat Buton. Tipe wajah dan warna kulit mereka berbeda, padahal semuanya adalah masyarakat Buton. Sekarang, bisa dibayangkan, bahwa Pulau Buton, layaknya miniatur dari Indonesia.

Bersejarah dan Melekat

Perjalanan dilanjutkan melewati rumah-rumah panggung khas masyarakat Buton yang masih ada sampai sekarang. Melewati hutan dan seringkali terlihat kilauan dari air laut di sela-sela semak dan pepohonan. Kami tiba di Kota Pasarwajo, kota yang bersebelahan dengan Baubau. Di sini, didirikan tugu dengan hiasan aspal di atasnya. Tugu Aspal nilah yang menjadi monumen Pulau Buton sebagai penghasil aspal. Di perjalanan kembali ke Baubau, Budi tampak mengendarai mobil sambil sesekali menengok ke arah kanan, ke arah pepohonan yang membatasi jalan, hingga akhirnya ia berhenti.

Buton kerap disebut Negeri ...Buton kerap disebut Negeri Seribu Benteng. Pasalnya, banyak benteng-benteng kecil tersebar di sini. Yang paling besar adalah Benteng Keraton Wolio. (Amalia Nanda Ihsana)

“Di sini, ada pohon yang corak batangnya berbeda. Seperti corak baju tentara. Kadang orang menyebutnya pohon tentara,” ujarnya. Kami memasuki sedikit ke dalam hutan dan ada empat batang pohon yang memiliki ‘corak tentara’ dengan kias warna cokelat terang. Di sana tertancap papan nama bertuliskan Leda (Eucalyptus deglupta), termasuk jenis pohon kayu putih yang langka.

Kembali meneruskan perjalanan, Budi berkata, “Buton itu juga dibilang Negeri Seribu Benteng. Banyak benteng-benteng kecil tersebar di sini. Yang paling besar adalah Benteng Keraton Wolio.”

Benteng Keraton Wolio bukanlah peninggalan asing, tapi dibangun sendiri oleh masyarakat Buton sejak zaman Kerajaan Buton. Buton sendiri terdengar pertamakali pada naskah Negara Kertagama karya Prapanca di tahun 1365.

KOMENTAR