Mengenal Erupsi Freatik di Kawah Sileri Dieng
2017 / Juli / 3   19:46

Mengenal Erupsi Freatik di Kawah Sileri Dieng

Kawah Sileri Dieng mengalami erupsi freatik pada Minggu lalu. Apa sejatinya erupsi freatik dan apa bedanya dengan erupsi magmatik gunung berapi?

Mengenal Erupsi Freatik di Kawah Sileri DiengIlustrasi. Lanskap Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. (Reynold Sumayku)

Kawah Sileri Dieng mengalami menyemburkan uap hingga mencapai ketinggian 200 meter pada Minggu (2/7/2017). Dalam peristiwa tersebut, 17 wisatawan terluka dan dirawat di Puskesmas Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan erupsi kemarin merupakan letusan tipe freatik, yaitu letusan gas atau embusan asap dan material yang dipicu oleh tekanan di bawah permukaan. 

Lantas, apa bedanya letusan freatik dengan letusan magmatik?

Pakar kegunungapian dan kebencanaan Surono mengungkapkan, letusan freatik skalanya sangat kecil, terjadi karena tekanan uap air.

Surono mengibaratkan, letusan freatik layaknya uap yang keluar saat merebus air, tidak perlu tekanan tinggi untuk melontarkan tutup panci.

"Ukuran (letusan) magmatik jauh lebih besar," kata Surono saat dihubungi Kompas.com, Senin (3/7/2017). Dalam kasus letusan magmatik, tekanan jauh lebih tinggi.

“Merebus air saja, sekitar lebih dari 100 derajat. Tidak sampai sepanas gas magmatik. Magma kan asalnya 1.300 derajat Celsius kemudian mendingin menjadi gas, paling tidak 800 derajat celsius,” ujar Surono.

Letusan magmatik bisa melontarkan apa saja yang berada di dalam gunung berapi dengan jarak yang cukup jauh.

“Freatik paling-paling hanya lumpur saja. Batu kemungkinan bisa terlempar tapi paling jaraknya dekat. Tekanannya tidak tinggi,” ucap Surono.

Menurut Surono, potensi terjadinya letusan dapat diprediksi. Pengelola wisata dapat memberikan peringantan agar tidak memasuk dalam radius 100 meter dari bibir kawah.

"Itu kan di-warning sebelumnya bahwa jangan masuk dalam radius 100 meter dalam bibir kawah Sileri kan, artinya sudah dideteksi," kata Surono.

Jawan Surip, Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Dieng, mengatakan, gejala letusan freatik sebenarnya bisa dideteksi lewat peningkatan suhu, dari normal 60 derajat celsius menjadi 73-74 derajat celsius.

Pihaknya pun sebenarnya sudah memberikan peringatan sejak 24 Mei 2017. Sayangnya, masih banyak pengunjung yang belum mematuhi peringatan itu.

Artikel ini sudah pernah tayang sebelumnya di Kompas.com dengan judul: Letusan Dieng dan Uap yang Melontarkan Tutup Panci.

(Sumber: Kompas.com)

KOMENTAR