Lukisan Taktil, Cara Ungkapkan Seni Kepada Kaum Tunanetra
2017 / Juli / 7   15:00

Lukisan Taktil, Cara Ungkapkan Seni Kepada Kaum Tunanetra

Melalui sentuhan, John Olson, mantan fotografer, dan timnya, membuat lukisan yang dapat "dilihat" oleh para tunanetra.

Lukisan Taktil, Cara Ungkapkan Seni Kepada Kaum TunanetraLukisan taktil bisa membuat para tunanetra merasakan apa yang kita lihat. (Foto: Rebecca Hale, Staf NGM. Lukisan: 3DPhotoworks)

Untuk menghargai lukisan, kita diajarkan untuk melihat warna, komposisi, dan cahaya. Namun, bagaimana ini bisa dinikmati oleh tunanetra? Melalui sentuhan—satu larangan yang tercantum di galeri. John Olson, mantan fotografer, dan timnya, membuat lukisan menjadi model 3-D bertekstur, seperti “Portrait of Dr. Gachet” karya Van Gogh.

Lukisan taktil ini adalah cara mengungkapkan seni kepada kaum tunanetra: Kita melihat dengan otak. Penelitian di bidang neuroplastisitas—adaptabilitas otak—menunjukkan bahwa korteks visual dirangsang oleh sentuhan. Orang tunanetra melihat bentuk dengan indra yang ada, proses yang umumnya meniru orang-orang yang dapat melihat, ungkap Ella Striem-Amit, ilmuwan saraf Harvard.

Luc Gandaria (13), buta mendadak pada usia tujuh tahun. Ketika meraba pencitraan 3-D “Mona Lisa” Leonardo da Vinci, ia langsung bisa melihat senyumannya: “Secara harfiah saya bisa merasakan apa yang Anda lihat.”

Bagi Luc, ini berarti kemerdekaan. “Rasanya seperti menghancurkan tembok lain dalam kebutaan,” ujarnya.

(Natasha Daly/National Geographic)

KOMENTAR