Kasus Langka, Seorang Anak Bisa Kontrol HIV dalam Tubuhnya Tanpa Obat

Kasus Langka, Seorang Anak Bisa Kontrol HIV dalam Tubuhnya Tanpa Obat

Anak tersebut bisa bertahan hidup dan mengendalikan virus dalam kondisi tak terdeteksi meskipun sudah bertahun-tahun tidak mengonsumsi anti retroviral (ARV).

Kasus Langka, Seorang Anak Bisa Kontrol HIV dalam Tubuhnya Tanpa ObatVirus HIV (SPL via BBC Indonesia)

Seorang anak dari Afrika Selatan menjadi perbincangan dalam International AIDS Conference ke 9 yang diadakan Paris minggu lalu.

Pasalnya, dia bisa bertahan hidup dan mengendalikan virus dalam kondisi tak terdeteksi meskipun sudah bertahun-tahun tidak mengonsumsi anti retroviral (ARV).

Para ilmuwan yang mengikuti konferensi itu mengatakan, kasus pada anak yang identitasnya dirahasiakan itu merupakan pertama kali di Afrika dan ketiga di dunia.

"Ini sangat langka," kata Avy Violari, Kepala Unit Penelitian HIV Parilahir (periode 5 bulan sebelum kelahiran hingga 1 bulan sesudahnya) di University of Witwatersrand di Afrika Selatan.

Sang anak lahir 9 tahun lalu dengan status HIV positif. Violari dan timnya segera memberikan perawatan anti-retroviral segera setelah lahir hingga 40 minggu.

Setelah 8,5 tahun menghentikan pemberian ARV, Violari melakukan viral load pada sang anak akhir 2015 lalu. Hasilnya, virus tetap tidak terdeteksi.

Status virus yang tidak terdeteksi menunjukkan, tubuh sang anak bisa mengontrol pertumbuhan virus.

Pada 99 persen orang dengan HIV, jumlah virus akan meningkat kembali jika tidak mengonsumsi ARV. Hanya orang yang secara genetik resisten terhadap HIV yang bisa mengontrolnya.

Anak dalam kasus ini tidak termasuk dalam golongan orang yang punya "bakat" genetik melawan HIV sehingga kasusnya menarik.

Violari menilai, kasus langka ini memberi harapan. "Dengan mempelajarinya, kami berharap bisa menemukan cara menghentikan perawatan," katanya seperti dikutip CNN, Senin (24/7/2017).

Dari 2005 - 2011, pakar HIV dunia melakukan proyek riset Children with HIV Early Antiretroviral Therapy, (CHER).

Dalam proyek itu, para ilmuwan memberikan perawatan ARV segera pada 370 bayi yang terinfeksi HIV. Terapi ARV berlangsung selama 40 - 96 minggu.

Data mengungkap, terapi ARV segera berhasil mengurangi angka kematian hingga 76 persen dan mencegah perkembangan penyakit hingga 75 persen.

(Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com)

KOMENTAR