Jangan Mengaku Liburan ke Bali Jika Melewatkan 4 Tarian Ini
2017 / Juli / 26   17:57

SANG HYANG DEDARI

Jangan Mengaku Liburan ke Bali Jika Melewatkan 4 Tarian Ini

Liburan ke Bali tak akan terasa lengkap jika Anda melewatkan empat tarian khas Pulau Dewata berikut ini.

Jangan Mengaku Liburan ke Bali Jika Melewatkan 4 Tarian IniTari kecak di Pura Uluwatu, Bali. (Muhd Rushdi Samsudin/Wikimedia Commons)

Mengeksplorasi Pulau Dewata memang tak akan ada habisnya. Pemandangan alam yang mempesona, budaya yang kental dan kaya, serta berbagai tempat wisata yang memanjakan mata, menggoda untuk segera dijelajahi.

Tidak hanya itu, aktivitas yang juga sayang dilewatkan ketika menyambangi Bali adalah menyaksikan tarian khas yang membuat siapa pun berdecak kagum. Berikut 4 tarian yang wajib disaksikan ketika berkunjung ke Pulau Dewata.

Tari Baris Upacara

Tari Baris Upacara merupakan tarian yang digunakan sebagai persembahan tulus kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Konon, ketika ada pertunjukan tarian ini, para dewa ikut menari dengan gayanya masing-masing.

Selain sebagai sarana upacara, tari ini juga digunakan sebagai tarian kepahlawanan. Hal itu dapat dilihat dari gerakannya yang berbaris—seperti namanya—seakan sedang upacara.

(Artikel terkait: Para Maestro Legendaris Di Balik Tarian Bali yang Populer)

Tarian ini menggunakan iringan musik gamelan Gong Gede atau gamelan sejenis yang mampu mengimbangi keelokan gerakan penari. Tidak seperti tarian lainnya, Tari Baris Upacara tidak memiliki cerita atau tokoh utama.

Tari Kecak

Tari Kecak adalah sebuah dramatari yang sangat terkenal di Bali. Sekitar 50 sampai 60 orang pria menggerakkan tangannya ke atas dan mengeluarkan suara “cak, cak, cak” secara bersamaan dan terus menerus, menghasilkan irama yang harmonis.

Awalnya, Tari Kecak merupakan bagian dari Tari Sanghyang. Namun, pada tahun 1930an, tarian ini membentuk pertunjukkan sendiri dengan mengandalkan Ramayana sebagai lakonnya.

“Babuletan”—kain yang dipakai secara dicawatkan—dan kampuh poleng menjadi busana khas tarian ini. Lampu bernama “panyembeyan” disusun menyerupai candi untuk pertunjukan tersebut.

Tari Topeng Sidakarya

Topeng Sidakarya merupakan tarian penyempurna ritual keagamaan. Tarian ini menandakan selesainya sebuah upacara keagamaan. Topeng Sidakarya menjadi simbol bahwa apa yang diusahakan sudah mencapai maksimal. Meskipun merupakan bagian dari ritual sakral, tarian ini cukup menghibur penonton yang menyaksikannya.

Tarian ini dilakukan oleh laki-laki yang menggunakan topeng berwarna putih, bermata sipit, gigi tonggos, rambut panjang sebahu, dan memakai kerudung putih yang dipakai sebagai azimat.

(Artikel terkait: Yuk, Kenali 5 Tarian “Hits” di Pulau Dewata)

Beberapa gerakan Topeng Sidhakarya mengajarkan etika kepada manusia. Misalnya, gerakan menutup mulut topeng yang bergigi tonggos menandakan bahwa kita harus menutupi keburukan. Selain itu, adegan menabur beras di akhir tarian juga melambangkan perilaku berbagi rezeki kepada sesama.

Tari Barong

Tari Barong merupakan salah satu tarian adat peninggalan budaya Pra Hindu yang terimplementasi pada sebuah boneka berwujud binatang berkaki empat yang mengandung kekuatan magis.

Topeng Barong berasal dari kayu yang diambil dari tempat-tempat angker seperti kuburan. Oleh karena itu, Barong dianggap sebagai benda yang sakral bagi masyarakat Hindu di Bali.

Pertunjukkan ini bisa dilakukan dengan atau tanpa lakon. Diawali dengan pembukaan oleh alunan musik gamelan, Barong menampilkan gerak tubuh yang mampu mencirikan budaya yang diusung.

(Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Tari Kontemporer Bali, Tarian “Lepas” di Pulau Dewata)

Beberapa jenis tarian Barong yang masih eksis hingga saat ini adalah Barong Ket, Barong Bangkal, Barong Brutuk, dan masih banyak lagi.

Tari Pendet

Tari Pendet adalah tarian penyambutan atau tarian selamat datang yang dilakukan secara kelompok maupun perseorangan. Awalnya, tarian ini digunakan sebagai tari pemujaan yang ditampilkan di berbagai pura di Bali. Tari Pendet menampilkan pemujaan atas turunnya dewa di dunia. Tarian ini biasanya ditampilkan setelah tari Rejang di halaman pura.

Dengan mengenakan pakaian upacara, para penari membawa beberapa perlengkapan sajen, kendi, sangku—tempat air dari tembaga untuk mencuci tangan—dan cawan sebagai pelengkap gerakan dinamisnya sembari menghadap ke arah suci pura.

(Citra Anastasia)

KOMENTAR