Menghidupkan Kembali Nebiri, Mumi Mesir Kuno Berusia 3.500 Tahun
2017 / Juni / 20   18:00

Menghidupkan Kembali Nebiri, Mumi Mesir Kuno Berusia 3.500 Tahun

Ilmuwan berhasil merekonstruksi wajah dan otak Nebiri, mumi tokoh elit Mesir kuno berusia 3.500 tahun melalui forensik modern. Bagaimana rupanya?

Menghidupkan Kembali Nebiri, Mumi Mesir Kuno Berusia 3.500 TahunKepala mumi Nebiri, seorang petinggi Mesir yang hidup di bawah pemerintahan Dinasti Thutmoses III. (Francesca Lallo)

Tim ilmuwan internasional sukses merekonstruksi wajah dan otak mumi Mesir kuno berusia 3.500 tahun dan mengungkap teknik mumifikasi unik yang diterapkan pada tokoh-tokoh elit pada era Mesir kuno.

Mumi tersebut merupakan Nebiri, seorang petinggi Mesir yang hidup pada masa pemerintahan Dinasti Thutmoses III (1479-1425 SM). Mumi Nebiri menjadi terkenal dua tahun yang lalu ketika dia didiagnosis menderita kasus gagal jantung kronis tertua.

Saat ditemukan oleh ahli Mesir kuno Ernesto Schiaparelli pada 1904 silam, mumi hanya terdiri dari kepala yang masih terawetkan dengan baik dan sebuah guci berisi organ-organ dalamnya. 

“Dia berusia antara 45-60 tahun saat meninggal,” ujar Raffaella Bianucci, bioantroprolog di  Legal Medicine Section di University of Turin. “Makamnya di Lembah Queens dijarah di zaman purbakala dan tubuhnya sengaja dihancurkan,” tambahnya.

Kini, Nebiri “dihidupkan kembali” melalui forensik modern. Dengan  menggunakan computed tomography dan teknik rekonstruksi wajah, para peneliti menghasilkan perkiraan wajah yang mengesankan.

Dengan menggunakan computed ...Dengan menggunakan computed tomography dan teknik rekonstruksi wajah, para peneliti menghasilkan perkiraan wajah Nebiri. (Philippe Froesch)

Hasil rekonstruksi menunjukkan Nebiri sebagai laki-laki dengan hidung mancung, rahang lebar, alis lurus dan bibir agak tebal.

Philippe Charlier, seorang ahli patologi forensik dan antroplog fisik di University of Paris 5 mengatakan bahwa rekonstruksi ini bukan sekadar seni belaka.

“Ini merupakan pekerjaan forensik serius berdasarkan teknik rekonstruksi wajah dan jaringan lunak terbaru yang memiliki superposisi tengkorak. Di luar keindahan, ada kenyataan anatomis,” ungkapnya.

Data kimia awal pada tahun 2013 silam mengungkap bahwa perban pada mumi Nebiri mengandung campuran kompleks dari lemak hewani atau minyak nabati, balsam atau tanaman aromatik, resin konifera dan resin pistacia yang dipanaskan. Hasil CT scan terbaru menunjukkan bahwa perban tersebut dimasukkan dengan sangat hati-hati hampir ke seluruh bagian kepala: di hidung, telinga, dan mulut. Selain itu, perban juga ditambahkan ke dalam mulut untuk mengisi pipi.

Sejauh ini, para peneliti menganggap bahwa mumifikasi pada kepala Nebiri merupakan yang paling sempurna.Teknik perawatan kepala yang digunakan untuk mumifikasi Nebiri semakin menegaskan bahwa dulunya Nebiri menyandang status "elit tinggi" semasa hidupnya.

“Pembungkusan yang teliti menciptakan penghalang untuk melindungi tubuh dari kolonisasi serangga. Di waktu yang sama, tindakan itu memiliki tujuan kosmetik, yaitu mempertahankan penampilan asli fitur wajah dan leher,” jelas Bianucci.

Rekonstruksi otak Nebiri. Rekonstruksi otak Nebiri. (Philippe Froesch)

Menariknya lagi, CT scan menunjukkan adanya sebuah lubang kecil pada struktur pelat cribriform, yang memisahkan rongga hidung dari otak. Meski terdapat lubang, namun otak tak dikeluarkan dari rongga keplala.

Pelubangan pada lempeng cribriform tidak dilakukan untuk mengestrak otak, tetapi untuk memasukkan linen. Memang, fragmen-fragmen linen masih terlihat di dalam jaringan serebral yang mengalami dehidrasi.

Dengan menggunakan data dari CT scan, para peneliti dapat melakukan rekonstruksi permukaan otak secara 3D, yang memungkinkan mereka merekonstruksi jaringan lunak yang hancur atau mengalami perubahan post-mortem.

Dalam laporan yang diterbitkan di jurnal Forensic Science, Medicine and Pathology, para peneliti mengatakan bahwa studi ini menyoroti pentingnya menggunakan teknik forensik modern untuk meningkatkan teknologi diagnosis retrospektif baru pada sisa-sisa manusia yang berubah, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan kita tentang populasi masa lalu.

(Lutfi Fauziah. Sumber: Live Science dan Forensic Science, Medicine and Pathology)

KOMENTAR