Burung-burung yang Tak Dapat Terbang
2017 / Juni / 8   19:04

Burung-burung yang Tak Dapat Terbang

Beberapa jenis burung telah memutuskan bahwa mereka tak butuh kemampuan terbang, dan memilih hidup dengan menjejak Bumi.

Burung-burung yang Tak Dapat TerbangKasuari. (Thinkstock)

Kita mengenal burung sebagai makhluk yang istimewa karena dapat terbang. Kemampuan burung ini telah menginspirasi kita untuk menciptakan alat bantu agar kaum manusia juga dapat menjelajah angkasa. Tapi tahukah Anda, beberapa jenis burung telah memutuskan bahwa mereka tak butuh kemampuan terbang, dan memilih hidup dengan menjejak Bumi. Atau dalam kasus penguin, menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya di dalam air.

Banyak spesies burung yang hidup di daratan yang pada akhirnya punah dalam waktu singkat ketika manusia mulai menjelajah planet ini. Para burung yang telah lama melupakan bagaimana caranya terbang, menjadi sasaran empuk perburuan yang dilakukan oleh manusia dan hewan-hewan pendampingnya seperti anjing atau kucing.

Spesies burung tak dapat terbang yang masih bertahan umumnya berukuran  terlalu besar, seperti burung unta, atau berada di kawasan yang terlalu terpencil, seperti penguin. Namun, ada pula sedikit spesies burung tak dapat terbang yang selamat berkat tempat tinggal yang relatif aman dari predator, atau berkat manusia yang berubah dari lawan menjadi kawan.

Berikut ini beberapa jenis burung yang telah melupakan bagaimana caranya terbang. 

Kakapo

Kakapo (Strigops habroptilus)Kakapo (Strigops habroptilus) (Mnolf/Wikimedia Commons)

Kakapo merupakan spesies beo asal Selandia Baru yang cukup menonjol dalam beberapa hal. Pertama dan paling utama, Kakapo merupakan satu-satunya beo di dunia yang tak dapat terbang. Kakapo juga merupakan hewan nokturnal, hal yang cukup langka di kalangan spesies beo di seluruh dunia. Ia juga merupakan spesies beo yang paling berat di dunia, sehingga cukup masuk akal jika Kakapo tak bisa terbang karena tubuhnya terlalu berat.

Campbell teal

Campbell tealCampbell teal (Kahuroa/Wikimedia Commons)

Teal merupakan sebutan untuk itik berukuran mungil dari genus Anas (famili Anatidae). Ada dua spesies teal yang tak bisa terbang, yaitu Auckland teal dan Campbell teal. Keduanya merupakan hewan nokturnal, yang gemar berburu serangga dan amphipoda. Sesuai namanya, mereka awalnya ditemukan di Pulau Champbell, Selandia Baru.

Titicaca grebe

Titicaca GrebeTiticaca Grebe (Tsirtalis/Wikimedia Commons)

Burung grebe memang begitu menggemaskan, tetapi spesies inilah yang paling merebut perhatian karena keimutannya. Titicaca merupakan jenis burung grebe yang tak dapat terbang. Spesies ini ditemukan di Peru dan Bolivia. Sebagian besar menghuni Danau Titicaca, dan sisanya tersebar di danau-danau lain di sekitarnya. Meskipun tak dapat terbang, Titicaca grebe sangat jago berenang dan menangkap ikan-ikan kecil sebagai mangsa mereka.

Titicaca grebe memang relatif aman dari serangan predator, namun ancaman datang dari jaring para nelayan. Sering kali, jaring-jaring tersebut meneggelamkan Titicaca grebe yang bertubuh mungil. Akibatnya, kini spesies tersebut termasuk dalam daftar hewan terancam punah.

Kiwi

Burung KiwiBurung Kiwi (Glen Fergus/Wikimedia Commons)

Kiwi merupakan salah satu burung tak dapat terbang yang cukup populer karena menjadi simbol nasional Selandia Baru. Tubuhnya berukuran cukup kecil, sehingga mungkin saja kita melewatkannya. Kiwi telah lama tak menggunakan kemampuan terbangnya, sehingga sayap-sayapnya hampir tak terlihat di antara bulu-bulu halus yang membungkus tubuh mereka.

Kasuari

Kasuari. Kasuari. (Thinkstock)

Ada tiga jenis kasuari di dunia, yaitu kasuari gelambir tunggal, kasuari gelambir ganda dan kasuari kerdil. Kasuari merupakan burung dengan bobot terberat ke dua di dunia, setelah burung unta. Kasuari memang tak dapat terbang, tapi jangan remehkan kemampuan burung yang satu ini. Mereka memiliki kaki yang sangat kuat, dan memiliki kekuatan tendangan yang cukup besar. Panjang cakar mencapai 13 cm, dan mereka bisa berlari dengan kecepatan 50 km/jam. Meski kasuari telah beradaptasi dengan kehadiran manusia di sekitarnya, tapi jangan coba-coba membuat masalah dengan mereka ya!

(Lutfi Fauziah/Sumber: Mother Nature Network)

KOMENTAR