Bersama Mewartakan Pesan Peradaban
2017 / Juni / 14   11:45

PEINGATAN HARI PURBAKALA NASIONAL

Bersama Mewartakan Pesan Peradaban

‘Di National Geographic, kami meyakini kekuatan ilmu pengetahuan, penjelajahan, dan cara bertutur untuk mengubah dunia.’

Bersama Mewartakan Pesan Peradaban“Melintasi Sangkala di Cekungan Purba”, National Geographic Traveler, November 2013. Cerita tentang perjalanan merunut kembali awal sejarah peradaban manusia di situs keramat warisan dunia, ketika para ahli arkeologi menyingkap temuan kepala stegodon dan kerbau purba di Grogolan Wetan, Sangiran. (National Geographic Traveler)

Saya ingin mengingat kembali sebuah kenangan lama. Pembahasan bertema arkeologi menjadi tema yang senantiasa memikat untuk diungkap oleh National Geographic Indonesia. Tema ini juga menduduki kelompok peringkat teratas yang digandrungi pembaca—baik pembaca versi cetak maupun daring.

Bahkan, edisi perdana National Geographic Indonesia—yang terbit pada April 2005—menampilkan cerita sampul temuan fosil manusia kate (Homo floresiensis) di Liang Bua, Flores. Raut wajah manusia kate itu direkonstruksi oleh seniman John Gurche, seniman asal Amerika yang pernah menjadi konsultan Jurassic Park. Sementara, kisah bertajuk “Mereka yang Terlewatkan Waktu” ditulis oleh Mike Morwood, Thomas Sutikna (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional), dan Richard Roberts. Fotografer yang bertugas, Kenneth Garrett.

Boleh jadi edisi ini merupakan kegegeran berganda yang kebetulan. Pertama, majalah yang ‘mengegerkan’ Indonesia karena memang baru terbit. Kedua, cerita sampulnya mengungkap temuan para arkeolog yang ‘menggegerkan’ dunia ilmu pengetahuan sejagad.

Metropolitan yang Hilang, ...“Metropolitan yang Hilang”, National Geographic Indonesia, September 2012. Satu-satunya yang tersisa: Reruntuhan ibu kota dengan jaringan kanal yang menyeruak di permukiman desa. Siapkah kita menerima kemegahannya kembali? Kisah feature dan sisipan poster dua sisi. Sisi peta yang menampilkan kanal-kanal Trowulan mengarah ke Gunung Penanggungan. Sisi seninya menampilkan hunian pada masa majapahit, direkonstruksi dari temuan di Situs Segaran; gambaran denah gugusan permukiman; gambaran denah kawasan Kota Majapahit. (National Geographic Indonesia)

Namun, kita bolehlah mengutip pemeo lama bahwa sejatinya tidak ada kebetulan belaka dalam kehidupan ini. Saya meyakini perkara itu. Kisah feature tentang  Homo floresiensis tadi ditakdirkan mengawali pertalian antara National Geographic Indonesia dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Kelak, pada tahun-tahun berikutnya, sederet kisah tentang temuan arkeologi telah memberi rona pada perjalanan media ini. Jurnalisme telah membuat temuan arkeologi menjadi suatu pembahasan yang menarik dan relevan untuk konteks masyarakat zaman sekarang.

Jurnalis dan Arkeolog

Semua orang paham bahwa keduanya memiliki peran yang berbeda dalam masyarakat. Para ahli arkeologi telah berupaya menyingkap pesan peradaban, sementara para jurnalis—sebagai pembawa pesan—akan berupaya sebaik-baiknya mewartakan temuan mereka kepada semesta.

Apabila kita membicarakan perbedaan-dan-perbedaan-dan-perbedaan di negeri ini, saya yakin perkara itu menjadi pembahasan yang tak berkesudahan. Belakangan, saya teringat kata-kata Gus Dur, “semakin berbeda kita, maka semakin jelas titik persamaan kita.”

Jurnalis—khususnya di National Geographic—dan arkeolog memang berbeda, namun tidak selamanya berseberangan. Berita telah memuaskan dorongan hati manusia yang mendasar. Namun, salah satu persamaan jurnalis dan arkeolog, menurut pandangan saya, adalah keduanya tidak bermula dan berakhir dengan sekadar kabar atau berita. Sikap ingin tahu yang bangkit pada awal pemikiran keduanya merupakan dasar persamaan antara jurnalis dan arkeolog. Soal ini keduanya memang sama-sama kepo. Saya tidak mengada-ada—dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kepo bermakna “rasa ingin tahu yang berlebihan tentang kepentingan atau urusan orang lain”.

Angan di Liyangan, National ...Angan di Liyangan”, National Geographic Indonesia, Juni 2015. Cerita tentang krisis tembakau di ngarai Gunung Sundoro yang telah melahirkan berkah dan kegairahan baru bagi warga dusun dalam memerami tinggalan leluhur mereka. (National Geographic Indonesia)

Sisi persamaan lainnya, keduanya memiliki kewajiban pada akurasi, kejujuran, dan kebenaran. Dalam hal ini, jurnalis dan arkeolog bersama-sama melakukan verifikasi atas temuan mereka. Keduanya  menyingkap kebenaran dalam peradaban yang samar-samar dengan cara memilah awal fakta dan informasi keliru yang turut hadir bersamanya.

Selanjutnya, jurnalis dan arkeolog juga memiliki kesamaan minat dalam menjelajah. Saya kagum dengan para arkeolog Indonesia yang telah memintas hutan, menjelajah gua, hingga menyelami lautan demi menyingkap peradaban Nusantara. Penjelajahan memang dapat lebih dalam mendefinisikan kehidupun kita. Kerap saya berpikir, sayang sekali apabila kerja keras mereka—bahkan sampai bertaruh nyawa—hanya berakhir di lemari buku. Sebagai pembawa pesan, seorang jurnalis acap kali berinisiatif untuk mewartakannya dalam kisah memikat. Harapannya, jurnalis akan meramu pengetahuan dalam laporan ilmiah tadi sehingga bisa dikemas lebih lezat saat disimak masyarakat.  

Misi Si Pembawa Pesan

Susan Goldberg, Editor in Chief National Geographic, pernah mengatakan, “Kami meyakini kekuatan ilmu pengetahuan, penjelajahan, dan cara bertutur untuk mengubah dunia.”

Saya meyakini peran ilmu pengetahuan dalam mengubah cara pandang kita tentang kehidupan. Penemuan teknologi di setiap peradaban merupakan jawaban peradaban itu dalam meretas kesulitan. Salah satu penelitian telah menunjukkan cara pandang nenek moyang kita terhadap alam, yang mungkin dapat memberi inspirasi kepada kita tentang bagaimana seharusnya hidup berbudaya bersama alam.  

Tapak Jejak Pitarah Sumatra, ...“Tapak Jejak Pitarah Sumatra”, National Geographic Indonesia, Januari 2013. Harimau mengekalkan gambar cadas dan kompleks permakaman purba terpadat dan terlangka di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Kisah feature ini juga menampilkan infografis reka ulang kehidupan Gua Harimau, konteks gambar cadas, denah gua. (National Geographic Indonesia)

Kita menyukai penjelajahan. Sejak nenek moyang kita meninggalkan Afrika sekitar 60.000 tahun silam, dorongan untuk melintasi batas pengetahuan manusia telah membentuk kebudayaan kita. Tampaknya, kita mewarisi jiwa nenek moyang yang tak lelah mengembara. Saya beberapa kali berkesempatan mengikuti ekskavasi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Lewat penjelajahan, saya juga menyaksikan betapa para arkeolog berupaya menyingkap berbagai temuan—yang mencengangkan—tentang peradaban kita pada masa silam. Dari temuan sepetak kawasan di Trowulan yang diduga bagian dari keraton Majapahit, peradaban gua dan makna gambar cadas, hingga temuan kapal selam semasa perang dunia kedua.

Kita juga dapat mengubah pemahaman masyarakat melalui bagaimana cara bertutur. Salah satu kiatnya, kita mencoba mewartakan kepada masyarakat, dengan cara melibatkan mereka dalam tema-tema penting dan mendesak. Harapannya, masyarakat bisa lebih memahami permasalahan dan turut dalam proses pelestarian lantaran tema tersebut bagian dari kehidupan mereka. 

Fenomena Belenggu Arkeokrat?

Saya mengadaptasi istilah yang digunakan Andrew Goss dalam judul bukunya Floracrats: State-Sponsored Science and the Failure of the Enlightenment in Indonesia, terbit pada awal dekade ini. Goss bercerita tentang ilmuwan-ilmuwan botani di Indonesia yang terjebak dalam kelas birokrat—yang dia juluki “Floracrats”. Kendati ilmuwan, mereka terbelenggu oleh segala aturan negara tentang apa yang seharusnya mereka teliti.

Memburu Sang Pemburu, National ...“Memburu Sang Pemburu”, National Geographic Indonesia, Mei 2014. Sekawanan serigala kelabu, yang paling ditakuti selama Perang Dunia II, menggerayangi perairan Nusantara dalam senyap. Ahli arkeologi berhasil menyingkap satu misteri persemayamannya. Kisah ini juga menampilkan infografis kapal selam U-Boot Tipe IXC/40, denah temuan, beberapa dugaan lokasi U-Boot yang berada di kawasan Indonesia, peta rute U-Boot ke Asia, dan reka ulang sosok seragam perwira lewat temuan kancing dan sepatunya. (National Geographic Indonesia)

Saya melihat ada kemiripan dengan apa yang terjadi dalam dunia ilmuwan arkeologi di negeri ini. Para peneliti sebuah situs yang berpotensi memiliki temuan akbar, tampaknya harus rela untuk meneliti dalam jangka waktu yang sangat pendek. Penelitian pasti menghasilkan temuan, namun berjalan sangat pelan. Saya memahaminya, mungkin karena dana yang terbatas, atau juga penelitian itu belum menjadi prioritas negara.

Pemikiran ini tidak bermaksud menegaskan bahwa sebuah penelitian harus menyingkap tuntas apa yang ingin kita ketahui. Kadang, para ahli arkeologi pun harus rela menyisakan banyak  pertanyaan yang kita sendiri belum mampu menjawabnya.

Sementara penelitian reguler tetap berjalan, apakah memungkinkan apabila pemerintah memberikan semacam kompetisi antarpeneliti untuk membuat proposal penelitian yang cemerlang? Kelak, proposal yang memenuhi kriteria akan menjadi proyek penelitian unggulan. Penelitian inilah yang akan mendapatkan prioritas hibah pendanaan lebih besar sehingga penelitian bisa lebih mendalam.

Ketika Profesor Riset Harry Truman Simanjuntak masih berkarya di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, saya teringat ucapannya tentang wajah arkeologi di Indonesia.

“Arkeologi berangkat dari kelampauan, bermuara pada kekinian, dan berproyeksi ke masa depan. Luar biasa bukan?” ucap Pak Truman dengan intonasi yang mantap. Kemudian, beliau buru-buru melanjutkan bicara, “Tetapi, arkeologi adalah ilmu yang sepi dari tepuk tangan, langka dalam perbincangan, dan jauh dari kemewahan atau kekayaan.”

Edisi perdana majalah National ...Edisi perdana majalah National Geographic Indonesia, April 2005, yang mengungkap temuan fosil Homo floresiensis di Liang Bua, Flores. Dan, edisi Juni 2016 yang berkisah tentang penjarahan benda-benda pusaka di Indonesia yang tak berkesudahan. (Mahandis Y. Thamrin/National Geographic Indonesia.)
Editor National Geographic Indonesia dan National Geographic Traveler. "We believe in the power of science, exploration, and storytelling to change the world."

KOMENTAR