Saulak, Tradisi Pra-nikah nan Mistis Suku Mandar di Banyuwangi

2017 / Mei / 3   17:27

Saulak, Tradisi Pra-nikah nan Mistis Suku Mandar di Banyuwangi

Bagi masyarakat Suku Mandar, tradisi saulak merupakan bentuk penghormatan kepada arwah leluhur, memohon keselamatan dan memperat tali silaturahmi.

Saulak, Tradisi Pra-nikah nan Mistis Suku Mandar di BanyuwangiAchmad Farul calon pengantin pria sedang menjalani adat Saulak di Banyuwangi. (Ira Rachmawati/Kompas.com)

Seorang perempuan setengah baya menggunakan kerudung terlihat menata beberapa bunga diatas nampan yang diletakkan di atas lantai. Dia juga menyiapkan beberapa "colok" yang terbuat dari bambu, dibalut dengan kemiri yang dihaluskan dan dicampur dengan minyak.

Nantinya saat Saulak dimulai, colok akan dibakar. Perempuan yang bernama Lilik Dahlia disebut Passili yang akan memimpin upacara adat Saulak di kalangan Suku Mandar yang tinggal di Banyuwangi.

"Menjadi Passili adalah keturunan. Dulu ibu saya sekarang saya," kata Lilik.

Lilik menjelaskan adat Saulak harus dilakukan kepada pasangan yang akan menikah yang salah satunya adalah keturunan suku Mandar. Sebelum Saulak dimulai, keluarga calon mempelai akan membuat lingkaran dan beberapa sesaji disiapkan antara lain bunga tiga rupa, "colok" yang telah dibakar, tumpukan baju serta tumpeng kecil dengan pisang yang diletakkan di nampan.

Menurut Lilik, sesaji tersebut termasuk beberapa jenis minyak yang digunakan harus dibuat oleh perempuan yang sudah menapouse. Kemudian calon pengantin perempuan yang bernama Putri Cempaka Akhir (27) dipanggil dan diminta tidur ditengah lingkaran keluarga dan kerabat yang hadir saat adat Saulak.

Sebuah payung dibuka tepat diatas calon pengantin yang sudah tidur terlentang. Tidak ketinggalan sebuah tombak juga dipegang bersebelahan dengan payung. Lilik kemudian membaca doa-doa dan memegang telur yang dilumuri minyak yang kemudian dioleskan dibeberapa bagian tubuh Putri Cempaka seperti di dahi, belakang leher, tangan, perut dan kaki.

Setelah itu tumpukan kain dan baju diletakkan di atas wajah sang pengantin, lalu dipegang secara bergantian oleh kerabat yang hadir dan duduk melingkar sebanyak tiga kali putaran. Setelah tumpukan baju, hal yang sama juga dilakukan pada bunga tiga rupa serta colok yang sudah dibakar.

Terakhir adalah tumpeng kecil serta pisang yang kemudian diletakkan di atas perut pengantin perempuan setelah diputar tiga kali. Passili kemudian mencoba untuk mengangkat nampan namun terlihat kesulitan dan nampan yang berisi sesaji tetap menempel tepat diatas perut pengantin perempuan.

Ia kemudian meminta kepada ayah kandung calon pengantin perempuan untuk menarik nampan tersebut dari atas perut.

"Baca sholawat dulu. Tapi jangan diangkat, digeser saja. Semoga mau lepas," kata Lilik.

Dengan perlahan, ayah kandung calon pengantin perempuan berusaha melepas nampan dari atas perut anaknya namun gagal. Kemudian ibu kandung calon pengantin juga diminta untuk melakukan hal yang serupa. Raut wajah lega terlihat ketika nampan yang menempel diatas perut calon pengantin perempuan berhasil dilepas oleh ibu kandungnya.

"Alhamdulilah. Ternyatanya maunya sama ibunya. Untungnya nggak minta macam-macam," kata Lilik sambil tersenyum.

Biasanya, kata Lilik, ada beberapa syarat yang diajukan agar nampan mau lepas dari atas perut seperti harus disediakan cincin atau benda-benda lain.

"Ketika saulak ada yang minta yang mengangkat nampan orang yang sedang lewat depan rumah. Padahal tidak saling kenal. Ada yang minta disediakan cincin," katanya.

Selama adat Saulak, akan ada seorang laki-laki yang memutar bagian bawah dua gelas hingga mengeluarkan bunyi-bunyian khas. "Itu syarat agar upacara berjalan lancar," katanya.

Setelah Saulak dilakukan pada calon pengantin perempuan, dilanjutkan pada calon pengantin pria dengan proses yang sama. Nampan yang menempel di perut calon pengantin pria yang bernama Achmad Fahrul digeser dengan mudah oleh ayah kandungnya yang hadir pada adat Saulak. Fahrul mengaku merasakan jika nampan menempel kuat diatas perutnya.

"Sepertinya nggak percaya tapi ya nyata. Untung nggak lama," katanya sambil tersenyum.

Ia mengatakan tidak masalah harus mengikuti adat yang dimiliki oleh calon istrinya. "Saat memutuskan menikah keluarga calon istri bilang jika nanti di-saulak. Saya sempat cari tahu apa itu Saulak dan keluarga besar saya juga tidak mempermasalahkannya. Beda suku kan beda adat," jelasnya.

Samsul Arifin, tokoh Suku Mandar yang ada di Banyuwangi yang juga ayah kandung calon pengantin perempuan mengatakan Saulak adalah salah satu upacara adat yang masih dilestarikan oleh masyarakat Banyuwangi yang masih memiliki darah keturunan Mandar.

"Ada ratusan kepala keluarga di Banyuwangi yang masih keturunan Mandar Sulawesi dan masih menghidupkan adat Saulak pada saat pernikahan termasuk juga saat anggota keluarga ada yang hamil," katanya.

Putri Cempaka (27) sedang ...Putri Cempaka (27) sedang menjalani adat Saulak jelang pernikahannya. (Ira Rachmawati/Kompas.com)

Warga suku Mandar yang ada di Banyuwangi adalah keturunan Tuk Kapitan yang bermukim di wilayah kerajaan Blambangan yang meninggal pada tahun 1718. Tuk Kapitan adalah gelar yang diberikan Belanda. Nama asli Tuk Kapitan adalah Tuk Yasmin dan dia yang memimpin seluruh warga suku Mandar yang tinggal di wilayah Kerajaan Blambangan yang menjadi cikal bakal Kabupaten Banyuwangi.

Menurut Samsul, masyarakat di kerajaan Blambangan dikotak-kotakkan sesuai dengan sukunya dan masing masing dipimpin oleh ketua suku. "Saat itu ada Tuk Arab dan Tuk Cina. Jika ada yang ingin berkunjung harus izin dengan ketuanya masing-masing. Itu sebagai upaya pecah belah. Jika bersatu kan Belanda akan mudah dikalahkan," kata Samsul.

Saat ini ada sekitar 500 kepala keluarga Suku Mandar yang menyebar di wilayah Kabupaten Banyuwangi dan mayoritas tinggal di daerah pesisir. Selain Saulak, ada yang masih dijalankan oleh warga suku Mandar yang ada di Banyuwangi adalah melarung sesaji saat ada kejadian yang berkaitan dengan siklus kehidupan.

Samsul mencontohkan saat cucunya akan lahir, dia melarung sesaji seperti kembang telon ke pesisir laut. "Alhamdulilah setelah larung sesaji, bayinya lancar lahirnya. Padahal sebelumnya keluarga menunggu lama tapi bayinya tidak lahir-lahir. Ini adalah adat dan sampai kapan pun akan tetap kami lakukan dan kami wariskan kepada keturunan Mandar yang ada di Banyuwangi," pungkasnya.

(Ira Rachmawati/Kompas.com)

KOMENTAR