2017 / April / 7   16:00

Upaya Memberantas Daging Jube' di Madura dengan Pendekatan Budaya

Minimnya pengetahuan, kepercayaan terhadap hal-hal magis, dan kebiasaan yang melekat di masyarakat, menyebabkan kasus daging jube' di Madura sulit ditangani.

Upaya Memberantas Daging Jube' di Madura dengan Pendekatan BudayaPenyakit kusta menyerang kulit, sistem saraf perifer, selaput lendir pada saluran pernapasan atas, serta mata. Jika terlambat diobati, penderita kusta bisa mengalami mati rasa, kerusakan saraf permanen, otot melemah, cacat progresif, hingga kematian. (Ilustrasi | Thinkstock)

Daging Jube' merupakan istilah yang digunakan oleh kalangan etnis madura untuk menyebut penyakit kusta. Dalam bahasa lokal, jube’ berarti “jelek”, merujuk pada kondisi bagian tubuh penderita kusta. 

Kusta, atau dikenal juga dengan nama lepra, disebabkan oleh infeksi bakteri  Mycobacterium leprae. Penyakit ini menyerang kulit, sistem saraf perifer, selaput lendir pada saluran pernapasan atas, serta mata. Jika terlambat diobati, penderita kusta bisa mengalami mati rasa, kerusakan saraf permanen, otot melemah, cacat progresif, hingga kematian.

Meski dulu pernah ditakuti sebagai penyakit yang mematikan, tetapi saat ini kusta tergolong penyakit yang mudah diobati. Ironisnya, kasus kusta di Indonesia masih cukup tinggi. Bahkan, Indonesia menduduki peringkat ketiga negara di dunia dengan kasus kusta terbanyak, di bawah India dan Brasil.

Salah satu daerah di Indonesia yang dianggap kawasan endemik kusta yaitu Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Data Dinas Kesehatan Jawa Timur menyebutkan, pada tahun 2015 penderita kusta di Pamekasan mencapai 279 orang. Sebanyak 45,90 persen merupakan kusta kering yang sangat mematikan, sementara 54,10 persen merupakan kusta basah.

Tahun lalu, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan melakukan Riset Etnografi Kesehatan di Pamekasan, tepatnya di Desa Banyubelle, Kecamatan Palengaan. Riset ini dilakukan untuk menyingkap berbagai norma dan nilai yang mendasari perilaku masyarakat tertentu. Hasil riset itu, nantinya  bisa digunakan sebagai landasan pendekatan budaya dalam upaya mengubah perilaku masyarakat terkait kesehatan. 

Artikel terkaitKemenkes Gelar Parade Riset Etnografi Kesehatan

Dari riset etnografi di Pamekasan, terungkap bahwa minimnya pengetahuan tentang kusta, kepercayaan leluhur, dan kebiasaan yang melekat di masyarakat, menjadi sebagian faktor yang menyebabkan kasus kusta sulit ditangani.

"Ada beberapa mitos tentang penyebab kusta yang diyakini oleh masyarakat etnis madura. Salah satunya, pasangan yang melakukan hubungan seksual saat sang istri sedang menstruasi, bisa menyebabkan keturunannya terkena daging jube’," papar salah satu periset, Turniani Laksmiarti, dalam acara Parade Riset Etnografi Kesehatan, di Kantor Kementerian Kesehatan, Senin (3/4/2017).

Mitos lain menyebutkan bahwa daging jube’ merupakan penyakit keturunan, kutukan, atau capok setan (sihir). Penyebab lainnya, akibat sumpah penderita daging jube’; mengonsumsi telur/daging dari ayam yang makan kotoran penderita daging jube’, dan digigit kutu busuk dari kursi  yang diduduki penderita daging jube’.

Penderita daging jube’ biasanya diasingkan atau ditempatkan tersendiri oleh sanak keluarganya. Warga yang tahu adanya penderita kusta, tidak akan memilih keluarga penderita untuk dinikahi. Bahkan, warga pun enggan menghadiri acara hajatan yang diselenggarakan oleh penderita daging jube’. Alhasil, penderita daging cube' acap kali tak mendapatkan akes layanan kesehatan yang memadai.

Pengucilan terhadap penderita daging jube juga disebabkan himbauan dari para kiai setempat. Selama penelitian di Desa Banyubelle, Turniani mengaku sempat menemui seorang kiai dan menanyakan pandangannya seputar penyakit daging jube’.

“Menurut penafsiran kiai, judham itu identik dengan daging cube’ atau penyakit kusta. Sehingga orang-orang di sana jadi takut, karena kiai yang ngomong. Di sana, kiai sangat dihormati dan menjadi panutan,” ungkap Turniani.

Ia mengatakan, kiai tersebut mengutip isi kitab Safinnatun Najah yang berbunyi ‘Larilah kamu dari orang judham, seperti kamu lari dari singa. Jangan sampai mendekat, nanti kamu ketularan’.

“Menurut penafsiran kiai, judham itu identik dengan daging cube’ atau penyakit kusta. Sehingga orang-orang di sana jadi takut, karena kiai yang ngomong. Di sana, kiai sangat dihormati dan menjadi panutan,” ungkap Turniani.

Kedudukan tinggi kiai dalam struktur sosial etnis Madura, memang telah termaktub dalam falsafah hidup yang mereka pegang teguh: “Bhuppa’ Bhâbhu’ Ghuru’ Rato’”. Makna sederhananya, orang madura harus patuh dan hormat kepada Bhuppa’ (Bapak), Bhâbhu’ (Ibu), Ghuru’ (pendidik/kiai/ulama) dan Rato’ (keraton/pemerintahan).

Meski di satu sisi ucapan kiai menimbulkan persepsi yang keliru, namun di sisi lain, ketakziman masyarakat Madura kepada para kiai bisa dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk memberantas kusta di Madura. Para peneliti berpendapat, jika diberi pemahaman yang tepat soal penyakit kusta, kiai bisa menjadi perantara untuk mengedukasi masyarakat . 

"Masyarakat percaya sekali pada kiai. Tentunya kiai harus diperankan, berikan peran kepada kiai untuk memberi pemahaman kepada masyarakat tentang penyakit daging cube'," ujar Turniani.

Pendekatan dengan memperhatikan nilai-nilai budaya semacam ini dipandang lebih efektif ketimbang melalui pendekatan logis dan rasional. Dalam forum yang sama, Kepala Balitbangkes, Siswanto, mengatakan bahwa mengubah perilaku masyarakat penting dilakukan melalui pendekatan budaya masyarakat lokal.

“Jika langsung dilakukan secara umum tanpa memperhatikan budaya setempat, bisa jadi akan terjadi penolakan dan sulit mengubah perilaku masyarakat,” ucapnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pamekasan, Ismail Bey, mengungkapkan bahwa hasil riset ini, sedikit banyak telah diterapkan dalam program pemberantasan kusta di Pamekasan atau dikenal dengan nama Pamekasan Eliminasi Kusta (PELITA).

"Kami berupaya memberikan penanganan sedini mungkin, agar penderita tidak sampai menderita kecacatan," imbuh Ismail.

"Kami lakukan advokasi kepada masyarakat dengan melibatkan beberapa komponen masyarakat, seperti yang telah disebutkan tadi, “Bhuppa’ Bhâbhu’ Ghuru’ Rato’”. Guru itu bisa guru formal atau kiai," katanya.

Petugas Dinkes juga dikerahkan untuk mencari dan menemukan penderita kusta dengan terjun langsung ke desa-desa. Penderita kusta yang terdata kemudian diobati, dan direhabilitasi jika perlu. 

"Kami berupaya memberikan penanganan sedini mungkin, agar penderita tidak sampai menderita kecacatan," imbuh Ismail.

Ismail menyatakan, dengan adanya program PELITA ini, Pemerintah Kabupaten Pamekasan melalui Dinkes bertekad agar Pamekasan bisa bebas kusta pada 2019 mendatang.

(Lutfi Fauziah)

KOMENTAR