Temuan Ornamen Prasejarah di Sulawesi Ungkap Budaya Simbolik Kuno
2017 / April / 6   16:00

Temuan Ornamen Prasejarah di Sulawesi Ungkap Budaya Simbolik Kuno

Penemuan artefak berupa perhiasan dan karya seni yang berasal dari zaman es akhir menunjukkan bahwa manusia di zona Wallacea sangat kreatif dan artistik.

Temuan Ornamen Prasejarah di Sulawesi Ungkap Budaya Simbolik KunoLiontin yang terbuat dari tulang kuskus beruang ini berasal dari 22.000 hingga 26.000 tahun lalu dan kemungkinan digunakan sebagai perhiasan manusia yang menghuni Sulawesi kala itu. (Griffith University)

Karya seni dan perhiasan prasejarah dari zaman es akhir berhasil ditemukan dalam penggalian situs arkeologi Liang Bulu Bettue di Sulawesi, pulau terbesar di zona Wallacea. 

Perhiasan berupa lionton dan manik-manik itu terbuat dari tulang babi rusa dan kuskus beruang, dan usianya berkisar antara 22.000 hingga 30.000 tahun. Kedua hewan tersebut merupakan fauna endemik di Sulawesi.

Artefak lainnya termasuk pecahan seni batu dengan pola geometris; fragmen oker (pewarna dinding) warna merah dan kecokelatan; gambar cadas; serta tulang panjang dan berongga milik kuskus beruang—kemungkinan digunakan sebagai kuas—dengan bekas pewarna.

Penemuan ini menjadi penting karena bertentangan dengan padangan lama yang menyatakan bahwa masyarakat pemburu-pengumpul di Asia Tenggara kurang maju dibanding rekan-rekannya di Eropa. Beragam artefak yang ditemukan menunjukkan bahwa seni dan  budaya berkembang di Sulawesi di penghujung zaman es terakhir

“Temuan baru ini menunjukkan bahwa manusia di Wallacea merupakan manusia kreatif dan artistik, serta memiliki budaya simbolik yang diadaptasi dari spesies baru yang dijumpai,” kata penulis utama studi, Adam Brumm, dari Griffith University di Australia.

Perhiasan prasejarah yang ...Perhiasan prasejarah yang ditemukan di situs arkeologi Liang Bulu Bettue, Sulawesi, berupa liontin dari tulang jari kuskus beruang dan manik-manik dari gigi babirusa. (Griffith University)

Adaptasi budaya tersebut juga merupakan kemampuan penting yang dibutuhkan untuk mengkolonisasi benua kuno Sahul—sekarang Australia, Papua Nugini dan Tasmania, mengingat keragaman, kekayaan dan keunikan flora-fauna di sana.

“Hubungan simbolik rumit antara manusia dan hewan yang menjadi ciri budaya suku Aborigin dari Australia, mungkin berakar pada manusia yang pernah menjelajah zona Wallacea sebelum menetap di Sahul,” ujar Brumm.

Pada studi selanjutnya, para arkeolog akan melanjutkan penggalian di situs tersebut untuk mencari lebih banyak bukti budaya artistik dan kehidupan simbolik dari beberapa seniman gua paling awal. Selain itu, penelitian juga dilakukan untuk memastikan kapan tepatnya manusia modern menghuni Sulawesi.

(Lutfi Fauziah. Sumber: Live Science)

KOMENTAR