Mengobrol dengan Hewan Pertanda Kecerdasan Sosial

Sebenarnya ada alasan ilmiah mengapa manusia cenderung senang bicara dengan hewan atau benda. Ini ada hubungannya dengan kecerdasan sosial.

Mengobrol dengan Hewan Pertanda Kecerdasan SosialIlustrasi (Y G. Dzhevelieva/National Geographic/Your Shot)

Lazim bagi anak kecil untuk bicara dengan mainan atau hewan kesayangan mereka. Ada pula orang dewasa yang masih suka punya kebiasaan seperti itu. Sayangnya, hal itu sering dianggap kebiasaan aneh.

Sebenarnya ada alasan ilmiah mengapa manusia cenderung senang bicara dengan hewan atau benda. Ini ada hubungannya dengan kecerdasan sosial.

Salah satu alasan memberi bentuk manusia pada hewan, tanaman, benda atau obyek adalah karena kemampuan unik kita untuk mengenali dan menemukan wajah manusia di mana pun.

Dr Nicholas Epley, profesor ilmu perilaku di University of Chicago dan pakar antropomorphisme mengatakan,"Secara sejarah, antropomorphisme diperlakukan sebagai tanda kekanakan atau kebodohan. Sebenarnya ini adalah produk sampingan alami dari kecenderungan yang membuat manusia secara unik cerdas di bumi ini. Spesies lain tak memiliki kecenderungan ini."

Sadar atau tidak, manusia melakukan antropomorfisme pada benda-benda dan kejadian di sepanjang waktu. Salah satu kelaziman antropomorfisme adalah pemberian nama manusia pada obyek-obyek.

Ada tiga alasan mengapa kita memberi nama obyek. Kita melihat wajah-wajah di mana pun, menghubungkan pikiran ke hal-hal yang disuka dan cenderung mengasosiasikan ketidakpastian dengan manusia.

Sebagai manusia, kita ditanamkan untuk melihat wajah dan insting ini akan membantu kita membedakan teman dengan predator yang berpotensi berbahaya. Kadang insting ini begitu kuat sehingga kita melihat wajah-wajah di benda. Hal ini disebut pareidolia.

Hal itu adalah sebuah kelaziman. Bahkan ada akun Twitter dengan pengikut 561.000 pengikut yang membagi foto-foto wajah yang terlihat di benda-benda.

"Mata palsu adalah trik yang menipu kita sepanjang waktu. Satu mata yang menipu kita bisa melihat ke jiwa, mata itu padahal tidak ada," kata Dr Epley.

"Sebagai makhluk bumi paling sosial, kita sangat sensitif terhadap mata karena mata adalah jendela ke jiwa seseorang," tambahnya.

Saat serangan 11 September di menara kembar New York, beberapa orang melihat wajah setan di asap setelah pesawat menabrak satu menara. Contoh lain adalah wajah di obyek-obyek budaya populer pada film Castaway yang dibintangi Tom Hanks.

Dalam film tersebut karakter yang diperankan Tom Hanks memberi wajah pada bola sepak dan menamainya Wilson. Ia mengajak bola itu bicara dan akhirnya sangat tergantung pada bola itu.

Studi-studi membuktikan bahwa obyek-obyek yang memiliki elemen seperti mata dapat membuat kita merasa seperti sedang diamati.

(Dorothea/Kompas.com)

KOMENTAR