Ketika Singa Afrika Mencuri GoPro
2017 / April / 10   17:40

Ketika Singa Afrika Mencuri GoPro

Video ini memberi kita perspektif langsung dari mulut kucing terbesar Afrika.

Ketika Singa Afrika Mencuri GoProChristof Schoeman, pemandu safari dan fotografer alam liar, mengambil cuplikan video ini pada 2014 lalu ketika memandu safari di Taman Nasional Kruger, Afrika Selatan. (Newsflare.com/gopro_gonwild01 via National Geographic)

Jika Anda pernah bertanya-tanya bagaimana rasanya menjadi anak singa yang digendong dalam mulut sang induk, tontonlah video berikut ini.

Dua singa afrika betina dalam video ini berusia empat hingga enam tahun, yang berarti mereka telah bereproduksi setidaknya sekali. Singa pertama tampak tengah menyusui. Jadi kemungkinan besar, kelompok mereka memiliki satu atau dua anak, yang sering berlumur liur ketika digendong, seperti halnya kamera GoPro ini.

Christof Schoeman, pemandu safari dan fotografer alam liar, mengambil cuplikan video ini pada 2014 lalu ketika memandu safari di Taman Nasional Kruger, Afrika Selatan. GoPro ditanam di sepanjang rute singa betina, sementara Schoeman mengamatinya dari jarak yang aman ketika kucing besar tersebut mendekat.

“Mereka hanya mengambil objek mencurigakan dan membawanya ke suatu tempat di mana mereka bisa menyelidikinya lebih jauh,” kata ahli ekologi Craig Packer yang telah bertahun-tahun mempelajari singa di Afrika.

“Saya lebih senang seandainya mereka tak mengambil kamera itu,” kata Schoeman.

“Tujuan utama saya adalah memotret perilaku alami mereka dari jarak dekat. Saya tidak ingin mengubah perilaku mereka,” imbuhnya.

Video ini tidak hanya memberikan pandangan yang amat dekat dan personal dari singa, tetapi juga kesempatan bagi ahli konservasi seperti Luke Dollar, untuk melakukan pemeriksaan medis virtual pada hewan liar ini.

“Singa betina pertama memiliki taring yang tampak sehat, itu pertanda baik,” ujar Dollar. Sedangkan singa betina kedua, terlihat memiliki saluran akar terbuka pada salah satu giginya.

“Jika singa itu termasuk dalam kelompok yang dikelola, seorang dokter hewan mungkin akan mengamati taring itu dan mempertimbangkan untuk mencabutnya sebelum infeksi potensial atau abses berkembang,” tambahnya.

Pengelolaan singa tetap menjadi subjek penuh di Afrika Selatan, negara yang melegalkan perburuan singa penangkaran maupun liar.

Sementara pondok wisata milik Schoeman hanya menawarkan trek jalan-jalan dengan pemandu berlisensi, lebih dari seratus usaha wisata lain di seluruh negara mematok harga hingga puluhan ribu dolar per orang dari para pemburu trofi yang membidik singa-singa di penangkaran.

Tidak demikian dengan Schoeman. Saat safari, “Anda benar-benar bisa mengajar orang,” katanya, “Kadang kala, Anda menyaksikan orang-orang tertentu menangis karena bisa melihat hewan-hewan ini untuk pertama kalinya dalam hidup mereka.”

(Lutfi Fauziah. Sumber: Rachel Brown/National Geographic)

KOMENTAR