2017 / April / 20   14:00

7 Mitos Soal Makanan yang Sebaiknya Diabaikan

Berikut beberapa mitos soal makanan dan nutrisinya yang banyak beredar, namun tak perlu dipercaya dan bisa kita abaikan.

7 Mitos Soal Makanan yang Sebaiknya DiabaikanMenyantap makan siang bersama. (Thinkstock)

Banyaknya informasi soal hidup sehat rupanya membuat semakin banyak orang tergerak untuk mengikuti gaya hidup ini. Orang-orang kini menimbang-nimbang makanan apa yang baik dan buruk bagi tubuh mereka sebelum membeli atau menyantapnya.

Namun karena industri makanan juga memerlukan pemasukan, maka banyak produk dikemas atau diklaim sebagai produk yang sehat. Produsen memberi label produk mereka lebih sehat dibanding yang lain. Tentu tidak semua harus kita percaya.

Nah berikut beberapa mitos soal makanan dan nutrisinya yang banyak beredar, namun bisa kita abaikan.

1. Roti gandum tidak menyebabkan gemuk

Roti gandum. Roti gandum. (Thinkstock)

Kebanyakan dari kita merasa sudah melakukan diet yang benar dengan mengganti nasi atau roti tawar dengan roti gandum. Tapi apakah Anda mendapatkan hasil yang diinginkan, atau lingkaran perut Anda tetap tidak berubah? Mengapa demikian? 

Faktanya, roti gandum yang berwarna kecoklatan ini, meski dibuat dari biji gandum utuh, namun dalam proses pembuatannya adonannya dicampur dengan tepung terigu putih dan dedak gandum. Fungsinya untuk memberikan tekstur yang sedikit lebih lembut.

Akibatnya, seperti halnya roti tawar putih, roti gandum juga lebih cepat dicerna dan memiliki (indeks glikemik) IG yang tinggi.

Masalahnya, karena terlanjur dianggap sebagai makanan sehat, maka kita sering mengkonsumsinya dalam jumlah lebih banyak, bahkan ditambah berbagai jenis selai yang mengandung banyak gula. Bila itu yang terjadi, maka lingkar pinggang Anda tidak akan kunjung mengecil, namun bisa-bisa justru bertambah.

Nah, bila Anda tidak ingin menghilangkan roti dari menu, ada pilihan yang lebih baik daripada roti gandum, yakni whole grain. Varian roti yang satu ini teksturnya lebih kasar dibanding roti gandum dan lebih berserat. Bedanya dengan roti gandum biasa adalah adanya tambahan biji-bijian seperti biji rami, kedelai, atau biji bunga matahari.

Roti whole grain memiliki kandungan serat empat kali lebih tinggi daripada roti tawar putih. Roti ini juga memiliki IG yang rendah karena seratnya lebih lama dicerna tubuh. Makanan ini bisa membantu Anda kenyang lebih lama karena proses pelepasan energinya jadi lebih lama.

2. Makan sedikit tapi sering membuat Anda langsing

Banyak orang berangggapan makan sedikit tapi sering akan memicu metabolisme dalam tubuh sehingga membuat kita tidak mudah menjadi gemuk. Gagasan ini mencontoh kebiasaan orang Asia yang makan dalam porsi kecil namun lebih sering. 

Hal ini tidak sepenuhnya benar. Bila metode ini terbukti keampuhannya, mengapa mengemil justru menyebabkan gemuk? Padahal ngemil kan sama dengan makan dengan porsi kecil namun sering.

Penelitian yang dimuat dalam US Journal of Nutrition menemukan bahwa makan dua atau tiga kali sehari membakar kalori yang sama dengan mereka yang menyantap makanan sama namun membagi porsinya agar bisa dimakan beberapa kali.

Namun mengapa orang-orang Asia yang lebih sering menyantap makanan tidak menjadi gemuk? Kuncinya adalah pada makanan yang mereka santap. Kebanyakan makanan itu berupa sayur-sayuran, karbohidrat yang tidak melalui banyak pemrosesan, serta makanan-makanan segar.

3. Kopi tidak baik untuk kesehatan

Mengkonsumsi empat cangkir kopi ...Mengkonsumsi empat cangkir kopi murni dapat mengurangi risiko kanker kulit melanoma hingga sebesar 20 persen. (Thinkstock)

Ya, bila Anda meminumnya dengan banyak tambahan gula atau susu. The Journal of Nutrition menyebutkan bahwa kopi hitam memberi lebih banyak anti oksidan pada tubuh dibanding sayuran dan buah-buahan.

Selain itu, secara statistik, peminum kopi mengalami depresi lebih sedikit, jauh dari diabetes, bahkan berusia lebih panjang. Tentu hal itu ada syaratnya, yakni minum dalam jumlah sewajarnya, dan jangan mencampurnya dengan gula.

4. Setiap kalori sama saja

Dalam diet, kita seringkali diminta membatasi asupan kalori. Namun ternyata 1000 kalori yang berasal dari cake berbeda dengan 1000 kalori dari daging ikan. Artinya, jenis kalori yang kita makan ikut menentukan keberhasilan diet kita.

Jenis makanan yang berbeda memiliki efek metabolisme yang berbeda juga, sehingga sekedar mengurangi kalori tidak akan efektif untuk menjaga kesehatan.

Jika Anda ingin mengurangi kalori, jangan ambil dari protein, karena jenis makanan ini bisa menahan rasa lapar serta meningkatkan metabolisme tubuh.

5. Makanan rendah lemak lebih sehat

Ada alasan mengapa junk food terasa lezat. Jawabannya adalah lemak. Namun karena lemak sering dianggap sumber penyakit, maka banyak produsen makanan menyediakan versi rendah lemak (low fat) pada produknya, sehingga kita tidak merasa berdosa saat menyantapnya.

Namun tahukah Anda bahwa menghilangkan lemak sekaligus menghilangkan rasa lezat? Untuk mengatasinya, produsen makanan menambahkan rasa dari bahan-bahan lain termasuk pemanis buatan. Bahan-bahan ini bisa jadi lebih buruk efeknya dibanding lemak yang dihilangkan.

Oleh karenanya, lemak sebenarnya tetap bisa dikonsumsi dalam jumlah tertentu dan dari sumber yang sehat, seperti kacang-kacangan dan alpukat. Makanan ini jauh lebih baik daripada keripik rendah lemak yang Anda tidak tahu apa isinya.

6. Makan buah bisa membantu Anda menjadi langsing

Ilustrasi salad buahIlustrasi salad buah (Shutterstock/Olena Mykhaylova)

Buah-buahan mengandung vitamin dan serat. Namun, juga mengandung kalori dan gula yang bisa menggagalkan rencana diet jika dikonsumsi berlebihan. Sebuah pisang, misalnya, memiliki jumlah kalori yang sama dengan dua chocolate chip cookie, yakni sekitar 100 kalori.

Jika Anda ingin menjadi langsing, sebaiknya Anda mengonsumsi empat porsi buah setiap hari bersama dengan sumber protein seperti kacang-kacangan dan yoghurt Yunani.

7. Daging merah tidak baik untuk kesehatan

Daging sapiDaging sapi (Thinkstock)

Soal ini, ada peneliti yang sepakat bahwa daging merah lebih buruk dari daging putih, namun sebagian lain peneliti menyangkalnya. Jadi ini sebenarnya wilayah abu-abu.

Memang benar daging merah meningkatkan risiko penyakit jantung karena kandungan lemak jenuhnya. Namun daging putih juga mengandung lemak jenuh. Seporsi daging sapi sirloin  mengandung lemak jenuh lebih sedikit daripada paha ayam dengan kulit. Jangan makan daging ayam dengan kulitnya. Pilih daging sapi tanpa lemak agar tidak menambah kandungan lemak jenuh dalam tubuh.

(Wisnubrata/Kompas.com)

KOMENTAR