Sebelum Memotret Acara Adat, Simak Dulu 9 Tips Ini

2017 / Maret / 15   12:14

Sebelum Memotret Acara Adat, Simak Dulu 9 Tips Ini

Fotografer National Geographic Traveler Indonesia dan Fotokita.net membagikan beberapa kiat memotret acara adat dan budaya. Yuk simak!

Sebelum Memotret Acara Adat, Simak Dulu 9 Tips IniSeorang wanita penganut ajaran Bonokeling melakukan sungkem di petilasan Mbah Depok Kendran. (Rahmad Azhar Hutomo/National Geographic Traveler Indonesia)

Dalam setahun, ada puluhan acara adat maupun festival budaya yang dihelat di Indonesia  yang tersebar di berbagai daerah. Acara-acara adat dan budaya tersebut biasanya menampilkan keunikan dari masing-masing daerah yang  tentunya sayang jika tak diabadikan melalui kamera Anda.

Jika dibandingkan dengan memotret panorama alam, memotret acara adat dan budaya membutuhkan persiapan yang lebih matang dan khusus agar hasilnya memuaskan. Beberapa saat lalu, di hari terakhir acara Garuda Travel Fair (GATF), Minggu (12/3), Fotografer National Geographic Traveler Indonesia dan Fotokita.net, Rahmad Azhar Hutomo, membagikan beberapa kiat memotret acara adat dan budaya. Yuk simak!

Lakukan riset

Sebelum memotret acara adat dan budaya, cari tahu sebanyak mungkin informasi tentang acara tersebut, termasuk lokasi penyelenggaraan, waktu, dan cuaca. Dengan mengetahui prakiraan cuaca selama acara berlangsung, kita bisa mempersiapkan perlengkapan dengan lebih baik. “Misalnya saat prakiraan cuaca hujan, kita sudah siapkan payung atau plastik.”

Persiapan fisik yang fit

Acara adat maupun festival budaya bisa berlangsung seharian penuh atau bahkan bisa berhari-hari. Penting untuk menyiapkan kondisi fisik yang fit. “Kita tentu nggak mau tiba-tiba pingsan di tengah acara karena tubuh yang nggak fit, kan?” ujar Azhar.

Ceklist foto

Sebelum menuju lokasi acara, sebaiknya Anda telah membuat daftar jenis foto yang dibutuhkan, misalnya entire, portrait, detail, dan lain sebagainya. Dengan demikian, Anda telah memiliki panduan saat memotret di lapangan agar nantinya hasil foto tidak monoton.

Usahakan datang lebih awal

Datanglah lebih awal sebelum acara. Kita bisa menyempatkan diri bertemu dengan ketua adat, menggali informasi lebih dalam, dan membuka komunikasi dengan tuan rumah. Dengan datang lebih awal, kita juga berkesempatan memotret tahapan persiapan acara. “Kadang kita terlalu fokus sama acara inti, tapi lupa dengan persiapan-persiapan  sebelum hari ‘H’. Padahal itu penting juga,” kata Azhar.

Akses

Sebelum acara berlangsung, usahakan menghubungi pihak penyelenggara untuk mendapatkan akses, dengan begitu kita akan lebih nyaman memotret. Biasanya pewarta foto dari media massa akan mendapat kemudahan akses dengan menunjukkan Kartu Pers. Namun jika Anda bukan merupakan perwakilan dari media massa, jangan berkecil hati. “Kalau bukan dari media pun berkesempatan dapat akses, yang penting minta izin baik-baik,” kata Azhar.

Mengenakan pakaian yang sesuai

Dalam beberapa acara adat atau budaya, pihak penyelenggara mewajibkan peserta yang terlibat mengenakan pakaian khusus. “Seperti waktu saya liputan acara adat Bonokeling di Purwokerto, semua yang hadir di situ, termasuk pewarta, harus memakai pakaian adat,” tutur Azhar. Gunanya, kata dia, agar kita bisa membaur dengan masyarakat setempat.

Perhatikan “do and don’t”

Setiap tempat atau acara adat, memiliki ketentuan-ketentuan yang wajib ditaati. Perhatikan spot-spot yang tidak diperkenankan menjadi tempat memotret. Selain itu, saat prosesi upacara adat berlangsung, sebaiknya hindari penggunaan flash karena dapat mengganggu pelaku adat. “Tapi, ada juga beberapa acara yang dibolehkan menggunakan flash, contohnya saat perebutan “gunungan” saat acara grebek di Yogya,” ujar Azhar.

Membaur dengan warga

Hal ini penting dilakukan agar warga setempat nyaman dengan keberadaan kita. Usahakan selalu bersikap sopan dan ramah. Selain itu, biasakan menyapa warga sebelum memotret. “Paling nggak, tersenyumlah sebagai tanda kita minta izin sebelum motret. Bagaimana pun, etika harus dinomorsatukan,” ungkap Azhar.

Ikuti acara dari awal hingga akhir

“Biasanya, foto-foto yang bagus ada di detik-detik terakhir. Kuncinya satu: sabar,” pungkas Azhar.

(Lutfi Fauziah)

KOMENTAR