2017 / Maret / 27   13:00

Roro Sendari, Pertunjukan Sulap dalam Balutan Teater

Diadaptasi dari cerita rakyat Calon Arang nan legendaris, kisah Roro Sendari memberikan angin segar dalam seni pertunjukan dengan memadukan teater dan sulap.

Roro Sendari, Pertunjukan Sulap dalam Balutan TeaterDiadaptasi dari cerita rakyat Calon Arang nan legendaris, pementasan Roro Sendari yang dipersembahkan oleh Semarang Magic Community memberikan angin segar dalam seni pertunjukan dengan memadukan teater dan sulap. (Galeri Indonesia Kaya)

Dewi sekar melati Roro Sendari

 Pepujaning ati wonten ing nagri puniki

 Para priya samya rebutan supaya antuk sang Kenya

 Sing sapa sekti bakal antuk sang putri

 Raden Mas Satriya kang menang, mula wenang antuk sang putri

 Guyu lan tangis, lara lapa den adhepi bebarengan

 Kanggo njaga katresnan jati salawase

Apa kang katindakake kabeh amung kanggo sang putri Roro Sendari

Lantunan tembang jawa itu mengiringi penampilan sesosok perempuan yang tengah duduk bersila dengan mata terpejam. Kedua telapak tangannya tertangkup di depan dada. Dialah Sang Dewi Durga, ahli tenung yang kesaktiannya sama tenarnya dengan kebengisannya.

Di hadapan Dewi Durga, tergeletak tampah bambu berisi beberapa butir kelapa yang telah dikupas kulitnya, sebilah parang, dan silet. Sesaat kemudian, mata yang awalnya terpejam itu tiba-tiba membelalak. Lantas, Sang Dewi mulai melahap satu demi satu silet yang ada di hadapannya. 

Adegan tersebut membuka pementasan Roro Sendari, yang dipersembahkan oleh Semarang Magic Community di ruang pertunjukan Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Sabtu, 25 Maret 2017.

Diadaptasi dari cerita rakyat Calon Arang yang berkembang di tanah Jawa dan Bali, pementasan ini mengisahkan gadis jelita bernama Roro Sendari (diperankan oleh Raida Dewi), yang menjadi pujaan hati para lelaki di saentaro negeri. 

Sudah lama ia mendambakan pasangan hidup, namun reputasi ibunya, Dewi Durga (Nurul Khabibah), sebagai ahli tenung jahat, membuat tak satu pun lelaki berani meminangnya. Khawatir anaknya tidak akan mendapat jodoh selama hidupnya, Dewi Durga memutuskan mengadakan sayembara untuk mencari lelaki yang pantas memperistri Roro Sendari.

Dalam sayembara itu, Dewi Durga menantang para pemuda yang mendaftar untuk menunjukkan kesaktian sihir di hadapannya dan Roro Sendari. Sekadar sakti saja rupanya tak cukup. Para peserta sayembara juga harus mampu melewati ujian yang disiapkan sendiri oleh Roro Sendari untuk membuktikan ketulusan cinta lelaki tersebut kepadanya.

Prahara mulai muncul ketika pemuda yang berhasil melewati ujian dari Roro Sendari, ternyata justru bukan dari kalangan peserta yang telah menunjukkan kesaktian sihir sebelumnya. Pemuda itu adalah Raden Satria (Yanuar Arga), adik salah satu peserta sayembara yang kebetulan mendampingi kakaknya bertanding. Ia diperbolehkan mengikuti ujian kedua tanpa melewati ujian pertama berkat kemurahan hati Roro Sendari.

Selain dengan menunjukkan ...Selain menunjukkan kesaktian sihir, para peserta juga harus mampu melewati ujian yang disiapkan sendiri oleh Roro Sendari untuk membuktikan ketulusan cinta lelaki tersebut kepadanya. (Galeri Indonesia Kaya)

Dewi Durga menentang keras dan menganggap kemenangan Raden Satria tidak sah karena melanggar ketentuan sayembara. Di sisi lain, Roro Sendari bersikeras mempertahankan Raden Satria, karena ia yakin, hanya lelaki yang benar-benar tulus mencintainyalah yang bisa lulus dari ujian yang ia berikan.

Keadaan ini membuat Dewi Durga semakin tak senang. Ia berupaya membatalkan kemenangan Raden Satria dengan menantangnya beserta Roro Sendari melewati ujian yang mematikan. Sekali saja mereka salah mengambil langkah, maka nyawalah taruhannya. Beruntung, dalam ujian ini, Raden Satria dan Roro Sendari berhasil lolos dari maut.

Dewi Durga menantang Raden Satria dan Roro Sendari melewati ujian yang mematikan. Sekali saja mereka salah mengambil langkah, maka nyawalah taruhannya.

Hal itu tentu saja membuat Sang Dewi murka. Ia menantang Raden Satria berduel satu lawan satu. Permohonan Roro Sendari agar Dewi Durga menghentikan perseteruan dan menerima Raden Satria sebagai pemenang sayembara, tak lagi diindahkan. Nafsu amarah telah menguasai diri Sang Dewi. Pertempuran sengit antara Dewi Durga dan Raden Satria pun tak terhindarkan. Keduanya mengerahkan seluruh kesaktian yang dimiliki, hingga akhirnya salah satu dari mereka terkapar meregang nyawa.

Pementasan Roro Sendari menjadi tak biasa karena memadukan antara seni teater dan sulap. Berbagai jenis sulap, mulai dari klasik hingga fakir—sulap yang mengandalkan kemampuan otot, menghidupkan adegan-adegan dalam cerita. Dalam pementasan yang disutradarai oleh Novianto Nugroho ini, aksi teatrikal dan sulap juga dibumbui dengan komedi-komedi yang muncul dari tingkah laku konyol dan celetukan para abdi Dewi Durga, yaitu Komat (Tholip), Kamit (Ilham), dan Ciluk (Kholifah). 

Ide untuk memadukan antara teater dan sulap ini berawal dari keinginan Zulfa Fahmy, Ketua Semarang Magic Community, untuk mewadahi para pesulap dalam suatu pertunjukan yang menarik. Di sisi lain, Zulfa juga ingin mempopulerkan beberapa seni pertunjukan yang mengandung misteri—ia menyebutnya seni misteri—seperti sulap, debus, jaran kepang, dengan pengemasan yang berbeda.

Untuk meramu pertunjukan yang memadukan teater dengan atraksi sulap bukan perkara mudah. Persiapan teknis pementasan ini dilakukan sejak Desember tahun lalu, sementara untuk konsep dan naskah, sudah disiapkan sejak berbulan-bulan sebelumnya.

Pertempuran sengit antara Dewi ...Pertempuran sengit antara Dewi Durga dan Raden Satria pun tak terhindarkan. Keduanya mengerahkan seluruh kesaktian yang dimiliki, hingga akhirnya salah satu dari mereka terkapar meregang nyawa. (Galeri Indonesia Kaya)

“Butuh waktu sekitar satu atau dua bulan hanya untuk menyatukan pandangan.  Kami berkompromi banyak hal tentang dua disiplin ilmu yang berbeda,” kata Zulfa yang juga merupakan dosen di Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Zulfa menuturkan, kendala utama dalam pementasan ini yaitu pemain teater tak memiliki dasar-dasar keahlian bermain sulap. Begitu pun sebaliknya, para pesulap yang tak biasa bermain peran, harus berlatih mengatur mimik wajah, intonasi suara, dan berakting. Kesulitan ini, pada akhirnya bisa diatasi dengan memperbanyak latihan.

Perkara musik pengiring, Zulfa mengajak rekannya sesama dosen UNNES, Hafid Zuhdan Bahtiar, untuk berkolaborasi. “Kami menggabungkan musik tradisi dan modern, instrumennya ada gamelan jawa dan bali, sindennya juga khas Jawa dengan sedikit sentuhan Bali. Tapi karena terkendala jumlah personel, instrumen musik yang dibawa pada saat pertunjukan berupa instrumen modern, musik tradisi hanya dalam bentuk sampling,” kata Hafid.

Roro Sendari merupakan pementasan teater-sulap pertama yang dilakukan oleh Semarang Magic Community (SMC). SMC merupakan salah satu komunitas seni yang terpilih di program Ruang Kreatif: Bincang Seni Pertunjukan Indonesia yang diselenggarakan oleh Galeri Indonesia Kaya di bawah naungan Bakti Budaya Djarum Foundation.

“Seni ini sering diidentikkan dengan klenik, jin, dan syirik. Melalui pertunjukan semacam ini, semoga seni misteri semakin dihargai sebagai sebuah seni, bukan takhayul.”

Ruang Kreatif merupakan program edukasi seni pertunjukan yang mencakup teori dan praktek dalam proses pembuatan seni pertunjukan yang didampingi oleh tiga orang mentor yaitu Yudi Ahmad Tajuddin, Eko Supriyanto dan Garin Nugroho. Bersama sembilan kelompok terpilih lainnya, SMC mendapatkan pelatihan dari para mentor seni pertunjukan Indonesia dan berkesempatan tampil di Galeri Indonesia Kaya.

“Pementasan yang memadukan antara sulap dan teater ini diharapkan mampu memberikan pemahaman bagi generasi muda mengenai proses dan perkembangan kebudayaan sehingga mampu membangun sebuah pertunjukan yang unik dan penuh dengan kisah moral,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Dengan pengemasan yang unik dan segar, Zulfa berharap masyarakat dapat lebih mengapresiasi seni misteri. “Seni ini sering diidentikkan dengan klenik, jin, dan syirik. Melalui pertunjukan semacam ini, semoga seni misteri semakin dihargai sebagai sebuah seni, bukan takhayul,” pungkasnya.

(Lutfi Fauziah)

KOMENTAR