Lima Ajaran Anak Putu Bonokeling

2017 / Maret / 20   17:49

Lima Ajaran Anak Putu Bonokeling

Keyakinan Bonokeling sudah ada sejak beberapa ratusan tahun silam, dan hingga kini tetap lestari dianut para pengikutnya di daerah Banyumas dan Cilacap.

Lima Ajaran Anak Putu BonokelingAnak putu Bonokeling melakukan sungkem di petilasan Mbah Depok Kendran, Cilacap, Jawa Tengah saat ritual adat Mauludan. (Rahmad Azhar Hutomo/National Geographic Indonesia)

Nusantara memiliki budaya dan adat istiadat yang amat beragam. Salah satunya, keyakinan Bonokeling, yang dianut warga sekitar Banyumas dan Cilacap, Jawa Tengah. Keyakinan ini sudah ada sejak beberapa ratusan tahun silam, dan hingga kini tetap lestari dianut para pengikutnya.

Ajaran Bonokeling tak jauh beda pun dengan ajaran keyakinan lain yang selalu mengajarkan kebaikan. Dalam ajaran Bonokeling, kedudukan wanita sangat dihormati.

Asal-usul ajaran Bonokeling sendiri memiliki banyak versi. Sumitro, salah satu tokoh adat Bonokeling bertutur bahwa Bonokeling merupakan seorang patih kerajaan. Namun jati diri Bonokeling yang sesungguhnya memang dirahasiakan. Hal itu bertujuan untuk melindungi identitas asli leluhur. Jika kita memang benar-benar ingin mengetahui latar belakang Bonokeling, kita harus menjadi pengikutnya.

Syarat utama untuk menjadi pengikut Bonokeling atau biasa disebut “anak-putu” sangat mudah. “Kepengen dadi anak putu ya syaratnya gampang” ujar Sumitro.

Untuk mengikuti ajaran Bonokeling ada dua cara yakni memang benar-benar keturunan dari garis keluarga dan dengan cara “ditodi” atau diuji terlebih dahulu selama tiga tahun.

Apabila selama tiga tahun sanggup mengikuti tata cara dan adat yang dianut dengan baik, maka calon tersebut diperbolehkan mengikuti ajaran. Perlu diingat, calon pengikut ajaran Bonokeling juga harus sudah menginjak usia dewasa yakni 17 tahun.

Sumitro juga memberikan beberapa contoh kebaikan yang masih dianut anak putu Bonokeling hingga sekarang. Terdapat lima ajaran yang dianjurkan. Pertama yakni monembah, diartikan kita sebagai manusia dianjurkan menyembah dan beribadah kepada Tuhan sesuai keyakinan masing-masing.

Kedua, moguru yakni patuh terhadap kedua orang tua. Ketiga, mongabdi yang berarti saling menghargai antar sesama dan menjalin hubungan baik antar umat. Keempat, makaryo yang berarti bekerja, tanpa bekerja manusia tak bisa mendapatkan uang yang menunjang kehidupannya di dunia.

Ajaran terakhir untuk dianjurkan adalah manages manunggaling kawula Gusti. Jika diartikan adalah hubungan seorang Kejawen dengan Tuhan tidak melalui perantara apapun seperti yang dilakukan oleh beberapa agama yang memiliki utusan atau rasul. Dalam keyakinan Bonokeling, setiap orang yang lahir di muka bumi adalah titipan Tuhan.

Lima ajaran tersebut hingga sekarang masih dipegang teguh oleh anak putu Bonokeling. Tak ada hukum adat dalam keyakinan Bonokeling, namun hukum negara tetap berlaku bagi anak putu Bonokeling. Menurut Sumitro hingga detik ini belum pernah ada konflik yang terjadi. “Karena tujuan di sini juga untuk Bhineka Tunggal Ika,” pungkas Sumitro.

(Rahmad Azhar Hutomo)

KOMENTAR