Hewan-hewan yang Bercinta Sampai Mati
2017 / Maret / 3   12:30

Hewan-hewan yang Bercinta Sampai Mati

Bagi sebagian hewan, menemukan pasangan untuk kawin sungguh melelahkan. Beberapa hewan bahkan harus rela kehilangan nyawanya setelah kawin.

Hewan-hewan yang Bercinta Sampai MatiSepasang salmon merah sedang kawin di sungai di British Columbia. Semua salmon pasifik, termasuk salmon merah, akan mati setelah bereproduksi. (Paul Nicklen/National Geographic Creative)

Dalam biologi, ada istilah strategi reproduksi yang disebut semelparity. Dalam kondisi tersebut, hewan akan mencurahkan seluruh energi reproduktifnya untuk sekali bercinta sampai akhirnya mati.

Salah satu hewan yang paling dikenal karena menggunakan strategi reproduksi ini adalah antechinus jantan, mamalia Australia bertubuh kecil dan berumur pendek. Makhluk ini biasanya bercinta secara gila-gilaan, terkadang bahkan bisa selama 14 jam. Setelah itu, hewan tersebut mengalami kerusakan sistem imun fatal dan mati akibat kelelahan.

Bisa dibilang, ini adalah pengorbanan orang tua: Antechinus jantan mati setelah memastikan bahwa dirinya telah menyebarkan spermanya secara luas dan jauh.

“Sebagai imbalannya, sepesies ini menghasilkan lebih banyak keturunan,” kata Jeyaraney Kathirithamby, entomolog di Universitas Oxford.

Sepasang belalang sembah ini ...Sepasang belalang sembah ini akan segera mati setelah bereproduksi. Terkadang, si betina akan memangsa pejantan dengan memenggal kepalanya. (George Grall/National Geographic Creative)

Selain antechinus, ada hewan-hewan lain yang juga bercinta sampai mati. Salmon pasifik, misalnya, akan mati setelah memproduksi ratusan hingga ribuan telur. Belalang sembah juga akan mati setelah bereproduksi. Adakalanya, si betina akan memangsa pejantan dengan memenggal kepalanya.

Parasit bersayap pintal

Parasit bersayap pintal betina dari ordo Strepsiptera memproduksi 2.000-750.000 larva dalam satu-satunya masa kawin mereka. Hewan ini juga memiliki gaya hidup yang aneh: si betina mengubur diri mereka dalam tubuh hewan inang, seperti lebah soliter dan tak pernah pergi dari situ.

Karena hidup dalam tubuh inang, mereka tak membutuhkan sayap, mata, kaki, atau antena. Satu-satunya bagian tubuh yang menonjol dari inang hanyalah saluran reproduksinya. Saluran yang terbuka ini memungkinkan pejantan menginseminasi betina dan larva merangkak ke dunia luar.

Parasit betina dari genus ...Parasit betina dari genus Caenocholax-Strepsiptera bersembunyi di tubuh jangkrik. Dia akan kawin, melahirkan, dan kemudian mati di tubuh inangnya. (Jeyaraney Kathirithamby via National Geographic)

Parasit bersayap pintal jantan yang hanya hidup selama enam jam, terbang berkeliling mencari betina untuk mereka kawini. Tak lama setelah kawin, pejantan pun akan mati. Setelah larva keluar, betinanya juga akan mati.

Pengorbanan Laba-laba  

Laba-laba betina dikenal suka memangsa pasangannya setelah kawin. Tapi laba-laba betina juga berkorban demi anak-anaknya. Seperti  laba-laba S.lineatus.

Setelah bertelur dan menetaskan telur-telurnya, ibu laba-laba S.lineatus akan sengaja bertelur untuk makanan anak-anaknya. Setelah makanan habis, ibu laba-laba ini akan membiarkan dirinya dimakan oleh anak-anaknya. Hal ini juga untuk melatih insting predator anak-anaknya agar siap menghadapi dunia luar. Simak video singkatnya berikut ini.

Sementara itu, laba-laba jantan dari genus Argiope akan mengorbankan dirinya untuk memastikan bahwa ia merupakan satu-satunya ayah dari bayi-bayi dari satu betina.

Laba-laba jantan memiliki dua organ penghantar sperma yang disebut pedipalp. Saat kawin, mereka memasukkan kedua organ tersebut ke dua organ penampung sperma pada betina. Laba-laba Argiope akan mati setelah memasukkan pedipalp yang kedua.

Setelah mati, tubuh si pejantan akan menggantung pada alat genital si betina, sehingga pejantan lain akan kesulitan kawin dengan betina tersebut.

Pejantan Argiope juga sering kali kawin dengan betina yang baru ganti kulit, sehingga si betina tidak bisa memangsanya. Tetapi jika dia mengawini betina yang lebih tua, si betina akan segera memangsanya setelah si pejantan mati.

(Lutfi Fauziah. Sumber: Liz Langley/National Geographic)

KOMENTAR