Einstein dan Biola Kesayangannya, ''Lina''
2017 / April / 3   09:00

Einstein dan Biola Kesayangannya, "Lina"

Fisikawan tersohor itu mendapat inspirasi dalam mencetuskan teori-teori sains yang elegan dari alat musiknya.

Einstein dan Biola Kesayangannya, ''Lina''Dalam hal musik, Albert Einstein mengidolakan komponis Wolfgang Amadeus Mozart dan Johann Sebastian Bach. (Sueddeutsche Zeitung Photo/Alamy Stock Photo via National Geographic)

Suatu hari dia mengembangkan teori relatifitas, teori paling terkenal yang pernah ditulis, E=mc2. Dia membantu membuat pondasi dari teori quantum moder, mendapatkan Penghargaan Nobel  dan menjadi sinonim dari kata “jenius".

Namun Elsa Einstein menceritakan kepada seorang pengunjung, hal yang membuatnya jatuh cinta pada sepupu tampannya itu dengan alasan berbeda: “karena Ia dapat memainkan Mozart dengan indah di violin.”

Atau mungkin itu bukan alasan berbeda. Musik lebih dari pekerjaan sampingan Einstein; musik adalah pusat dari apapun yang Ia pikirkan dan lakukan.

“Musik menolongnya saat Ia sedang memikirkan teori-teorinya,” ujar Elsa, yang kemudian menjadi istri kedua Einstein pada 1919. “Saat ia meneliti, terkadang Ia menyempatkan untuk memainkan beberapa kord dengan piano, mencatat sesuatu, kemudian kembali meneliti."

Fisikawan besar tersebut pernah berkata, jika Ia tidak menjadi ilmuan, maka ia pastinya akan menjadi seorang musisi.

“Hidup tanpa bermain musik tak dapat terbayangkan oleh saya,” ujarnya. “Saya menghidupkan angan-angan saya dalam musik. Saya melihat hidup saya dengan musik… Saya mendapat kebahagiaan sebagian besar karena musik.“

Kecintaannya terhadap musik itu memakan waktu. Einstein berumur 6 tahun saat ibunya Pauline, seorang pianis handal, membawanya ke kursus violin. Namun memelajari alat tersebut merupakan tugas yang berat, hingga akhirnya Ia menemukan sonata-sonata Mozart yang dimainkan dengan Violin, saat berumur 13. Dari sana, musik kemudian menjadi gairah hidupnya.

Mozart berlanjut menjadi komposer favorit Einsten, seiring dengan Bach, sampai akhir hayatnya. Kemungkinan bukan meruapakan suatu kebetulan: Seperti yang disebutkan oleh banyak penulis biografi Einstein, musik Bach dan Mozart memiliki kejernihan, kesederhanaan dan kesempurnaan arsitektur yang selalu Einstein kejar dalam teori-teorinya.

Hal tersebut juga menjelaskan kebenciannya terhadap musik yang kurang tertata dan penuh emosi di penghujung abad 19, contohnya musisi seperti Wagner. (“Sebagian besar, saya hanya dapat mendengarnya dengan jijik,” ujar Einstein mengenai komposer Jerman tersebut.)

Einstein menderita saat membawa musiknya dalam bentuk fisik. Ia jarang keluar rumah tanpa membawa kotak violinnya. Isi kotak itu tidak selalu violin yang sama - Einstein memiliki beberapa selama hidupnya - tetapi Ia memberi nama semua alat itu dengan nama yang sama: “Lina,” kependekan dari Violin. Dalam perjalanannya, Ia secara rutin membawa Lina untuk memainkannya setiap malam di dalam rumah seseorang, Ia juga menjalin pertemanan musikal dengan banyak orang.

Pada 1930-an, Ia dan Elsa lebih memilih untuk bermukim di Princeton, New Jersey, dibandingkan kampung halamannya di Jerman. Mereka juga mengadakan sesi musi kamar setiap Rabu malam. Sesi tersebut sangatlah suci: Einstein berapa kali mengubah jadwalnya hanya untuk memastikan Ia dapat mengikuti sesi tersebut.

Di malam Halloween, Ia dikenal untuk keluar dan mengejutkan orang-orang dengan merayu menggunakan violin secara impromptu. Dan pada saat natal, Ia akan bermain bersama dengan kelompok musik dan para penyanyi natal.

Karena tidak ada rekaman otentik dari permainan violin Einstein, tercipta sebuah debat yang masih berlangsung untuk menaksir seberapa bagus permainan violinnya. Satu foto menunjukkan permainannya dengan bentuk postur yang buruk, violinnya menghadap ke bawah, penggeseknya melintang ke suatu sudut dan bukannya tegak lurus - kesalahan-kesalahan yang membuat guru violin merasa jijik.

Einstein juga memiliki reputasi buruk karena permainannya yang tidak sinkron. Menurut sebuah kisah, saat Ia bermain buruk dalam sebuah kuartet bersama dengan Fritz Kreisler, sang maestro violin itu bertanya padanya. “Ada masalah apa, professor? Anda tidak bisa berhitung?”

Tapi tetap saja, bukti menunjukkan bahwa pujian dari Elsa bukan sekedar pujian sentimental. Pada umur 16, sepupunya ini melaksanakan ujian musik di sekolah setempat, dan inspektur musiknya kemudian mencatat, “seorang murid bernama Einstein bersina dalam pertunjukan penuh emosi dengan salah satu sonata Beethoven.”

Beberapa lama kemudian, seorang teman menulis, “ada banyak musisi yang memiliki teknik lebih baik, tapi saya percaya tidak ada yang memiliki keteulusan dan perasaan yang lebih dalam dibandingkan dia.”

Einstein terus bermusik hingga ajal menjemput. Hanya saat tangan kirinya menua dan tidak kuat lagi untuk bermain, Ia akhirnya melepaskan Lina. Tapi Ia tidak pernah menghentikan gairahnya pada musik.

Einstein memiliki banyak pertemanan karena bermusik dan seringkali bergabung dan turut bermain di pertunjukkan-pertunjukkan.

Pada profil yang dipublikasi beberapa bulan setelah kematian Einstein pada April 1955, penulis, Jerome Weidman mengingat pernah berada di sebuah perjamuan malam dan terpaksa mendengarkan sebuah pertunjukkan musik kecil. Selama alunan yang menidurkan itu, Ia mengaku pada pria yang duduk di sampingnya bahwa Ia sebenarnya buta nada.

“Nanti Kau ikut aku,” ujar Einstein, yang langsung membawa Weidman keluar konser dan mengajaknya ke atas rumah untuk melihat sebuah penelitian yang berisi koleksi rekaman fonograf.

Di sana Einstein memainkan beberapa cuplikan lagu karya Bing Crosby, Enrico Caruso dan banyak lagi. Ia memaksa Weidman untuk langsung menyanyikannya kembali dengan maksud melatih pendengarannya.

Setelah Einstein puas, mereka lalu turun ke bawah - pada akhirnya, Weidman dapat menyanyikan “Sheep may safely graze” karya Bach untuk pertama kali.

(Faris Dzaki. Sumber: Mitch Waldrop/National Geographic)

KOMENTAR