35 Kota di Indonesia Akan Berpartisipasi dalam Perayaan Earth Hour 2017

2017 / Maret / 24   17:00

Earth Hour 2017

35 Kota di Indonesia Akan Berpartisipasi dalam Perayaan Earth Hour 2017

Partisipasi Earth Hour dilakukan dengan mematikan lampu-lampu penerangan di ikon-ikon kota selama satu jam, mulai pukul 20.30-21.30 waktu setempat.

35 Kota di Indonesia Akan Berpartisipasi dalam Perayaan Earth Hour 2017Earth Hour di Pontianak, Kalimantan Barat. (Yohanes Kurnia Irawan/Fotokita.net)

Sebanyak 35 kota di Indonesia akan ambil bagian dalam perayaan Earth Hour, Sabtu, 25 Maret 2017. Partisipasi dilakukan dengan mematikan lampu-lampu penerangan di ikon-ikon kota, seperti Candi, Benteng, Monumen, Masjid, dan sebagainya, selama satu jam, mulai pukul 20.30-21.30 waktu setempat.

Kota-kota tersebut tersebar di berbagai wilayah. Di Sumatra, kota yang berpartisipasi antara lain Banda Aceh, Lampung, Medan, Padang, Palembang, Pekanbaru.

Di Jawa, perayaan Earth Hour akan digelar di Kota Bandung, Bekasi, Bogor, Cimahi, Depok, Yogyakarta, Kediri, Batu, Malang, Serang, Sidoarjo, Solo, Surabaya, Tangerang, Jakarta, Semarang.

Baca juga: Yuk, Ikut Sayangi Bumi Melalui Kampanye Earth Hour!

Sementara itu, aksi Earth Hour di Kalimantan berlangsung di Kota Balikpapan, Banjarmasin, Palangkaraya, Pontianak, Samarinda, Kutai Barat, Singkawang.

Di  Sulawesi, Kota Makassar, Palu, Palopo juga akan ambil bagian dalam perayaan Earth Hour. Begitu pula Kota Denpasar di Bali dan Mataram di Nusa Tenggara Barat. Tak ketinggalan, Kota Jayapura di Papua pun turut merayakan Earth Hour.

Perayaan Earth Hour tak terbatas hanya dengan mematikan lampu penerangan di ikon-ikon kota. Setiap individu juga berpartisipasi mematikan lampu dan alat elektroniknya selama satu jam, mulai pukul 20.30-21.30  di manapun ia berada.

Baca juga: Earth Hour Night Run, Berlari 60 Menit untuk Bumi

Aksi mematikan lampu selama satu jam pada perayaan Earth Hour sebenarnya hanya merupakan gerakan simbolis. Lebih dalam lagi, kampanye Earth Hour ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan publik mengenai isu perubahan iklim, serta mendorong masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam menahan laju perubahan iklim. Di antaranya, dengan menggunakan energi secara bijak dan menerapkan gaya hidup ramah lingkungan.

(Lutfi Fauziah. Sumber: WWF Indonesia)

KOMENTAR