Sayangi Diri, Cintai Bakteri

Sayangi Diri, Cintai Bakteri

Kita tak pernah sepenuhnya mengetahui bahwa ada triliunan mikroba yang hidup dan berinteraksi dengan tubuh kita dan memengaruhi fungsi fisiologis dan biologis.

Sayangi Diri, Cintai BakteriUsus Anda seperti hutan belantara, menjadi rumah bagi ekosistem berbagai jenis bakteri, baik bakteri yang ramah dan berguna untuk kesehatan maupun yang berbahaya. (Thinkstock)

Jika kita berpikiran bahwa yang paling memahami tubuh kita adalah diri kita sendiri, itu salah. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya ada dan sedang terjadi dalam tubuh kita sendiri. Kita pun tak pernah sepenuhnya mengetahui bahwa ada triliunan mikroba yang hidup dan berinteraksi dengan tubuh kita dan memengaruhi fungsi fisiologis dan biologis kita.

Pada kuliah umum di Gedung Rumpun Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Agustus 2016, Guru Besar Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran UI Pratiwi Pujilestari Sudarmono mengatakan, pada tubuh manusia terdapat banyak sekali mikroba yang tersebar di seluruh tubuh dan membentuk mikrobioma. Mikrobioma adalah kumpulan bakteri, virus, dan sel eukariotik yang mendiami dan berinteraksi dengan tubuh manusia. Mikrobioma pada tubuh manusia paling banyak terdapat di usus.

Mikrobioma berperan dalam mengatur proses biologis dan fisiologis tubuh. Bakteri pada mikrobioma, misalnya, memiliki peran pada kekebalan tubuh, nutrisi, dan perkembangan manusia.

Dalam ceramah ilmiahnya di Rumah Sakit Mayapada, Jakarta, Rabu (8/2/2017), penerima Hadiah Nobel Kedokteran tahun 1993, Sir Richard J Roberts, menyampaikan, bakteri sering menjadi penyebab penyakit infeksi. Akan tetapi, sebenarnya bakteri dalam tubuh kita juga berperan penting dalam menjaga tubuh tetap sehat.

Menurut Roberts, kita sering kali beranggapan bahwa faktor yang paling berperan dalam menjaga kesehatan tubuh ialah sistem kekebalan tubuh. Pemahaman ini luput memikirkan fakta bahwa ada banyak mikrobioma, termasuk bakteri, yang hidup pada tubuh kita dan membantu metabolisme tubuh.

"Bakteri yang bersifat patogen dalam jumlah tertentu bisa membuat seseorang sakit. Sementara kita tahu bahwa ada banyak bakteri hidup dalam tubuh kita. Artinya, mayoritas bakteri yang ada dalam tubuh kita adalah bakteri baik. Mereka ikut berperan melawan sumber infeksi, menjaga rumah mereka tetap sehat, yaitu tubuh kita," tutur Roberts.

Tak banyak digarap

Sejak teknologi pengurutan asam deoksiribonukleat (DNA) dikuasai, terjadi lompatan ilmu pengetahuan yang luar biasa. Pengurutan DNA memungkinkan manusia modern mengetahui informasi mendasar dari gen atau genom sehingga bisa mempelajari instruksi dari gen dalam pembentukan makhluk hidup. Para peneliti berlomba mengurutkan berbagai DNA untuk dipelajari, terutama terkait dengan pengembangan obat.

Akan tetapi, Roberts memandang ada area riset yang tidak banyak digarap oleh mayoritas peneliti, yakni mengungkap fungsi, relasi, dan interaksi bakteri dalam tubuh manusia. Baru sedikit fungsi bakteri yang dipahami, masih sangat banyak yang perlu dimengerti.

"Saya rasa riset bakteri ini jadi area riset masa depan," ujar Roberts, yang juga Direktur Penelitian di New England Biolabs di Massachusetts, Amerika Serikat, itu.

Roberts menyebutkan, dalam 3 tahun terakhir sudah ada beberapa peneliti yang berupaya menyingkap fungsi bakteri dalam tubuh manusia. Salah satu hasil observasi sementara yang menarik ialah adanya bakteri pada hidung yang mampu melawan bakteri Staphylococcus aureus yang kebal antibiotik metisilin (MRSA).

Temuan ini akan sangat menolong dalam mengendalikan merebaknya resistensi antibiotik, salah satunya bakteri MRSA, di dunia.

Sayangnya, ujar Roberts, kebanyakan penelitian kesehatan lebih fokus pada penyakit, misalnya bagaimana mengembangkan obat baru untuk mengatasi penyakit baru atau bagaimana respons tubuh terhadap obat.

Kontribusi perlindungan bakteri yang baik terhadap serangan bakteri jahat dalam tubuh kita sangat jarang diungkap. "Ini jadi masalah besar bagi saya," kata Roberts, Rabu.

Oleh karena itu, kata Roberts, riset bakteri perlu komitmen pemerintah.

Bijak dengan antibiotik

Pemerintah perlu menaruh investasi lebih pada riset kesehatan, terutama riset bakteri. Roberts meyakini, jika pemerintah mulai berkomitmen, semua pihak akan tergerak untuk berkontribusi.

Di luar pemerintah, area riset bakteri juga bisa didanai lembaga filantropi yang bekerja sama dengan akademisi atau lembaga penelitian.

Bagi masyarakat, kata Roberts, yang bisa dilakukan untuk menjaga harmoni kehidupan mikrobioma dalam tubuh kita ialah menggunakan antibiotik secara bijak. Sebab, ketika mengonsumsi antibiotik, tidak hanya bakteri jahat yang akan mati, tetapi juga bakteri baik. Padahal, sangat mungkin bakteri baik ikut berperan dalam menyingkirkan bakteri jahat.

Oleh karena itu, Roberts menyarankan agar antibiotik hanya digunakan untuk penyakit yang disebabkan oleh bakteri jika memang diperlukan. Jangan gunakan antibiotik untuk penyakit yang disebabkan virus. Selain itu, jangan pula mengonsumsi antibiotik yang diresepkan untuk orang lain atau sisa orang lain.

Bersama Phillip A Sharp, pada tahun 1993, Roberts dianugerahi Hadiah Nobel Kedokteran karena penelitiannya tentang pemisahan gen dan penyambungan RNA "pembawa pesan" (messenger RNA/mRNA).

Kedatangan Roberts ke Indonesia adalah bagian dari program The ASEAN "Bridges" yang ke-6 yang diprakarsai International Peace Foundation.

Ceramah Roberts yang berjudul "Mengapa Kita Harus Mencintai Bakteri" merupakan salah satu bentuk kampanye budaya perdamaian dari bidang kesehatan.

(Adhitya Ramadhan/Harian Kompas)

KOMENTAR