Nostalgia Dolanan Bocah Nusantara
2017 / Februari / 23   18:00

Nostalgia Dolanan Bocah Nusantara

Pameran bertajuk "Menyelami Kegairahan Masa Kecil" ini berupaya menyegarkan kembali ingatan masyarakat tentang permainan tradisional yang kian terpinggirkan.

Nostalgia Dolanan Bocah NusantaraAnak-anak mementaskan permainan tradisional, "ular naga" saat pembukaan pameran permainan tradisional bertajuk "Menyelami Kegairahan Masa Kecil" di Bentara Budaya Jakarta, Rabu, 22 Februari 2017. (Rahmad Azhar Hutomo/National Geographic Indonesia)

“Ular naga panjangnya bukan kepalang

Menjalar-jalar selalu kian kemari

Umpan yang lezat itulah yang dicari

Ini dianya yang terbelakang”

Anda yang lahir pada tahun 1990-an atau sebelumnya, tentu familiar dengan lagu karangan Saridjah Niung Bintang Soedibjo atau lebih dikenal dengan Ibu Sud ini. Dulu, lagu tersebut dinyanyikan sebagai pengiring permainan tradisional “ular naga” yang biasa dilakukan oleh anak-anak di halaman.

Lagu tersebut kembali berkumandang, mengiringi sekelompok bocah yang bermain ular naga dalam Operet Dolanan. Mereka tampil pada malam pembukaan Pameran dan Gelar Permainan Tradisional di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (22/02/2017).

Pengunjung melihat beragam ...Pengunjung melihat beragam layang-layang yang dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta. (Rahmad Azhar Hutomo/National Geographic Indonesia)

Melalui pameran bertajuk  “Menyelami Kegairahan Masa Kecil”, Bentara Budaya dan Gudang Dolanan Indonesia mengajak masyarakat untuk menyegarkan kembali ingatan tentang beragam permainan anak nusantara yang kini mulai terpinggirkan.

Pameran yang berlangsung pada 22-28 Februari 2017 itu menampilkan sekitar 400 alat permainan tradisional dari berbagai daerah di Indonesia. Di antaranya congklak, kelereng, ketapel, bekel, yoyo dan gasing. Untuk gasing sendiri, jumlahnya berkisar 100 buah, dengan beragam rupa yang mewakili daerah asalnya.

Ada sekitar 100 buah gasing ...Ada sekitar 100 buah gasing dari berbagai daerah di Indonesia yang ditampilkan dalam Pameran Permainan Tradisional "Menyelami Kegairahan Masa Kecil" di Bentara Budaya Jakarta, 22-28 Februari 2017. (Rahmad Azhar Hutomo/National Geographic Indonesia)

Hampir seluruh mainan yang dipamerkan merupakan koleksi milik Endi Agus Riyono atau yang lebih dikenal sebagai Endi Aras, pemerhati dan pelestari permainan tradisional. Koleksi beragam permainan tradisional tersebut merupakan hasil jerih payah Endi “bergerilya” dari satu daerah ke daerah lain di Indonesia selama kurang lebih 11 tahun.

Upaya Endi untuk melestarikan dolanan bocah khas Nusantara berangkat dari keprihatinannya melihat permainan tradisional yang kian terlupakan dan ditinggalkan. Ia menuturkan, saat ini anak-anak lebih nyaman berlama-lama menatap layar gawai atau bermain dengan mainan modern buatan pabrik.

“Sayang kalau permainan tradisional lama-lama ditinggalkan. Karena kepunahan permainan tradisional ini juga berarti kepunahan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” kata Endi.

Padahal, di balik kesederhanaannya, permainan tradisional mengajarkan berbagai nilai yang penting bagi perkembangan karakter anak, di antaranya kejujuran, sportivitas, kebersamaan, dan taat pada aturan. Permainan tradisional juga melibatkan aktivitas fisik, mengasah keterampilan serta mengembangkan kreativitas.

“Sayang kalau permainan tradisional lama-lama ditinggalkan. Karena kepunahan permainan tradisional ini juga berarti kepunahan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” kata Endi, seusai pembukaan pameran, Rabu (22/02/2017) malam.

Endi mengatakan, perhelatan ini bertujuan untuk mengenalkan kembali permainan tradisional Indonesia di kalangan anak-anak melalui orangtuanya. “Kami memperkenalkan kembali permainan tradisional Indonesia ke anak-anak dan ke orang tua. Karena dari orangtua itu akan merambat ke anaknya,” ujarnya.

Endi Agus Riyono atau lebih ...Endi Agus Riyono atau lebih dikenal sebagai Endi Aras, seorang pemerhati dan pelestari permainan tradisional memberikan sambutan saat malam pembukaan pameran. Hampir seluruh mainan yang dipamerkan merupakan koleksi miliknya. (Rahmad Azhar Hutomo/National Geographic Indonesia)

Selain pameran, digelar pula berbagai pelatihan membuat mainan tradisional dan beragam lomba permainan anak, seperti egrang bambu, adu gasing, bakiak, lompat karet, dan kelereng. Malam harinya, terdapat panggung kesenian yang diramaikan oleh berbagai komunitas seni dan perwakilan dari sekolah-sekolah.

Seorang pengunjung menjajal ...Seorang pengunjung menjajal area permainan tradisional "engklek" yang berada di dalam ruang pamer Bentara Budaya Jakarta. Tak hanya permainan saja yang dipamerkan namun terdapat workshop dan juga lomba tentang permainan tradisional yang diselenggarakan hingga 28 Februari 2017. (Rahmad Azhar Hutomo/National Geographic Indonesia)

Berikut jadwal acara Pameran dan Gelar Permainan Tradisional:

Kamis, 23 Februari 2017

10.00 - 12.00             Lomba permainan anak

15.00-18.00               Lomba putar gasing raksasa

Jumat, 24 Februari 2017

10.00 - 12.00           Lomba permainan anak: egrang bambu, adu gasing, bakiak

13.00-15.00             Gelar permainan tradisional Indonesia

15.00-17.00             Workshop melukis wayang kardus

16.30-18.00             Lomba putar gasing raksasa

Sabtu, 25 Februari 2017

10.00 - 12.00           Talkshow-Menyelami Kegairahan Masa kecil

13.00-15.00             Workshop mewarnai

16.30-18.00             Lomba permainan anak: egrang batok, engsreng, lempar sarung

Lomba putar gasing raksasa

Minggu, 26 Februari 2017

13.00-15.00             Workshop mewarnai

16.30-18.00           Lomba permainan: taplak, lompat karet, mobil laker

Lomba putar gasing raksasa

Senin, 27 Februari 2017

13.00-15.00             Lomba permainan: congklak, egrang bambu
Lomba putar gasing raksasa

16.30-18.00             Workshop membuat mainan mobil-mobilan dari bambu.

Selasa, 28 Februari 2017

10.00-12.00             Lomba permainan: adu gasing, sepak bola kelereng

16.30-18.00             Workshop membuat alat permainan dari bahan kaleng bekas
Pemutaran gasing raksasa.

(Lutfi Fauziah)

KOMENTAR