2017 / Februari / 7   17:31

Hampir Seribu Anak-anak Tewas di Afganistan Tahun Lalu

Data PBB menunjukkan, konflik berkepanjangan di Afganistan telah menewaskan lebih dari 900 anak-anak sepanjang tahun lalu.

Hampir Seribu Anak-anak Tewas di Afganistan Tahun LaluSeorang bocah laki-laki Afganistan memegangi adiknya yang tengah mendapatkan perawatan medis di distrik Tagab, Provinsi Kapisa, Afganistan (30/4/2007). (Michael Bracken/Wikimedia Commons)

 Lebih dari 900 anak tewas sepanjang tahun lalu akibat konflik berkepanjangan di Afganistan. 

Demikian disampaikan PBB, Senin (6/2/2017), sambil menyebut 2016 adalah tahun paling mematikan bagi anak-anak Afganistan.

PBB menambahkan, 25 persen kematian anak-anak itu disebabkan ranjau dan sisa bahan peledak dari konflik panjang selama beberapa dekade.

Secara umum, PBB mencatat kenaikan 66 persen angka kematian anak-anak Afganistan dibanding tahun sebelumnya.

"Kekerasan terkait konflik menghasilkan korban tewas sangat banyak sepanjang tahun lalu, dengan angka korban sipil terbanyak sejak 2009 saat kali pertama pencatatan dilakukan," kata misi PBB di Afganistan (UNAMA) dalam laporan tahunannya.

UNAMA mengatakan, tahun lalu sebanyak 3.498 orang tewas, termasuk 923 anak, dan sebanyak 7.920 orang lainnya terluka. 

Secara umum, jumlah korban akibat konflik bersenjata di Afganistan tahun lalu sedikit lebih banyak dibanding tahun sebelumnya.

"Saya sangat sedih membaca laporan ini, untuk kesekian kalinya, jumlah korban warga sipil meningkat, bahkan menjadi yang tertinggi," kata Tadamichi Yamamoto, utusan PBB untuk Afganistan.

Sementara itu, organisasi amal Save the Children mengatakan, paparan PBB ini sangat mengkhawatirkan dan mendesak agar semua pihak mengambil langkah untuk melindungi warga sipil.

"Kondisi kemanusiaan di sebagian besar wilayah Afganistan memburuk secara signifikan selama 12 bulan terakhir," kata Direktur Save the Children, Ana Locsin.

"Dengan dimulainya musim pertempuran tradisional pada akhir musim dingin, kondisinya akan jauh lebih buruk dalam beberapa bulan mendatang," tambah Ana.

(Ervan Hardoko/Kompas.com)

KOMENTAR