2017 / Januari / 30   15:08

Bandanaira, Negeri Kaya Sejarah Beraroma Rempah

Menjelajah tiap jengkal Bandanaira, dari peninggalan sejarah hingga kekayaan alam bawah lautnya yang memukau.

Bandanaira, Negeri Kaya Sejarah Beraroma RempahRumah pembuangan: dr Tjipto Mangunkusumo mendekati warga dengan pengobatan gratis. (Uwi Hadjid/National Geographic Traveler Indonesia)

Pendaratan mulus di Bandar Udara Bandanaira, Maluku memecahkan suasana hening selama hampir sejam berada di udara dari Ambon menuju Bandanaira. Sontak tepukan tangan bak konser opera dari beberapa penumpang membuyarkan lamunan saya. Penerbangan perintis ini menggunakan pesawat yang sudah cukup tua, dan tentu berbeda jauh dengan pesawat tipe Boeing yang berbadan lebar dan kelengkapan yang canggih. Jadi, wajar saja seluruh penumpang merasakan cemas, sehingga pendaratan mulus oleh Kapten Bambang menjadi prestasi yang layak mendapat aplausDengan sigap, Tursip sebagai pramugara membukakan pintu belakang pesawat Casa 212 yang terbang hanya empat kali seminggu, yaitu hari Jumat, Sabtu, Minggu dan Senin setiap pukul 07.00 pagi dari Ambon.

Aroma basah serta merta menyengat hidung saya, sepertinya Bandanaira baru saja diguyur hujan subuh tadi. Landasan masih ada sedikit genangan air, dan rumput-rumput taman tampak basah. Saat saya memandang ke atas, langit mulai menampakkan biru cerah, perlahan matahari mengintip di balik awan tebal.

“Cuaca memang sering tidak menentu di Bandanaira," ujar Turnip ketika saya mulai memotret pesawat perintis ini dengan tulisan “Bandanaira” disampingnya.

Perbincangan singkat saya berakhir setelah semua penumpang yang berjumlah 12 orang sudah habis meninggalkan landasan. Cuaca cepat berubah cerah dan cepat pula memburuk. Oleh karena itu penerbangan ke dan dari Bandanaira hanya berlangsung di pagi hari.

Bandanaira, berasal dari nama dua pulau, yaitu Pulau Banda dan Pulau Naira. Bandar udara berada di Pulau Naira, dan Pulau Banda ada di seberang Pulau naira yang bisa ditempuh dengan perahu bermotor selama lebih kurang 30 menit.

Tiba di bandara saya dan rekan dijemput oleh pihak penginapan. Kami menginap di Delfika Guest House, bangunan tua  bergaya eropa yang seakan membawa kita kembali ke abad-17. 

"Ini kunci kamarnya, kamar ujung,” begitu kata Bahri, sang pemilik penginapan, sambil mengantar kami menuju bagian dalam rumah tua. Kamar berukuran 5 x 5 meter persegi, dengan berpendingin ruangan ini dikenai tarif dua ratus ribu rupiah per malam dan sudah termasuk sarapan pagi.

Tak ingin berlama-lama menghabiskan waktu di dalam kamar, kami langsung berdiskusi di depan selembar peta wisata Bandanaira pemberian Bahri. Berkeliling Kota naira, ke pulau Banda dan snorkeling di Pulau Syahrir akan memenuhi agenda kami tiga hari ke depan.

Tidak ada yang jauh di pulau ini, setengah hari saja sudah hampir seluruh Pulau naira dijelajahi.  Namun mengingat masih banyak tempat yang ingin kami kunjungi, saya memutuskan menyewa sepeda motor agar memudahkan mobilitas kami. Untuk 5 jam pemakaian, sepeda motor disewa dengan harga Rp 60.000 atau sewa ojek Rp 45.000.

Rumah Budaya

Sebelum memulai berkeliling menjelajah pulau ini, ada baiknya mengunjungi dulu Rumah Budaya, karena di dalamnya begitu banyak benda sejarah dan kisah-kisah Bandanaira zaman dahulu. Tempat ini terletak tepat di depan Delfika Guest House. Di bagian Sayap kiri ada seperangkat meja tamu dilengkapi gramofon yang masih aktif. Pemandu sempat pula memutar piringan hitam yang terlihat masih terawat baik, alunan musik klasik zaman belanda mengalun samar mengiringi penjelajahan kami di ruang demi ruang. 

Masker menyelam, alat memasak, meriam, lonceng gereja, lonceng benteng, senapan, jam tua, topi perang, semua tertata rapi. Satu hal yang paling menarik adalah sebuah lukisan yang tergantung di ruang tengah, menggambarkan peristiwa yang terjadi pada tahun 1621 di dalam Benteng Nassau. Saat itu, terjadi pembunuhan 44 orang kaya Banda yang dilakukan atas perintah Gubernur Jenderal Belanda Jan Pieterzoon Coen.

Pembunuhan dilakukan tepat di depan anak istri beserta keluarganya secara sadis oleh 6 orang algojo samurai yang didatangkan langsung dari Jepang (samurainya masih bisa kita lihat di Rumah Budaya). Setelah mati, mayat 44 orang kaya ini diceburkan ke dalam sumur tua tidak jauh dari Benteng Nassau. Saat ini, sumur tersebut juga masih terawatbaik dan dikenal sebagai Perigi Rante (Sumur Berantai). Tak jauh dari sumur, dibangun monumen yang berisi nama-nama 44 orang yang dibunuh.

Motif pembunuhan ini adalah agar Belanda mampu memonopoli perniagaan rempah-rempah diseluruh Kepulauan Banda, dan menakut-nakuti masyarakatnya agar tunduk kepada pemerintahan Belanda.

Benteng Belgica

Sebenarnya alasan inilah yang paling menguatkan niat saya mengunjungi Bandanaira, ketika melihat foto Benteng Belgica yang begitu indah  di Internet, saya begitu kagum dengan bentuk dan arsitektur benteng ini.

“Ah, akhirnya impian saya terkabul!”

Sekarang benteng Belgica sudah di depan mata, dengan nafas sedikit terengah menaiki hampir seratus anak tangga menuju pintu benteng, bagai anak kecil yang tak sabar menuju arena bermain, itulah yang saya rasakan. Pintu pagar masih terkunci rupanya,  karena setiap tamu tidak bisa dengan bebas datang dan masuk ke Benteng ini, ada petugas yang berjaga namun tidak selalu ada di benteng, sehingga harus membuat janji terlebih dahulu.  Di bantu oleh penduduk akhirnya 30 menit kemudian petugas berhasil dipanggil,  gelisah menunggu di depan pagar, sambil sesekali memotret pemandangan alam dari ketinggian. Gunung api nan anggun tampak hijau merona, langit biru menawan.  Saya betul-betul seperti menemukan tempat bermain baru yang seru

Benteng Belgica yang  tercatat sebagai  salah satu “World Heritage” oleh UNESCO, dibangun tahun 1621 oleh Bangsa Portugis sebagai pusat pertahanan. Namun pada masa penjajahan Belanda, Benteng Belgica beralih fungsi untuk memantau lalu lintas kapal dagang yang kemudian berhasil dirampas oleh Belanda untuk menguasai perdagangan rempah-rempah dunia. Terbayang betapa berharganya rempah-rempah di zaman itu.  Berdasarkan penuturan tokoh masyarakat Bandanaira, Bapak Des Alwi (kini sudah almarhum), uang seharga satu kilogram biji pala, bisa membangun satu buah rumah di Eropa.  Siapa yang tak tergiur dengan kekayaan ini hingga VOC terus berjuang mempertahankan Bandanaira.

Memiliki bentuk lima persegi, ada dua lantai yang bisa kita lihat secara menyeluruh.  Bagian bawah beberapa ruangan tahanan wanita dan pria dengan alat pasung dan juga alat pemenggal kepala, tempat tiang bendera juga dua buah sumur yang konon sebagai terowongan menuju benteng Nassau dan satu lagi menuju pelabuhan. 

Di lantai dua kita bisa saksikan lima meriam berjajar, dengan logo VOC diatasnya serta ruangan terbuka dengan lima menara. Hati-hati memanjat menara benteng, karena selain anak tangganya sangat tegak dan hanya satu badan lebarnya, bagian ujungnya juga sangat sempit.  Apabila Anda tidak terjepit di satu menara, cobalah menaiki empat menara lain lagi, karena tiap sudut benteng menawarkan keindahannya sendiri. Pemandangan Gunung api,  hilir mudik perahu motor di sepanjang teluk Banda, atau reruntuhan Benteng Nassau, sangat jelas terlihat. Anda bisa sekaligus mengkhayal sebagai Gubernur Jenderal Belanda Jan Pieterszoon Coen, memlintir kumis berdiri gagah memandang lautan mengawasi kapal-kapal pengangkut rempah-rempah  dengan keanggunan Gunung Api.

Rumah pengasingan Bung Hatta, Bung Syahrir, Penjara dan Istana mini

Meninggalkan Benteng Belgica, saya berjalan ke selatan menuju Rumah pengasingan Bung Hatta, dan juga rumah pengasingan Bung Syahrir. Mereka diasingkan karena kekhawatiran Belanda terhadap kegigihan perjuangan politik mereka berdua, sehingga diasingkan oleh pihak Belanda ke Bandanaira dimulai sejak 1935 hingga 1942. Selama 8 tahun dua tokoh politik Nasional ini gigih mengajarkan pengetahuan politik dan bahasa kepada masyarakat setempat, sehingga di rumah ini masih bisa kita saksikan susunan kursi dan meja laiknya sebuah sekolah.

Bisa disaksikan juga bersebelahan dengan rumah pengasingan Bung Hatta, sebuah penjara bergaya kolonial Belanda. Saat berkunjung ke sini, saya sempat bertemu dengan kepala penjara dan berbincang sejenak, bahwa kejahatan di Bandanaira sangat minim, saat ini penjara hanya dihuni satu orang tahanan dan itu pun kiriman dari Kota Ambon.

Perjalanan dilanjutkan ke Istana Mini. Disebut demikian karena istana ini dibangun satu tahun lebih cepat dengan istana merdeka yang ada di Jakarta. Dilihat dari bentuk pilarnya memang sangat mirip, kemungkinan rancangan istana ini dijadikan contoh untuk pembangunan istana merdeka di Jakarta. Bangunan ini konon digunakan sebagai pusat kantor perdagangan rempah-rempah sekaligus kediaman Gubernur Jenderal Belanda, termasuk di antaranya Jan Pieterszoon Coen. Bangunan dengan halaman yang luas it dilengkapi dengan tiang bendera di depannya dan meriam di kanan kirinya.  Apabila melihat sisi dalamnya, langit-langit, jendela dan lantai masih terawat dengan baik, walau terlihat kosong karena tak satupun terdapat benda di dalamnya.  Sedangkan pemandangan di depannya adalah selat Zonnegat yang membelah Pulau Banda Besar dan Pulau Naira

Berjalan ke  arah samping dari istana mini, kita masih bisa menemukan patung Willem III di halaman, beliau adalah Raja Belanda tahun pemerintahan 1849-1890.

Gereja Tua, Mesjid Tua dan Klenteng Sun Tien Kong

Beruntungnya saya saat melintas depan gereja di hari Minggu, saat itu ramai para jemaat menghadiri misa, sehingga saya bisa melihat bagian dalam gereja tua ini beserta aktivitasnya. Sungguh indah dan unik, karena di lantainya banyak tulisan-tulisan berbahasa Belanda. Setelah meminta izin, saya diperbolehkan naik ke balkon di bagian belakang untuk mengambil suasana di dalamnya. Malam harinya saya juga merasakan sholat magrib di Masjid Al-Mukhlisin yang dikenal juga sebagai masjid Hatta-Syahrir. Setelah membeli oleh-oleh khas pulau Banda berupa selai pala, halua kenari dan buah kenari saya bertandang ke Klenteng Sun Tien Kong yang juga masih tampak terawat baik. Kehadiran berbagai rumah ibadah ini menandakan beraneka ragam etnis dan agama ada di sini.

Hari kedua Menuju Lonthoir

Lonthoir atau Lontor adalah nama desa di Pulau Banda besar, yang letaknya berseberangan dengan Pulau naira. Perahu merapat di dermaga, dan baru 100 m berjalan, saya sudah diharuskan menapaki anak tangga. Sesaat saya terbayang anak tangga di Makam Imogiri ataupun anak tangga menuju kawah Bromo, banyak dan cukup tinggi.

Pelan tapi pasti, sambil menghitung anak tangga yang sudah lebih dari 300 buah, akhirnya saya tiba di benteng Hollandia. Benteng yang menghadap ke pulau Naira ini dibangun pada tahun 1642. Awalnya benteng tersebut bernama Fort Lonthoir. Kemudian diubah oleh Pieter Vlak menjadi Fort Hollandia.  Benteng itu dibangun untuk mengendalikan lalu lintas laut yang melintas di selat antara naira dan Lonthoir, terutama untuk memonitor aktivitas perdagangan pala dan bunganya (fuli) di desa sepanjang pantai Pulau Lonthoir.

Benteng Hollandia ini tampak kurang terawat. Dua sisi dinding sudah tampak tak utuh. Pintu utamanya tampak tak kokoh lagi karena banyak batu terbuka sehingga terlihat berisiko roboh sewaktu-waktu.  Tanaman liar merambat di mana-mana hingga hampir menutupi pintu utama. Hujan deras mendadak turun, sehingga saya harus berteduh selama 15 menit  di gerbang benteng ini.

Cuaca berganti cerah kembali, dari  depan pintu kita dapat menyaksikan pemandangan perkampungan Lonthoir yang indah, Gunung Api dan  Selat Zonnegat, di kejauhan masih tampak Benteng Belgica yang terletak pada ketinggian Bukit Tabaleku di Pulau Naira.

Perjalanan dilanjutkan menuju kebun pala dan kenari. Buah pala bergelantungan di setiap pohonnya, siap untuk dipetik, hampir semua bagian buahnya bernilai ekonomi. Daging buah pala dapat diolah menjadi manisan atau direbus dengan gula menjadi sirup pala, bunganya digunakan sebagai bumbu masakan atau diekstrak sarinya menjadi bahan baku kosmetika dan parfum, dan bagian biji dapat dimanfaatkan sebagai bumbu dapur. Adakalanya buah pala yang berdaging putih ini dimakan langsung seperti rujak, bagi yang tahan dengan rasa asam, buah pala ini menjadi kudapan yang nikmat, silakan dicoba.

Usai berkeliling di kebun pala, saya bertemu dengan dua orang anak Lonthoir. Sambil menjaga ternak mereka memunguti buah kenari yang banyak berjatuhan di kebun.  Kenari dijemur dan diambil bijinya. Kenari menjadi sumber daya alam paling terkenal di sini karena bisa diolah menjadi makanan ataupun minyak atsiri.

Rasa haus menyergap, namun bekal air sudah habis. “Kita minum air perigi saja” kata Pak Ali pemilik perahu motor yang kami sewa dari Naira. Terdapat perigi atau sumur dengan kedalaman sekitar 7 meter, dengan dua sumber mata air. Satu sumur wanita dan satu sumur pria, dan tidak boleh seorang pria mengambil sumur di bagian wanita, begitulah aturan yang berlaku.

Sumur ini dianggap sebagai sumur (perigi) keramat. Sumber air minum warga Lonthoir adalah dari sumur ini. Tanpa harus dimasak dahulu, air sudah siap diminum. Tak ragu lagi, saya pun turut meminum air perigi ini, dan membawanya dalam botol air. Setiap 10 tahun sekali diadakan upacara adat untuk mencuci perigi. Terakhir perigi dicuci pada tahun 1989.

Hari menjelang malam, perjalanan di hari kedua ini kami akhiri dengan makan malam sambil minum kopi di café. Tidak ada yang istimewa dari kopi banda ini, karena kopinya juga di datangkan dari Jawa. Namun jangan sampai ketinggalan merasakan panekuk dengan selai pala atau kayu manis yang lezat luar biasa, “Ini baru Banda”, aroma rempah dan kudapan rasa rempah. Selamat malam banda, mimpi indah saya hari ini pasti Sepia, jadoel ke zaman dahulu kala.

Bawah laut nan indah di aliran lava

Ada lima pulau utama di Bandanaira, selain pulau Naira, yakni Pulau Banda Besar, Pulau Ai, Pulau Run, Pulau Hatta dan Pulau Sjahrir . 

Terasa tak lengkap apabila hanya merasakan keindahan di daratan. Di hari terkahir ini kami bersiap menuju Pulau Syahrir dan akan menyaksikan keindahan bawah laut di sekitar Gunung Api.

Pulau Syahrir dikenal juga dengan sebutan Pulau Pisang. Dari pelabuhan Naira menuju pulau Syahrir hanya ditempuh selama 45 menit dengan perahu motor. Di beri nama pulau Syahrir karena saat pengasingan Bung Syahrir tahun 1935 beliau sempat tinggal di pulau ini. Suasana di pulau ini hampir sama dengan pulau lainnya di Bandanaira,  dipenuhi dengan pohon pala, kemiri dan kenari. Kerap kali saya menemukan hamparan fuli dan biji pala di depan rumah warga.  Apabila cuaca panas, bunga pala ini bisa kering 4-5 hari dan dijual Rp 135.000 perkilonya.

Kepulauan Banda menjadi salah satu titik penyelaman terbaik di dunia. Tahun 1980-an Lady Diana dan Pangeran Charles pun sempat menikmati keindahannya. Jangan khawatir, persewaan alat-alat menyelam tersedia di sini, Dive centre yang berada di Hotel Maulana memanjakan para penyelam. Sebenarnya, dengan menggunakan snorkel saja kita sudah dapat menikmati keindahan bawah laut karena airnya sangat bening, hampir 30 meter ke bawah masih bisa kita lihat dengan jelas, terutama di daerah aliran lava Gunung Api, ini adalah spot terbaik untuk  menikmati alam bawah laut. Gunung api yang meletus tahun 1988 itu menghasilkan lava dan alirannya mengalir menuju permukaan dan dasar laut.

Perkembangan terumbu karangnya disini terhitung sangat pesat, karena kurang dari 10 tahun sudah berkembang biak kembali dengan baik, sehingga mata saya pun begitu dimanjakan dengan terumbu karang aneka warna dan bentuk. Tak kalah menarik, ribuan ikan aneka warna berenang melintas di sela-sela kita.  Sungguh pengalaman yang luar biasa. Bandanaira indah di atas dan di bawah laut.

Jadwal penerbangan ke Ambon pukul 07.00, dengan berat harus mengakhiri perjalanan di Bandanaira.  Besar harapan agar tak ada gangguan karena cuaca buruk, agar penerbangan kami berjalan sesuai rencana. Saya bertemu kembali dengan Turnip sang pramugara, dengan sapaan ramah “Selamat pagi Bapak”, seperti orang sudah kenal bertahun-tahun. Pesawat mulai lepas landas, dan obrolan ringan mengalir sambil melihat Pulau Naira dari atas pesawat perintis ini.

“Saya mintakan izin ke pilot apakah diizinkan memotret dari ruang cockpit," kata Turnip. Tak berapa lama, sang pramugara melambaikan tangannya dan mempersilakan saya menyaksikan pemandangan Ambon dari ketinggian. Indah sekali, walau tetap dengan rasa was-was.

Selamat datang kembali di Ambon! Bandanaira dan perjuangan yang penuh makna, sejarah, semangat perjuangan, kecintaan pada negeri, telah saya dapatkan. Terima kasih sudah menjaga aset budaya dan sejarah negeri ini, sehingga saya dan mungkin anak cucu ke depan masih bisa menyaksikan saksi bisu perjuangan bangsa.

Catatan:

  • Jadwal penerbangan yang sudah di pesan untuk hari Jumat, terpaksa mengalami pengunduran karena alasan cuaca memburuk dari pihak maskapai. Sehingga jadwal berangkat Jumat kembali hari Senin, terpaksa berubah menjadi Sabtu hingga Senin.  Sebaiknya sediakan waktu lebih luang untuk kemungkinan adanya pengunduran jadual penerbangan kembali. Karena apabila Senin adalah penerbangan terakhir dari Bandanaira menuju Ambon, oleh karena cuaca buruk maka penerbangan yang hanya satu kali sehari ini tidak terbang. Dan harus menunggu hingga hari Jumat ke depan, namun apabila jadual kepulangan anda sesuai dengan berlayarnya Kapal Pelni (dua minggu sekali) itu berarti anda sedang beruntung
  • Setiap hari senin, pesawat dari Bandanaira akan singgah di Amahai (pulau Seram) sehingga yang berminat langsung ke pulau Seram bisa memilih kepulangan di hari Senin, namun jadual inipun bisa tidak pasti, seperti yang saya alami, jadual ke Amahai dari Bandanaira seketika batal dan langsung menuju Kota Ambon
  • Sewa perahu motor untuk satu hari berkeliling pulau berkisar Rp 300.000-400.000 melalui pemilik penginapan, namun apabila mau bernegosiasi langsung dengan pemilik perahu mungkin bisa lebih murah.
  • Wisata sejarah di Bandanaira dikenakan Rp 20.000 per orang, untuk sekali makan rata-rata Rp 25.000 per menu, kopi ataupun minuman hangat rata-rata 8000 per gelas.

Baca versi Bahasa Inggris di halaman selanjutnya (Read the English version on the next page).

KOMENTAR