Tinju Kanguru Liar, Pria Ini Bertaruh Nyawa Demi Selamatkan Anjingnya
2016 / Desember / 15   19:55

Tinju Kanguru Liar, Pria Ini Bertaruh Nyawa Demi Selamatkan Anjingnya

Video yang menampilkan adegan seorang pria meninju wajah kanguru liar menimbulkan pertanyaan tentang manusia vs alam.

Tinju Kanguru Liar, Pria Ini Bertaruh Nyawa Demi Selamatkan AnjingnyaAhli biologi sekaligus National Geographic explorer Marco Festa-Bianchet mengatakan, tindakan pria yang menyerang kanguru sangat berbahaya dan tak semestinya dilakukan. (National Geographic)

Video yang direkam Juni lalu, namun baru menjadi viral pekan ini, menampilkan pertemuan dramatis antara seekor kanguru jantan berukuran besar dan seorang pria di Australia.

Pria tersebut sedang berburu babi bersama anjingnya dan beberapa teman di pedalaman New South Wales. Dia melihat seekor kanguru berukuran besar memiting kepala anjing pemburunya. Pria 34 tahun bernama Greig Tonkins  ini, bergegas menolong anjingnya.

Karena terkejut, kanguru tersebut akhirnya membebaskan si anjing. Namun, Tonkins menuturkan  kepada media bahwa ia ingin mengusir kanguru itu dengan menakut-nakutinya dan memberi kesempatan anjingnya untuk mundur dengan memukul wajah binatang berkantung tersebut.

“Pria itu sangat beruntung, karena dia bisa saja terbunuh,” kata Marco Festa-Bianchet, National Geographic explorer  yang meneliti kanguru dan juga seorang ahli biologi di Université de Sherbrooke di Quebec.

Berlawanan dengan kepercayaan umum, kanguru-kanguru biasanya tidak mencoba untuk saling beradu tinju atau memukul, ujar Festa-Bianchet. Malahan, mereka cenderung berdiri menggunakan ekornya yang kokoh dan menendang lawan menggunakan kaki belakangnya yang kuat.

“Jika si kanguru sudah melakukan hal tersebut pada pria itu, mungkin saja akan mengeluarkan seluruh isi perutnya,” kata Festa-Bianchet.

Teknik lain yang kadang digunakan yaitu dengan mencoba mencakar mata lawan, dan juga dapat membuat Tonkins terluka parah.

Festa-Bianchet mengatakan, kanguru tersebut jelas merupakan seekor pejantan berukuran besar. Tingginya hampir mencapai dua meter dan mungkin beratnya sekitar 70 kg. Kemungkinan umurnya  9-15 tahun dan tengah berada di puncak hidupnya.

Kanguru jantan sering saling bertarung di alam liar untuk dapat mengawini para betina, terkadang hingga titik darah penghabisan. Meskipun begitu, biasanya sang jantan akan menyerah kepada penantang yang terlihat lebih kuat, dan sering menunjukkan sikap tunduknya dengan berpenampilan menarik atau membuat suara batuk.

“Saya yakin pukulannya menyakitkan,” kaya Festa-Bianchet. “Bisa Anda bayangkan jika kanguru itu berpikir seperti ‘whoa tadi itu apa?’ Itu bukan apa yang kanguru lain biasa lakukan dan pria itu tidak memberikan sinyal yang tepat. Ini terlihat lucu tetapi sebenarnya merupakan situasi yang membahayakan.”

“Setelah dipukul, kanguru tersebut pergi ke semak-semak tanpa terlihat luka,” kata Tonkins.

Apakah tonkins bertindak tidak semestinya?

Warga internet yang berkomentar atas video tersebut mengungkapkan kemarahan atas pukulan itu, dengan beberapa yang menanyakan mengapa Tonkins tidak menyerah saja, sesaat setelah kanguru itu melepaskan anjingnya.

“Pria itu jelas terpancing dan harus membuat keputusan cepat. Dia benar-benar merasa terancam oleh binatang itu dan ingin menyelamatkan anjingnya.,” kata Festa-Bianchet.

 “Tapi tetap saja, saya menyarankan untuk tidak melakukan hal itu,” tambahnya.

National Geographic tidak bisa menghubungi Tonkins untuk memperoleh pendapatnya. Apa yang memicu perkelahian antara anjing dan mamalia berkantung ini masih belum jelas, meskipun Festa-Bianchet berkata, bahwa kanguru biasanya melawan dingo (anjing liar Australia), yang sering kali memangsa mereka.

“Para kanguru sering melindungi diri mereka dengan cara bergulat dengan anjing di tanah, seperti yang anda lihat di dalam video,” ujarnya.

Tonkins sebenarnya bekerja di industri satwa liar dan menjabat sebagai staf penjaga di Taronga Western Plains Zoo. Pihak kebun binatang menyatakan bahwa mereka tengah menyelidiki insiden tersebut.

Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh kebun binatang itu disebutkan bahwa pekerjaan Tonkins tak terlalu berisiko. Dalam enam tahun mengemban tugasnya, Tonkins selalu mengikuti praktek pendekatan terbaik dalam perawatan dan kesejahteraan hewan.

“Bagaimana pun, standar tertinggi perawatan dan kesejahteraan hewan merupakan nilai utama Kebun Binatang Taronga, dan merupakan hal yang kami harapkan selalu dijunjung tinggi oleh staf kami dalam semua interaksi mereka dengan satwa liar.”

Pihak Taronga juga menekankan bahwa kebun binatang itu menentang penyerangan terhadap hewan dan tidak mendukung praktek penggunaan anjing untuk berburu, karena hal ini dapat memberikan dampak negatif pada kedua spesies.

Teman Tonkins angkat bicara dan mendukung aksinya, dan mengatakan bahwa Tonkins melakukan hal tersebut  sebagai perlindungan dirinya, anjingnya dan temannya.

Pemburuan invasif babi jantan, yang telah menyebabkan kerusakan ekologi Australia, sudah menjadi hal yang biasa di sana. Dalam beberapa kasus, pemburu menggunakan anjing untuk membekuk babi-babi itu dan kemudian mengakhirinya dengan pisau, tanpa menyentuh senjata api.

(Brian Clark Howard/National Geographic)

KOMENTAR