Saksikan Pelepasan 4.000 Katak Langka Ke Alam Liar Lewat Penerbangan Komersial

2016 / Desember / 13   18:45

Saksikan Pelepasan 4.000 Katak Langka Ke Alam Liar Lewat Penerbangan Komersial

Para penumpang tak menyadari bahwa mereka terbang bersama dengan katak jambul Puertorico, spesies yang dianggap telah punah dalam beberapa dekade terakhir.

Saksikan Pelepasan 4.000 Katak Langka Ke Alam Liar Lewat Penerbangan KomersialKatak jambul Puertorico (Peltophyrne lemur)adalah satu-satunya katak asli dari Puertorico, sekaligus spesies unik yang dinyatakan hampir punah pada abad ke-20. (Jan P. Zegarra, U.S. Fish and Wildlife Service via Wikimedia Commons)

Sejumlah penumpang penerbangan malam dengan tujuan San Fransisco menuju Puertorico pada akhir Oktober lalu “tidak ada yang tahu jika mereka terbang bersama dengan 4.000 katak yang terancam punah," kata Adam Fink. Dia adalah seorang ahli binatang sekaligus manager dari Kebun Binatang Oakland.

Berudu-berudu itu memilih bersembunyi di dalam sebuah peti kemas yang berada di palka pesawat ketimbang duduk pada tempat duduk yang tersedia atau di bagasi kabin.

Berudu-berudu tersebut mewakili harapan bagi katak jambul Puertorico (Peltophyrne lemur) yang terancam punah. Katak jambul Puertorico adalah satu-satunya katak asli dari Puertorico, sekaligus spesies unik yang dinyatakan hampir punah pada abad ke-20. Mereka lebih menyukai daerah kering atau kawasan karst semi-kering yang penuh batuan kapur, dan dapat diidentifikasi hanya dengan melihat kepala jambulnya yang unik.

Pada 20 Oktober silam, peti kemas yang berisi berudu-berudu itu dibuka dan dilepaskandangkan dengan hati-hati ke dalam kolam di dua hutan lindung nasional di Puertorico.

"Pelepasan ini akan membantu meningkatkan jumlah spesies katak jambul secara signifikan," ujar Fink, yang saat ini memimpin upaya pelestarian reptil dan binatang amfibi di Kebun Binatang Oakland.

Nama katak jambul Puertorico telah meredup karena munculnya spesies katak laut Puertorico dan spesies invasif lainnya. Spesies lain tersebut dapat memakan katak, berudu, serta mengalahkan mereka untuk mendapatkan sumber makanan. Katak Jambul juga pernah kehilangan habitatnya karena pembangunan dan produksi tebu yang intensif.

Para ilmuwan mengira bahwa spesies ini telah punah pada 1930-an, sampai pada akhirnya sejumlah populasi kecil ditemukan pada 1960-an. Sejak dibawa ke penangkaran, mereka berkembang-biak di sejumlah kebun binatang di Amerika Serikat dan Kanada. Beberapa dari kebun binatang itu terlibat dalam program pelestarian terpadu (difasilitasi oleh American Zoo and Aquarium Association), yang berupaya untuk mengembangkan keragaman genetik spesies dari katak yang tersisa.

Pada Oktober silam, sejumlah 11.000 berudu telah dilepaskan ke sebuah pulau. Mereka dikembangkan di Oakland Zoo dan tiga kebun binatang lain, yaitu North Carolina Zoo, Omaha Zoo, dan Sedgwick County Zoo di Wichita, Kansas.

Pertumbuhan Katak

Oakland Zoo memiliki fasilitas khusus untuk pelestarian katak. Sebuah spesies katak dipilih karena kelangkaannya dan memiliki probabilitas tinggi di antara komunitas sains (kebun binatang tersebut juga bekerja untuk beberapa spesies yang terancam punah di California). Kebun binatang ini memiliki 19 ekor katak jambul Puertorico yang sudah dewasa.

Ketika masanya untuk pembiakan—berdasarkan jadwal yang sudah terkoordinasi bersama kebun binatang lain—Fink memilih secara hati-hati setiap katak untuk di masukkan ke dalam lemari pendingin. Peralatan ini memiliki pengendali suhu yang baik, sehingga katak yang berdarah dingin dapat didinginkan secara bertahap. Ketika suhu tubuh mereka mencapai derajat 60-an dalam skala Fahrenheit, mereka akan mulai berhibernasi.

Setelah beberapa minggu, katak akan dihangatkan kembali secara bertahap. Proses tersebut membuat mereka terbangun. Selanjutnya, mereka akan ditempatkan di "ruang hujan", sebuah terarium dengan tanaman plastik dan substrat. Penyiraman dilakukan secara teratur dengan cara menurunkan hujan buatan agar suasana hati para binatang amfibi dapat terjaga.

Katak dipasangkan dengan calon pasangan yang memiliki potensi, biasanya mereka dikirim dari kebun binatang lain sebagai pinjaman dengan maksud untuk mengembangkan keragaman genetik mereka. Jika mereka cocok, si jantan akan membuahi telur si betina. Dalam beberapa hari telur-telur tersebut akan menetas menjadi berudu, yang nantinya dapat dengan mudah dijaring.

Ketika menghitung jentik-jentik kecil, Fink menempatkan berudu dalam kolam yang dangkal dan mengambil gambar mereka. Dengan menggunakan spidol, ia menghitung setiap gambar yang diambil. Baru-baru ini, ia menghitung terdapat 4.096 buah jentik-jentik, jumlah yang meningkat dari jumlah tahun sebelumnya, yaitu 732 buah. Lalu, berudu-berudu itu dikemas dan diantar ke bandara.

"Kami sangat beruntung dapat mengirimkan mereka lewat penerbangan komersial," ujar Fink.

 Masa Depan Penuh Harapan

Fink berharap katak-katak tersebut akan mulai kembali menjumpai kehidupanya yang semula dan menata kembali hidup mereka seiring berjalannya waktu. Walaupun demikian, selalu terdapat ancaman dari spesies yang bersifat menyerang dan membatasi habitat mereka. Namun, pengelola satwa liar sekarang lebih sadar dengan ancaman-ancaman tersebut.

Spesies ini tampaknya tidak rentan terhadap serangan jamur chytrid, yang menyerang banyak binatang amfibi di seluruh dunia.

Katak dan kodok berperan penting dalam kelangsungan ekosistem mereka. Fink menambahkan bahwa mereka bermanfaat untuk mengendalikan keberadaan serangga sebagai sumber makanan bagi satwa yang lebih besar.

Sejumlah katak dan kodok langka telah diabadikan dalam foto yang diambil oleh Joel Sartore melalui proyek Photo Ark yang didukung oleh National Geographic Society.

"Tanpa program pengenalan kembali, spesies ini mungkin akan punah," ungkap Fink. "Melihat satwa-satwa ini dilepas dan ternyata kami memiliki dampak besar terhadap spesies ini, itulah sebab saya terjun ke dalam pekerjaan semacam ini."

(Brian Clark Howard/National Geographic)

KOMENTAR