Kode Warna dalam Gender
2016 / Desember / 28   16:10

Gender

Kode Warna dalam Gender

Terpesona oleh obsesi awal putrinya dengan warna jambon, seorang fotografer mengeksplorasi dua warna yang sangat berpengaruh itu.

Kode Warna dalam GenderJiwon kecil—yang berusia empat tahun ketika foto ini diambil tahun 2008—membaur ke dalam lautan benda warna jambon di rumahnya di Goyang, Korea Selatan. (Jeongmee Yoon via National Geographic)

Ketika berusia lima tahun, putri Jeongmee Yoon hanya ingin menggunakan warna jambon. Yoon, seorang fotografer asal Korea Selatan, mengetahui bahwa preferensi anaknya itu juga dimiliki oleh banyak gadis kecil lainnya. Tetapi Yoon begitu penasaran dengan kecenderungaan yang tampaknya universal itu sehingga dia memulai “Pink and Blue Project,” rangkaian fotografi tanpa henti dari dua warna yang paling sering diasosiasikan dengan anak perempuan dan anak laki-laki di seluruh dunia.

“Saya ingin mengetahui sampai sejauh mana anak-anak dan orangtua mereka, secara sadar ataupun tidak, dipengaruhi oleh iklan dan budaya populer,” kata Yoon. “Biru telah menjadi simbol kekuatan dan maskulinitas, sementara jambon melambangkan hal-hal yang manis dan femininitas.”

Menurut Jo Paoletti profesor studi Amerika dari Universitas Maryland, menghubungkan gender dengan warna-warna ini adalah hal yang relatif baru. Pada abad ke-19, warna-warna pastel dianggap bergaya di sebagian besar Eropa dan Amerika Serikat, dan digunakan “untuk mencerahkan warna kulit, bukan untuk menyatakan gender,” katanya. Ia mengungkapkan pada awal abad ke-20, perbedaan gender dalam warna pakaian mulai muncul—dan pada 1940 warna jambon serta biru mulai mengakar kuat sebagai warna yang terkait gender dan terus begitu sampai hari ini.

Ethan, usia lima tahun, ...Ethan, usia lima tahun, mengenakan jubah Superman untuk foto tahun 2006 dalam kamar penuh warna biru di Queens, New York. (Jeongmee Yoon via National Geographic)

Amerika Serikat telah memberikan kontribusi cukup signifikan terhadap fenomena “jambon untuk anak perempuan dan biru untuk anak laki-laki,” ungkap Paoletti. Itu dipicu oleh palet warna yang lazim dari boneka Barbie, film-film pahlawan super, dan bahan pokok lain dari masa kanak-kanak warga Amerika, katanya. Dan itu memiliki semacam kekuatan budaya ciri khas yang serupa dengan "ide-ide tradisional tentang jenis kelamin, gender, dan seksualitas."

Sejak Yoon memulai "Pink dan Biru Project"-nya pada 2005, ia telah mengamati bahwa selera warna anak-anak sering berubah dengan bertambahnya usia mereka, biasanya sekitar kelas tiga atau empat. Misalnya, ketika Yoon memotret Maia (kanan) pada usia delapan  tahun di rumahnya di Hempstead, New York, gadis itu mulai menjauh dari warna jambon dan tertarik pada warna-warna lain, termasuk ungu.

(Catherine Zuckerman/National Geographic)

KOMENTAR