Hewan Ini Membuat Jubah Gaib Sendiri untuk Melindungi Diri

2016 / Desember / 14   13:50

Hewan Ini Membuat Jubah Gaib Sendiri untuk Melindungi Diri

Di laut terbuka, tak ada tempat untuk bersembunyi. Satu-satunya cara untuk berkamuflase ialah dengan membuat tubuh semirip mungkin dengan air di sekeliling.

Hewan Ini Membuat Jubah Gaib Sendiri untuk Melindungi DiriCystisoma memiliki tubuh yang sebagian besar transparan untuk menyamarkan diri dari predator. Selain itu, mereka juga mengandalkan lapisan anti-reflektif untuk membuat mereka lebih sulit dilihat. (David Littschwager/National Geographic)

Kehidupan di bawah laut bisa menjadi jahat, kasar, dan singkat jika Anda tidak memiliki bentuk kamuflase yang efektif. Kulit sotong, misalnya, mengandung sekitar sepuluh juta sel warna, yang memungkinkan hewan tersebut meniru sepotong karang, rumpun ganggang, atau  pasir.

Tetapi hewan-hewan yang tinggal di laut terbuka tak memiliki tempat untuk bersembunyi. Bagi mereka, kamuflase warna terbaik ialah tanpa warna sama sekali. Tubuh yang transparan memungkinkan mereka menyaru dengan lingkungan air di sekelilingnya.

Saat ini, ilmuwan menemukan beberapa hewan yang memiliki trik macam penyihir: jubah gaib. jubah anti refleksi yang membuat mereka hampir tak terlihat.

“Mereka sangat sulit dilihat ketika berada di dalam air,” kata Laura Bagge, ahli biologi laut dan mahasiswa doktoral di Duke University.

“Satu-satunya hal yang membuat mereka terlihat adalah mata mereka. Retinanya terpigmentasi, itulah cara mereka mengumpulkan cahaya,” katanya.

Bagge merupakan ahli krustasea tak terlihat, terutama predator yang dikenal sebagai hyperiidea dari ordo amphipods. Mereka masih berkerabat dengan kutu pasir, bedanya mereka dapat tumbuh hingga 17 cm dan tampak lebih menyeramkan. Bahkan, salah satu spesiesnya, Phronima sedentaria, dikabarkan menjadi inspirasi karakter ratu alien menyeramkan dalam film Aliens yang rilis pada 1986 silam.

Ketertarikan Bagge terhadap hewan kasat mata bermula ketika ia melakukan kontak langsung dengan hewan-hewan tersebut. Saat itu, ia tengah mengumpulkan spesimen di atas kapal penelitian.

Bagge penasaran mengapa krustasea ini sangat sulit untuk dilihat. Meskipun transparansi merupakan mekanisme kamuflase yang bagus, itu tidak membuat objek menjadi tak terlihat sama sekali. Sebab, ketika bertemu dengan objek transparan, tak semua cahaya dapat melewatinya. Beberapa cahaya memantul kembali, sehingga memungkinkan kita melihat beberapa detail, seperti bentuk dan ukuran.

“Meskipun berada di laut terbuka, penyamaran hyperiidea transparan bisa terbongkar oleh cahaya matahari atau bulan yang bersinar dari atas. Sebab, refleksi apa pun yang mengenai objek dari atas akan membuat objek tersebut benar-benar cerah dibanding latar belakang yang lebih gelap,” tambah Bagge.

Hyperiidae juga rentan terancam oleh predator tertentu, seperti Grammatostomias flagellibarba, ikan naga laut dalam yang menggunakan sorot bioluminescent untuk berburu makanan.

Setelah mempelajari tujuh jenis hyperiidae, Bagge menemukan satu spesies, yaitu Cystisoma, yang kakinya diselimuti oleh struktur super kecil yang disebut nano protuberance.

Ketika Bagge membuat simulasi pencahayaan di laut dengan model komputer, ia menemukan bahwa nano protuberance dapat mengurangi refleksi di permukaan hingga beberapa kali lipat.

“Struktur itu sejenis karpet berbulu. Berfungsi untuk meredam refleksi dengan cara yang sama seperti karpet studio rekaman yang melembutkan gelombang suara,” ujar Bagge.

Bagge tidak menemukan nano protuberances di antara spesies lain yang ia pelajari, namun ia menemukan sesuatu yang sama menariknya: lapisan bola mikroskopis yang menyelimuti tubuh hyperiidae. Bagge meyakini bahwa bola-bola mikro tersebut merupakan organisme hidup.

“Kami memiliki gambar bakteri pada mikroskop elektron, dan mereka terlihat sangat mirip dengan bakteri. Seperti layaknya bakteri, bola-bola mikro itu juga bereproduksi dengan membelah diri,” lanjutnya.

Dengan menggunakan model komputer, Bagge mengukur sifat bola mikro tersebut dan menemukan bahwa mereka bisa mengurangi pantulan cahaya hingga empat kali lipat. Ia menduga kedua organisme tersebut memiliki hubungan simbiosis mutualisme: krustasea mendapatkan jubah anti-refleksi, sementara bakteri mendapatkan rumah yang selalu bergerak.

Bagge berencana untuk melanjutkan penelitiannya dan mengumpulkan lebih banyak spesimen. Tugas yang benar-benar menantang, karena hewan-hewan ini hampir bisa dikatakan tak kasat mata. 

(Lutfi Fauziah. Sumber: Mark Strauss/National Geographic)

KOMENTAR