2016 / Desember / 9   11:52

Dibalik Kisah Para Pengantin Cilik Georgia

Terjadinya pernikahan para gadis berusia 12 tahun menjadikan Georgia menduduki peringkat tertinggi untuk tingkat pernikahan anak usia dini di Eropa.

Dibalik Kisah Para Pengantin Cilik GeorgiaSeorang pengantin perempuan Georgia-Azeri yang berusia 17 tahun dari daerah Kakheti sedang menunggu mempelai prianya tiba pada hari pernikahan mereka. Ia dan suaminya yang akan genap berusia 22 tahun dipertemukan satu bulan sebelum hari pertunangan mereka diumumkan. (DARO SULAKAURI, via Nationalgeographic.com)

Teman-teman kelas mempelai ...Teman-teman kelas mempelai perempuan datang berkunjung sebelum pernikahan dimulai untuk memuji gaunnya. (DARO SULAKAURI, via Nationalgeographic.com)

Di sebuah salon di desanya, ...Di sebuah salon di desanya, sang mempelai perempuan sedang bersiap untuk upacara pernikahannya. (DARO SULAKAURI, via Nationalgeographic.com)

Seorang pengantin perempuan ...Seorang pengantin perempuan berusia 17 tahun pergi meninggalkan rumahnya untuk upacara pernikahan. Ia bertemu mempelai prianya satu bulan sebelum hari pertunangan mereka diumumkan. (DARO SULAKAURI, via Nationalgeographic.com)

Para remaja laki-laki menonton ...Para remaja laki-laki menonton pesta pernikahan dari mobil mereka. (DARO SULAKAURI, via Nationalgeographic.com)

Ketika para teman-teman dan ...Ketika para teman-teman dan anggota keluarganya sedang berdansa di sekitarnya, seorang pengantin perempuan berusia 17 tahun menangis sementara tangannya memegang hadiah berupa uang. (DARO SULAKAURI, via Nationalgeographic.com)

Mempelai pria dan wanita sedang ...Mempelai pria dan wanita sedang melangkahi seekor bangkai domba. Domba tersebut disembelih sebagai bagian dari ritual pernikahan. (DARO SULAKAURI, via Nationalgeographic.com)

Sepasang pengantin muslim ...Sepasang pengantin muslim ketururan Geogia-Azeri sedang berpose di depan sebuah masjid saat hari pernikahan mereka. Mereka bertemu satu bulan sebelum hari pertunangan mereka diumumkan. Mempelai wanitanya berusia 17 tahun sementara sang mempelai pria berusia 22 tahun. (DARO SULAKAURI, via Nationalgeographic.com)

Tak ada seorang pun yang tahu pasti berapa banyak perempuan dibawah umur yang akan menikah di Georgia

United Nations Population Fund memiliki beberapa catatan yang menunjukkan bahwa setidaknya ada sekitar 17 persen dari populasi perempuan di Georgia yang menikah dibawah usia 18 tahun. Sementara usia menikah yang sah secara hukum di Georgia adalah 18 tahun. Namun, hal itu menjadi sulit ditelusuri ketika terkadang para keluarga mencoba untuk mengindari hukum dengan cara menyembunyikan surat pernikahan mereka selama beberapa tahun. Biasanya, mereka melaksanakan pernikahan di masjid atau gereja pedalaman. Selain itu, mereka juga memilih untuk menikah resmi secara adat dan agama.

Daro Sulakauri seorang jurnalis foto yang tumbuh besar di Georgia, mengingat salah satu teman sekelasnya menikah ketika usia mereka baru 12 tahun. "Saya merasa cemas," kenangnya. "Saya merasa seperti ada sesuatu yang salah. Tetapi saya tidak mengerti apa itu."

Perasaan tersebut datang kembali ketika ia mulai meneliti isu-isu perempuan di Georgia setelah ia menerima hibah dari Human Rights House Network. Mengingat teman sekelasnya, Ia mulai bertanya-tanya pada orang sekitar mengenai pernikahan dini. Setelah itu, ia menerima sebuah undangan pernikahan di sebuah desa kecil. Pada akhir upacara tersebut ia melihat mempelai wanita mulai menangis.

"Sangat sulit untuk meceritakan perasaan wanita itu," kata Sulakauri. "Apakah dia sedih? Apakah dia senang? Bagi saya, dia sangat bingung saat itu. Jadi itu sebabnya saya mulai menyadari bahwa saya sangat ingin bercerita tentang ini."

Mari, seorang gadis berusia 15 ...Mari, seorang gadis berusia 15 tahun yang tinggal di Adjara. Kebanyakan perempuan seusianya keluar dari sekolah untuk menikah. Neneknya percaya itu adalah sebuah tradisi yang harus dilalui. (DARO SULAKAURI, via Nationalgeographic.com)

Si kembar Monika dan Laura, ...Si kembar Monika dan Laura, tinggal di Kakheti. Mereka lahir ketika ibunya baru berusia 14 tahun. (DARO SULAKAURI, via Nationalgeographic.com)

UNICEF menyebutkan bahwa pernikahan anak usia dini adalah pelanggaran yang mendasar pada hak asasi manusia, dan Georgia mencapai angka tertingi dalam tingkat pernikahan anak usia dini di Eropa. Inilah tradisi yang telah kembali setelah berabad-abad lamanya dan kejadian ini tidak hanya terbatas pada satu daerah maupun agama. Sementara itu, alasan-alasan berbeda ditemukan dari satu kota ke kota lainnya dan dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Ada beberapa kesamaan. Hampir semua mempelai pria terlihat lebih tua dari mempelai wanitanya, mereka sudah menyelesaikan pendidikannya, dan usia mereka sudah sah secara hukum. Biasanya, ibu dari mempelai pria yang akan memulai proses perjodohan. Namun, Sulakauri menemui beberapa pasangan bertemu semasa mereka sekolah atau bertemu lewat dunia maya. Meskipun para gadis tidak selalu dipaksa untuk menikah, tekanan budaya yang ada sangatlah kuat.

Di Adjara, Tamro yang berusia ...Di Adjara, Tamro yang berusia 14 tahun sedang menari di pesta pertunangan kakaknya. Merupakan hal yang umum bagi seorang gadis seusianya untuk menikah, namun Taro ingin menyelesaikan sekolahnya terlebih dahulu. (DARO SULAKAURI, via Nationalgeographic.com)

"Mereka adalah tipe orang yang cenderung mengikuti arus," kata Sulakauri. "Karena leluhurnya melakukan hal yang sama, begitu pula nenek dan ibu mereka menikah di usia yang sangat muda. Jadi, mereka berpikir begitu lah kehidupan, dan seperti itulah sebuah kehidupan yang seharusnya."

Orang-orang yang ada dalam foto-foto Sulakauri adalah keturunan Georgia Azeri. Georgia Azeri adalah salah satu anggota dari sebuah etnis dan agama kaum minoritas. Adalah Layla, salah seorang pengantin anak yang Sulakauri pernah ia temui. Usianya baru 12 tahun ketika ia menikah dan ia tinggal bersama keluarga suaminya. Ketika mereka pertama bercakap-cakap, Sulakauri teringat kisah Layla dalam benaknya. Layla adalah orang yang sangat terbuka. "Dia punya semua mimpi-mimpi tentang masa depan, mimpi tentang apa yang ia inginkan, seperti penata gaya," katanya. "Dia ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan dia ingin melakukan semua hal yang ia impikan."

Para wanita dan gadis sedang ...Para wanita dan gadis sedang beristirahat dari sebuah pesta pertunangan di Adjara. (DARO SULAKAURI, via Nationalgeographic.com)

Setahun kemudian, Sulakauri berhubungan lagi dengan Layla dan ketika itu hal-hal menjadi berbeda. "Dia telah menjadi seorang ibu rumah tangga di usia 13," katanya. "Dia dipastikan tidak akan pergi ke sekolah. Semacam, hal itu telah usai dalam hidupnya."

"Tidak hanya putus sekolah yang akan berdampak pada gadis-gadis ini selamanya. Pendidikan seks hampir tidak ada di Georgia. Sulakauri juga mengatakan bahwa beberapa gadis tidak mengerti apa yang diperlukan untuk sebuah pernikahan sampai hari pernikahan mereka berlalu. Sebuah Survei Kesehatan Reproduksi pada tahun 2010 mengungkapkankan bahwa, sekitar 76,6 [persen] wanita menikah pada saat berusia 15 sampai 19 tahun tanpa menggunakan metode kontrasepsi modern." Tidak mengherankan bila setelah itu banyak pengantin muda yang cepat hamil setelah pernikahan mereka. Hal itu dapat menyebabkan berbagai macam masalah kesehatan bagi tubuh mereka yang masih dalam perkembangan.

Wilayah Adjara dikenal karena ...Wilayah Adjara dikenal karena pemandangan pegunungannya. Sayangnya, banyak pernikahan dini yang berlangsung di wilayah tersebut. (DARO SULAKAURI, via Nationalgeographic.com)

Ketika Sulakauri bertemu dengan gadis-gadis ini, ia tidak bisa untuk tidak memikirkan masa kecilnya sendiri. "Itu sangat berbeda," katanya. "Saya adalah anak kecil selama saya bisa menjadi anak kecil, kau tahu?" Jika pekerjaannya tidak dapat menganugerahi masa kecil yang sama bagi mempelai wanita tersebut, ia berharap hal ini bisa menjadi masa depan untuk orang lain.

"Saya ingin menunjukkan pada orang-orang di negara saya bahwa hal ini sudah terjadi. Hal ini dapat menyebabkan perubahan. Mungkin mereka akan mulai berbicara tentang hal ini. "Mungkin hal ini tidak boleh terjadi. Mungkin ini masih terlalu dini."

(Duta Yanuar Fauzan. Sumber: Melody Rowell/nationalgeographic.com)

KOMENTAR