Citah Berada di Ambang Kepunahan
2016 / Desember / 28   14:00

Citah Berada di Ambang Kepunahan

Saat ini, hanya tersisa 7.100 citah di alam liar. Jumlah tersebut menurun drastis dari tahun 1975, yang saat itu, populasinya masih berkisar 14.000 individu.

Citah Berada di Ambang KepunahanSeekor induk cheetah dan dua anaknya di Kenya. (Frans Lanting/National Geographic)

Mamalia darat tercepat di dunia, citah, berada di ambang kepunahan. Hasil sensus terbaru menunjukkan bahwa kucing besar yang populasinya tinggal sedikit di alam liar, akan menurun hingga 53 persen dalam 15 tahun ke depan.

Saat ini, hanya tersisa 7.100 citah di alam liar, demikian menurut studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences. Jumlah tersebut menurun drastis dari 14.000 individu di tahun 1975, ketika para peneliti membuat perhitungan komprehensif terakhir dari hewan di seluruh benua Afrika.

“Ini benar-benar berbahaya, karena populasi citah menurun secara aktif, dan kita semua harus bertindak mengatasinya,” kata Luke Hunter, presiden Panthera, organisasi konservasi kucing liar global.

Selain itu, citah juga telah tersingkirkan dari hampir 91 persen wilayah yang seharusnya menjadi habitat mereka. Dulu, kucing besar tersebut bisa ditemukan hampir di seluruh Afrika dan sebagian besar Asia, namun kini hewan malang itu hanya bisa ditemukan terbatas di enam negara Afrika: Angola, Namibia, Zimbabwe, Botswana, Afrika Selatan, dan Mozambik. Spesies ini hampir punah di Asia, dan hanya ada kurang dari 50 individu yang tersisa di area terisolasi di Iran.

Berdasarkan hasil ini, penulis studi menyerukan agar status konservasi citah di daftar merah IUCN diubah dari “rentan” menjadi “terancam punah”.

“Ketika mengalami penurunan secepat ini, maka kepunahan karnivora besar ini menjadi kemungkinan yang nyata,” tambah Hunter.

Ancaman ganda

Seekor cheetah Asia melintas di ...Seekor citah Asia melintas di Miandasht Wildlife Reserve di Iran. (Frans Lanting/National Geographic)

Seperti yang sudah dapat diduga, manusia mungkin menjadi penyebab utama mengapa citah berada dalam bahaya. Seperti karnivora besar lainnya, citah telah kehilangan sebagian besar habitatnya karena konversi hutan menjadi lahan agrikultur atau peternakan. Manusia juga kerap membunuh citah jika mereka menganggap hewan tersebut sebagai ancaman terhadap ternak mereka, meskipun citah sebenarnya jarang memangsa hewan peliharaan.

Citah juga terancam oleh perburuan liar yang bertujuan untuk mendapatkan kulit, taring dan bagian tubuh mereka yang lain. Selain itu, hewan-hewan yang menjadi mangsa mereka seperti rusa, impala, antelop dan babi hutan juga diburu habis-habisan oleh manusia.

“Citah menghadapi ancaman ganda: mereka dibunuh langsung, dan mangsa mereka di area sabana juga dibunuh, sehingga mereka tak punya apa-apa untuk bertahan hidup,” ujar Hunter.

Ancaman lainnya termasuk tingginya permintaan atas citah sebagai hewan peliharaan, terutama di Timur Tengah, yang mengakibatkan perdagangan ilegal anak-anak citah dari Afrika Utara kian marak.

Percepatan konservasi

“Beberapa citah telah hidup di kawasan lindung seperti taman nasional, yang lebih aman, mudah diakses, dan ancaman terhadap hewan berkurang,” kata Sarah Durant dari Zoological Society of London.

Tetapi selama penilaian terbaru, Durant dan rekan-rekannya menemukan bahwa dua pertiga populasi citah hidup di luar kawasan lindung ini karena hewan tersebut butuh ruang yang lebih luas untuk menjelajah.

Keluarga cheetah beristirahat ...Keluarga citah beristirahat bersama di Masai Mara National Reserve di Kenya. (Frans Lanting/National Geographic)

“Kami tidak dapat menampung lebih banyak citah di kawasan lindung, karena kepadatan populasinya sudah mencapai tingkat maksimum. Kelangsungan hidup citah di luar kawasan lindung menjadi kunci kelestarian hewan tersebut dari kepunahan,” ucap Durant.

Karena itulah, para peneliti dan konservasionis dari Panthera, Zoological Society of London, dan Wildlife Conservation Society berharap hasil studi mereka bisa memacu IUCN untuk mengklasifikasikan kembali status konservasi citah menjadi “terancam punah”.

Untuk menumbuhkan dan melindungi populasi citah di beberapa area seperti Afrika Barat atau Tengah, tempat kucing besar ini menurun drastis, mungkin sudah terlambat. Tetapi masih ada potensi besar bagi populasi citah untuk pulih dengan cepat di wilayah lainnya.

Status konservasi yang baru akan memberikan senjata bagi kelompok-kelompok konservasi untuk mencoba membalikkan tren yang mempengaruhi citah. Misalnya, perubahan itu dapat membuka aliran dana untuk keperluan konservasi yang hanya tersedia bagi spesies terancam punah. Selain itu, juga membuka peluang bagi para konservasionis untuk bekerja sama dengan pemerintah Afrika tentang program konservasi citah.

“Kami benar-benar berharap dapat meningkatkan cara berpikir out of the box untuk pelestarian citah dan habitatnya, melihat lebih jauh melampaui sistem kawasan lindung, melibatkan masyarakat untuk mendukung konservasi, dan memastikan bahwa kita memiliki kerangka kebijakan dan kebijakan finansial di kawasan tersebut, sehingga masyarakat bisa mendapatkan manfaat dari konservasi,” pungkasnya.

(Lutfi Fauziah. Sumber: Alexandra Petri/National Geographic)

KOMENTAR